logo

Jokowi: Penting, Aksi Konkrit Global Atasi Masalah Energi Dan Perubahan Iklim

Jokowi: Penting, Aksi Konkrit Global Atasi Masalah Energi Dan Perubahan Iklim

Foto: BPMI Setpres.
18 September 2021 22:49 WIB
Penulis : Pudja Rukmana

SuaraKarya.id - JAKARTA: Sekarang ini dunia tengah menghadapi situasi sulit, khususnya di sektor energi dan perubahan iklim. Masalah ini tidak dapat ditangani hanya oleh satu negara saja, melainkan perlu aksi konkrit skala besar untuk mengatasinya secara bersama-sama.

Demikian disampaikan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam pidatonya pada pertemuan Major Economies Forum on Energy and Climate (MEF) 2021 melalui konferensi video dari Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Jumat (17/09/2021) malam. “Kredibilitas, khususnya aksi konkret, sangat krusial,” ujar Presiden dikutip dari laporan BPMI Setpres di laman resmi Setkab, Sabtu (18/09/2921).

Dalam pertemuan tersebut, Presiden menyampaikan komitmen Indonesia untuk berkontribusi dalam menghadapi situasi darurat tersebut. Dari sektor energi, pemerintah telah mencanangkan transformasi menuju energi baru dan terbarukan, serta akselerasi ekonomi berbasis teknologi hijau bulan Agustus lalu.

Untuk mewujudkan transformasi ini, Indonesia telah menyusun strategi peralihan pembangkit listrik dari batu bara ke energi baru terbarukan. "Kemudian,  mempercepat pembangunan infrastruktur energi baru terbarukan yang didukung pelaksanaan efisiensi energi, meningkatkan penggunaan biofuels, dan mengembangkan ekosistem industri kendaraan listrik,” tuturnya.

Menurut Presiden, Indonesia telah menargetkan netral karbon (Net Zero) pada tahun 2060 dengan kawasan percontohan yang masih terus dikembangkan. “Termasuk pembangunan Green Industrial Park seluas 20 ribu hektare, terbesar di dunia, di Kalimantan Utara,” ujarnya.

Lebih jauh Presiden mengatakan bahwa kemitraan global sangat diperlukan karena transisi energi bagi negara berkembang membutuhkan pembiayaan dan teknologi yang terjangkau. “Kami membuka peluang kerja sama dan investasi bagi pengembangan bahan bakar nabati, industri baterai litium, kendaraan listrik, teknologi carbon, capture, and storage, energi hidrogen, kawasan industri hijau, dan pasar karbon Indonesia,” ungkapnya. 

Secara khusus Kepala Negara menyampaikan dukungannya terhadap Global Methane Pledge atau ikrar aksi bersama yang bertujuan mengurangi 30 persen emisi metana global pada tahun 2030. Presiden menyebut, Global Methane Pledge dapat menjadi momentum penguatan kemitraan dalam mendukung kapasitas negara berkembang. 

“Bersama Amerika Serikat dan 45 negara lainnya, Indonesia juga telah bergabung dalam Global Methane Initiative. Pengurangan emisi metana telah masuk dalam Nationally Determined Contribution (NDC) Indonesia,” ujarnya.

Dukung Saran Biden

Presiden Jokowi menjadi satu dari sepuluh kepala negara atau kepala pemerintahan yang mengikuti MEF 2021 secara virtual, Jumat (17/09/2021). Presiden mengikuti forum tersebut dari Istana Kepresidenan Bogor bersama negara-negara utama untuk bersama-sama membahas masalah energi dan perubahan iklim.

Selain sepuluh kepala negara/ kepala pemerintahan, forum ini juga dihadiri sejumlah organisasi multilateral. Di antaranya adalah Presiden Komisi Eropa, Presiden Dewan Eropa, serta Sekretaris Jenderal PBB.

Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) Mahendra Siregar menjelaskan Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden telah mengundang sejumlah negara-negara utama untuk hadir pada pertemuan pembahasan masalah energi dan perubahan iklim. 

"Dan, pada kesempatan malam ini Bapak Presiden adalah salah satu dari hanya sepuluh kepala pemerintahan lainnya yang hadir dan berbicara dalam pertemuan melalui virtual setting,” ujarnya seusai mendampingi Presiden dalam acara tersebut dalan tayangan di YouTube Sekretariat Presiden.

 

Pertemuan MEF bertujuan untuk menggalang kerja sama negara-negara utama untuk melakukan  langkah-langkah konkret yang ambisius guna mewujudkan ambisi ataupun target dari pertemuan Conference of Parties (COP26) di Glasgow bulan November mendatang. 

Menurut Wamenlu, pertemuan Glasgow mendatang secara spesifik untuk memastikan bahwa perubahan suhu dunia tidak akan melebihi satu setengah derajat Celsius. Dalam konteks itu, yang menjadi satu fokus utama adalah penyampaian Nationally Determined Contribution (NDC), yaitu komitmen masing-masing negara untuk mengatasi masalah  perubahan iklim. Adapun fokus dari pertemuan malam ini adalah terkait dengan transisi ke energi baru dan terbarukan. 

Selain itu, Presiden Biden juga mengundang para peserta yang hadir pada pertemuan ini untuk mendukung global methane pledge, yaitu kesepakatan atau suatu janji bersama untuk juga mengatasi emisi yang disebabkan oleh gas metan. Terkait hal itu, Presiden Jokowi mendukung usulan dan permintaan Presiden AS Joe Biden.

Namun Presiden Jokowi juga   menyarankan agar seluruh prosesnya dilakukan secara terbuka melalui mekanisme yang transparan dan bersifat partisipatif. "Dalam konteks Indonesia sendiri, penurunan gas metan sudah dicakup di dalam NDC Indonesia yang juga sudah di-update dan disampaikan kepada PBB ataupun UNFCCC,” katanya. 

 

Turut hadir mendampingi Presiden dalam acara tersebut adalah Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marinves) Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLH) Siti Nurbaya Bakar, dan Wamenlu Mahendra Siregar. ***

Editor : Pudja Rukmana