logo

Perayaan  Idul Adha 1442 Hijriyah Di Tengah  PPKM

Oleh: Yacob Nauly

Perayaan Idul Adha 1442 Hijriyah Di Tengah PPKM

20 Juli 2021 19:58 WIB

SuaraKarya.id - Oleh: Yacob Nauly

Masyarakat  di manapun di dunia ini  pasti  mengalami,  paling tidak  mendengar  atau menyaksikan dahsyatnya  si-pembunuh yang tak  asing di telinga  warga bumi ini, “virus corona (Covid-19). Tak ada pilihan lain, menurut para  ahli kesehatan dunia,  menghadapi kekejamannya  sang pembunuh kecuali  hanya  menjaga  tiga M dan vaksinasi. Kalau sudah  terinfeksi  berobat dan  makin parah  dirawat di Rumah Sakit.

Sebagai penganut Agama Islam di Sorong dan Papua  Barat umumnya harus mematuhi anjuran pemerintah melalui Kementerian Agama  maupun  Kementerian Dalam Negeri. Pemerintah menganjurkan  agar menjauhi kerumunan dilakukan warga Papua Barat termasuk masyarakat Muslim  Sorong,  yang barusan  merayakan Idul Adha 1424 Hijriah, Selasa (20/7/2021).

 Jenis Virus Baru

Para ahli kesehatan dunia seperti diberitakan Kompas.com, Selasa (8/6/2021) mengidentifikasi   10 varian virus corona dengan nama baru yang diambil dari alfabet Yunani. (1). Varian Alpha Nama baru ini disematkan pada varian virus corona yang terdeteksi pertama kali di Inggris. Ditemukan di Kent pada Desember 2020.  Nama ilmiah dari varian virus corona tersebut adalah B.1.1.7. Studi awal mengungkapkan bahwa varian Covid-19 baru di Inggris tersebut lebih menular, sehingga memicu peningkatan kasus Covid-19 dan rawat inap.

( 2). Varian Beta Varian baru virus corona dari Afrika Selatan adalah salah satu varian SARS-CoV-2 yang paling mengkhawatirkan, menurut WHO. Sebab, varian virus corona yang dilabeli B.1.351 tersebut berpotensi memengaruhi kemanjuran vaksin Covid-19 yang ada saat ini. WHO resmi memberikan nama baru untuk varian sebagai varian Beta, merupakan varian yang terdeteksi kali pertama di Teluk Nelson Mandela, Afrika Selatan pada Oktober 2020 lalu. Varian ini juga memiliki kemampuan penularan yang lebih cepat, serta berpotensi mengakibatkan kematian.  

(3). Varian Gamma Varian Gamma merujuk pada varian virus corona dari Brasil yang sebelumnya disebut sebagai varian P.1. Mutasi virus SARS-CoV-2 di Brasil ini memicu lonjakan kasus Covid-19 di negara tersebut. Varian Gamma juga diduga membawa mutasi E484K.

( 4). Varian Delta Lonjakan kasus Covid-19 di India telah menyebabkan angka kematian yang luar biasa di negara ini. Tak hanya membuat lumpuh rumah sakit, bahkan krematorium di hampir seluruh negara bagian di India, kewalahan melayani pengurusan jenazah pasien Covid-19. Varian B.1.617.2 disebut memiliki mutasi ganda virus corona dan diduga sebagai pemicu lonjakan Covid-19 di negara berpenduduk lebih dari 1,3 miliar jiwa itu. WHO kemudian menyematkan nama baru untuk varian virus corona India ini sebagai varian Delta. Sedangkan mutasi L452R juga terdeteksi dalam varian virus yang ditemukan di California, B.1.429.

(5). Varian Epsilon Varian Epsilon merujuk pada varian baru virus corona yang ditemukan di California, Amerika Serikat, B.1.427/ B.1.429. Melansir CNBC, varian virus SARS-CoV-2 ini telah memicu lonjakan dengan menyumbang 52 persen kasus Covid-19 di negara tersebut, 41 persen kasus Covid-19 di Nevada dan menyumbang 25 persen kasus Covid-19 di Arizona. CDC juga telah memasukkan varian Epsilon ini sebagai varian mengkhawatirkan, yang artinya varian virus corona ini mengarah pada peningkatan penularan Covid-19 dan penyakit yang lebih parah. B.1.1.7.(SHUTTERSTOCK/PETERSCHREIBER MEDIA)

 (6). Varian Zeta Sama seperti P.1 atau varian Gamma, varian P.2 yang kemudian menyandang nama baru sebagai varian Zeta juga ditemukan di Brasil. Varian ini juga dilaporkan terdeteksi di Inggris dan telah menyebar di Rio de Janeiro. Kendati mengandung mutasi E484K, namun varian Zeta ini dianggap tidak cukup untuk ditetapkan sebagai varian virus corona yang mengkhawatirkan.

( 7). Varian Eta Varian Eta adalah varian B.1.525 yang baru-baru ini teridentifikasi di Inggris. Saat ini, para ilmuwan masih mengawasi varian baru virus corona ini. Sebab, varian tersebut diketahui memiliki beberapa mutasi pada gen protein spike virus corona.

( 8). Varian Theta Varian P.3 yang ditemukan di Filipina atau varian Theta terdeteksi pertama kali pada 13 Maret 2021. Kendati belum ada cukup bukti ilmiah tentang karakter varian ini, namun, varian corona tersebut disinyalir lebih menular dibandingkan versi asli SARS-CoV-2.   

