logo

Keperilakuan

Keperilakuan

20 September 2021 00:01 WIB

SuaraKarya.id -  

 

Oleh: Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi

Keputusan suatu pembelian didasari faktor individu yang cenderung berperilaku afektif (pleasure - arousal - dominance). Pleasure mengacu tingkat dimana individu merasakan lebih baik, penuh kegembiraan, bahagia atau puas dalam suatu situasi. Arousal mengacu tingkat dimana individu merasakan tertarik, siaga atau aktif dalam situasi dan dominance ditandai perasaan yang direspons konsumen saat mengendalikan atau dikendalikan oleh lingkungan.

Fakta ini membuat konsumen merasa memiliki pengalaman belanja, yang bisa dikelompokkan menjadi 3 yaitu hedonic shopping value, resources expenditure dan utilitarian shopping value. Hedonic shopping value mencerminkan pembelian dan emosi dari pembelian itu, resources expenditure digunakan untuk menaksir waktu pengeluaran, sumber pengeluaran dan interaksi sosial, utilitarian shopping value yang mencerminkan kegiatan pembelian dengan suatu mentalitas pekerjaan.

Keputusan pembelian yang dilakukan belum tentu direncanakan, terdapat pembelian yang tak direncanakan (impulsive buying) akibat adanya rangsangan lingkungan belanja. Implikasi lingkungan belanja terkait perilaku pembelian mendukung asumsi bahwa jasa layanan fisik menyediakan lingkungan yang bisa mempengaruhi perilaku, dihubungkan dengan karakteristik lingkungan konsumsi fisik. Secara spesifik, dokumentasi mengenai suasana lingkungan belanja serta lingkungan retail dapat mengubah emosi konsumen.

Perubahan emosi ini mengubah suasana hati konsumen yang mempengaruhi keduanya yaitu perilaku pembelian dan evaluasi tempat belanja konsumen. Lingkungan belanja dan suasana hati dapat mempengaruhi seseorang melakukan pembelian tidak terencana. Psikolog lingkungan menyatakan individu bereaksi dalam dua perilaku; mendekat dan menghindar (approach and avoidance). Perilaku mendekat (approach behavior) meliputi semua aksi perilaku positif yang diarahkan pada suatu tempat tertentu, seperti keinginan untuk tinggal, menyelidiki, bekerja, dan bergabung, sedangkan perilaku menghindar (avoidance behavior) mencerminkan kebalikan dari perilaku positif.

Masih banyak contoh menunjuk situasi yang tidak menguntungkan konsumen. Baik dari diri atau di luar dirinya. Belum lagi sistem kemasyarakatan dan kebiasaan, yang dalam beberapa hal ditafsirkan sebagai "budaya konsumen". Oleh karena masalahnya sangat kompleks, sungguh bukan hal sederhana berbicara mengenai pemberdayaan konsumen.

Oleh karena itu, sangat beralasan jika pemberdayaan atau pendidikan konsumen perlu digencarkan juga peran YLKI. Lembaga ini haruslah membentuk jaringan (networking) baik dengan masyarakat, lembaga pendidikan, media massa, maupun lembaga swadaya masyarakat sejenis.Masih pula terdapat hal lain, yakni gerakan advokasi, baik kepada pengusaha/produsen maupun penguasa, khususnya para pengambil kebijakan publik.

Berbicara mengenai konsumen, tidak punya cara lain kecuali menganjurkan sebanyak mungkin konsumen yang dirugikan menulis atau melaporkan keluhannya ke media. Juga disarankan, saat yang sama dapat mengubah perilaku nrimo atau menerima begitu saja menjadi sikap korektif. Dengan mengadukan keluhan, paling tidak si konsumen sudah melindungi orang lain dari kemungkinan risiko kerugian serupa. Itu bentuk solidaritas. Sayang meski ini telah banyak dilakukan tapi kasus-kasus pelecehan terhadap konsumen masih terjadi dan cenderung kian meningkat.

Jika ini terus berlangsung, aneka persoalan konsumen tetap akan berada dalam porsi individu dan bersifat sporadis, sehingga kurang berhasil guna. Intinya, persoalan tentang kepuasan konsumen sebagai apa yang telah dicita-citakan pelanggan adalah rumit. Kepedulian bersama menjadi sangat penting agar konsumen tidak lagi dilecehkan. ***

  • Oleh: Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi - Dosen Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Solo

Editor : Gungde Ariwangsa SH