logo

Wisata Halal

Wisata Halal

26 Juli 2021 00:01 WIB

SuaraKarya.id -  

 

Oleh: Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi

Prospek wisata halal di Indonesia terpuruk setelah rilis lembaga pemeringkat Mastercard-Crescent menempatkannya di urutan ke-4 dari 140 negara mengacu standar dari Global Muslim Travel Index – GMTI 2021. Penurunan ini tentu menjadi tantangan, meski fakta masih menempatkan Indonesia sebagai tujuan utama wisata halal bersama negara Turki, Malaysia, Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab dan Singapura. Argumen dari penurunan terkait ketidaksiapan Indonesia menghadapi pandemi.

Review kepariwisataan 2021 dan rilis penurunan peringkat wisata halal di urutan ke-4 menarik dicermati, tidak saja terkait pandemi tetapi juga implikasi dari hadirnya vaksin yang diharapkan memacu prospek kepariwisataan di tahun 2021. Realita ini tidak saja menyangkut prospek kepariwisataan konvensional tapi juga potensi wisata halal.

Tahun 2019 Indonesia dan Malaysia di urutan pertama meski tahun 2018 menyebutkan bahwa Indonesia berada di urutan ke-2 dalam daya tarik wisata halal dan ini menjadi tantangan memacu jumlah kunjungan wisatawan. Argumennya karena target kunjungan wisatawan halal - konvensional terus meningkat. Data GMTI 2019 Indonesia ada di posisi pertama wisata halal dunia bersama Malaysia mengungguli Turki, Arab Saudi, Qatar, Maroko, Bahrain, Oman, Brunei dan Uni Emirat Arab. Lalu, bagaimana prospek wisata halal ?

Pandemi berdampak sistemik pada kepariwisataan dan beralasan jika target kunjungan tahun 2020 gagal terealisasi, terutama dipicu bencana beruntun, pandemi dan resesi yang secara tidak langsung memicu sentimen jumlah kunjungan. Kampanye kepariwisataan tahun 2020 kemarin terkendala berbagai bencana - pandemi termasuk juga pemasaran 18 destinasi unggulan. Bahkan, harapan liburan akhir tahun 2020 juga gagal dan mengacu data PHRI kerugian mencapai ratusan miliar sehingga ini perlu review menatap prospek wisata di tahun 2021. Selain itu, ancaman mutasi virus corona juga tidak bisa diabaikan, apalagi sejumlah negara juga mulai menerapkan tutup pintu masuknya sejumlah warga negara asing. Upaya ini juga ditempuh Indonesia di akhir tahun 2020 sebagai kebijakan mereduksi ancaman baru pandemi yang lebih riskan. Ironisnya, PPKM darurat 3-20 Juli juga berdampak di kepariwisataan, termasuk juga diperpanjangnya sampai 25 Juli 2021. Bahkan, PHRI sempat ‘mengibarkan’ bendera putih terkait dampak berlarutnya PPKM.

Terlepas dari sulitnya mencapai target, pastinya bahwa penurunan peringkat wisata halal memberi tantangan mengemas potensi wisata halal ke depan. Argumen yang mendasari yaitu target belanja wisata halal tahun 2021 yaitu US$ 220 miliar. Laporan Mastercard-CrescentRating Indonesia Travel Muslim Index - ITMI menempatkan sejumlah daerah berpotensi dalam wisata halal yaitu Lombok (NTB), Aceh, Jakarta, Yogyakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Sulawesi Selatan. Data ini memberikan gambaran jelas bahwa Yogya berpotensi mengembangkan wisata halal selain pengembangan yang lainnya yang juga telah sukses dilaksanakan melalui berbagai event.

Orientasi untuk memacu potensi wisata halal sejatinya juga harus bersinergi dengan era digital dan selaras dengan keyakinan interaksi Tourism and The Digital Transformation. Oleh karenanya rilis GMTI-ITMI menjadi warning terkait pengembangan kepariwisatan sehingga semua kepala daerah berkepentingan terhadap optimalisasi kepariwisataan bagi penerimaan, apalagi pajak cenderung melambat. Artinya, potensi wisata pasca pandemi menarik dicermati karena daerah mempunyai potensi kepariwisataan dan jika dikemas dengan baik maka geliat ekonomi di daerah akan bisa berkembang. Imbasnya akan bisa mereduksi pengangguran dan kemiskinan melalui geliat ekonomi kreatif berbasis sumber  daya lokal dan kearifan lokal, baik melalui wisata halal atau konvensional.

Kalkulasi terhadap prospek dan tantangan kepariwisataan di tahun 2021 ini memberikan gambaran tentang potensi yang harus dimanfaatkan, apalagi sektor pariwisata cenderung sangat kompleks dan mata rantainya terhubung dari hulu ke hilir. Jadi, tidak ada alasan untuk tidak

memanfaatkan potensi dan daya tarik kunjungan wisatawan pada tahun 2021 agar geliat kepariwisataan kembali bergairah dan imbasnya terhadap ekonomi – bisnis di tahun 2021 juga bisa bangkit kembali. Oleh karena itu, penurunan peringkat wisata halal menjadi tantangan

untuk cepat melakukan pemetaan atas semua potensi dan daya tarik wisata yang ada di daerahnya. Selain itu, juga perlu adanya branding dan mengemas daya tarik kunjungan wisata, termasuk tentu pembangunan infrastruktur agar semua daerah tujuan wisata semakin mudah dijangkau dan menarik kunjungan ulang bagi wisatawan, baik wisnu atau wisman, baik berbasis wisata halal atau konvensional. ***

  • Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi - Dosen Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Solo