(9). Varian Iota Pada November 2020 lalu, varian B.1.526 ditemukan pada sampel yang dikumpulkan di New York, Amerika Serikat. Varian yang kemudian disebut Iota ini, belum diketahui apakah memiliki sifat lebih menular dibandingkan virus aslinya atau tidak.

(10). Varian Kappa Varian B.1.617.1 adalah varian kedua yang ditemukan di India yang juga mengandung mutasi ganda. Di antara lebih dari 2,7 juta kasus Covid-19 di India, sub-garis keturunan B.1.617.1 dan B.1.617.2 ini ditemukan pada 21 persen dan 7 persen dari semua sampel. Kedua varian tersebut terbukti resisten terhadap antibodi Bamlanivimab yang digunakan untuk pengobatan Covid-19 (Sumber: Kompas.com).

Solusi Pemerinrtah

Begitu bahayanya varian baru Covid-19 dan meningkatnya kasus  akibat virus ini di Indonesia maka  pemerintah  memutuskan  shalat Idul Adha 1442 H tahun ini dilaksanakan di rumah saja.

Menghindari meningkatnya kasus terinfeksi Covid-19 akibat kerumunan, dianjurkan untuk melaksanakan Shalat Id, di rumah saja. Dan menyembelih hewan kurban cukup di RPH demi kurangi resiko.

 Merespons situasi pandemi Covid-19 belakangan ini di Indonesia, Pimpinan Pusat Muhammadiyah menetapkan fatwa tentang beberapa hal yang terkait pelaksanaan Salat Idul Adha dan Kurban pada tahun 1442 H/2021 M

"Sehubungan dengan itu dan merujuk kepada Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah tanggal 26 Rajab 1441 H/21 Maret 2020 M yang menjadi Lampiran Edaran Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 02/Edr/I.0/E/2020 Tentang Tuntunan Ibadah Dalam Kondisi Darurat Covid-19, dan Fatwa tanggal 03 Zulkaidah 1441 H/24 Juni 2020 M yang menjadi Lampiran Edaran Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 06/EDR/I.0/E/2020 Tanggal 03 Zulkaidah 1441 H/24 Juni 2020 M, Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah memandang perlu untuk menetapkan fatwa ini," jelas Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof. Dr. Abdul Mu'ti, M.Ed

Prof. Abdul Mu'ti mengatakan, perlunya bersama-sama berusaha mengatasi Covid 19 dengan tetap tinggal di rumah kecuali untuk kepentingan yang sangat urgen dan jika ditinggalkan akan menimbulkan masalah/kemudaratan seperti kepentingan pekerjaan bagi yang sangat membutuhkan, pemenuhan kebutuhan pangan dan kesehatan, dengan memperhatikan protokol kesehatan yang ketat dan mempertimbangkan keselamatan jiwa.

"Sebagai langkah pencegahan sebagai bagian dari kehati-kehatian mencegah kemudharatan yang lebih besar akibat tingginya kasus positif Covid-19, masjid

dan mushola untuk sementara waktu agar dinonaktifkan terlebih dahulu dari segala aktivitas yang melibatkan jamaah," ujarnya.

Dia juga mengimbau segala ibadah baik yang sunah maupun fardu yang melibatkan jamaah hendaknya dilaksanakan di rumah. Azan sebagai penanda masuknya waktu salat tetap dikumandangkan pada setiap awal waktu salat wajib dengan mengganti kalimat “hayya "alas salah” dengan “sallu fr rihalikum" atau lainnya sesuai dengan tuntunan syariat.

Prof. Abdul Mu'ti menambahkan, segala usaha mengatasi Covid 19 termasuk vaksinasi adalah ikhtiar untuk pencegahan, penurunan risiko penularan dan menghilangkan kedaruratan.

Terkait Iduladha 1442 Hijriah, dia mengatakan, takbir keliling tidak disarankan dan sebaiknya dilakukan di rumah. Salat Iduladha di lapangan/masjid/tempat fasilitas umum sebaiknya ditiadakan atau tidak dilaksanakan.

"Salat Iduladha bagi yang menghendaki dapat dilakukan di rumah masing masing bersama anggota keluarga dengan cara yang sama seperti salat Id di lapangan," ujarnya.

Menurut Prof. Abdul Mu'ti, kurban sebaiknya dikonversi berupa dana dan disalurkan melalui Lazismu untuk didistribusikan kepada masyarakat yang sangat membutuhkan di daerah tertinggal, terpencil, dan terluar atau diolah menjadi kornet (kemasan kaleng).

Jika ada penyembelihan hewan kurban dilakukan di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) agar lebih sesuai syariat dan higienis," ujarnya. ( Sumber: suarakarya.id, Kompas.com dan KPCPEN)

Begitulah alasannya, mengapa   “ Perayaan  Idul Adha Di Tengah  Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat    ( PPKM)” di Sorong dan  seluruh Indonesia  berbeda dengan tahun-tahun  sebelum 2020 dan 2021. ***

Yacob Nauly: Wartawan Utama UKW Dewan Pers, Wartawan suarakarya.id, Mantan Ketua  PWI Perwakilan Sorong, Kini Sekretaris Dewan Penasehat PWI Perwakilan Sorong dan Jurnalis Ubahlaku

Editor : Gungde Ariwangsa SH