logo

Cyber Entrepreneurship

Cyber Entrepreneurship

20 Juli 2021 11:55 WIB

SuaraKarya.id -  

 

Oleh: Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi

Pandemi setahun terakhir berdampak sistemik terhadap semua sektor dan situasinya kian diperparah dengan pemberlakuan PPKM darurat 3-20 Juli (kabarnya diperpanjang). Hal ini tentu berdampak terhadap kegiatan sosial - ekonomi -  bisnis. Bahkan sepekan terkait pemberlakuan PPKM darurat justru di sejumlah daerah muncul gejolak penolakan yang kemudian memicu sejumlah aksi.

Selain itu, penerapan PPKM darurat juga muncul aksi konfrontasi antara masyarakat dan aparat, baik di lingkup pedagang – sektor informal dan juga di lingkup pekerja karena akses jalan ditutup dan juga harus menyertakan Surat Tanda Registrasi Pekerja  atau surat STRP. Di sisi lain sebenarnya pandemi dan PPKM darurat juga berdampak positif karena munculnya etos kewirausahaan dan kaum wanita diuntungkan dengan potensi ini terutama karena dukungan internet dan global information society.

Temuan berbagai riset yang cenderung memandang peran penting dari wanita dalam kewirausahaan dan kontradiksi yang berkembang akhirnya memicu peran wanita untuk berwirausaha tanpa harus meninggalkan pekerjaan inti yaitu menjadi ibu rumah tangga. Terkait ini, maka perkembangan internet bisa menjembatani kebutuhan tersebut karena dengan tarif internet yang kian murah dan perangkat gadget yang banyak tersedia maka kini semakin populer istilah ‘cyberentrepreneurship’ yaitu konsep wirausaha yang tidak bisa lepas dari peran internet melalui model e-commerce. Tipikal internet entrepreneurs umumnya berusia muda dan familiar dengan internet atau gadget. Fakta ini memberikan gambaran wanita milenial menjadi potensi terbesar untuk memacu kebangkitan ekonomi pasca pandemi dan PPKM darurat.

Adanya peran ganda wanita di dinamika kehidupan sosial, maka cyber entrepreneurship menjadi sarana yang memungkinkan untuk dilakukan oleh kaum wanita untuk memulai berwirausaha, tentu tanpa harus meninggalkan rumah - status sebagai ibu rumah tangga. Pada awalnya ini memang tidak mudah dan di sisi lain ada peluang untuk memulainya. Kompleksitas dari pengembangan kewirausahaan, terutama yang dilakukan kaum wanita beralasan jika jumlah wirausaha wanita cenderung rendah dibanding pria. Temuan riset jumlah wirausahawan wanita ternyata didominasi pria, terutama berlaku di kasus kaum minoritas. Hal ini menjadi sinyal untuk kasus negara berkembang tentu potensinya juga bisa dipacu meski pemahaman terkait patriarki tentu masih kuat dan karenanya realitas ini menjadi tantangan memacu lahir dan bangkitnya wanita milenial di masa pandemi.

Pemetaan yang dilakukan menjadi argumen penting untuk melihat berbagai faktor yang mendasari riset tentang kewirausahaan yang dilakukan oleh kaum wanita di eropa yang dilakukan dengan me-review riset empiris yang terbit di sejumlah jurnal kewirausahaan tahun 1994-2020. Dari pemetaan disimpulkan bahwa ada banyak pendekatan dalam riset tentang kewirausahaan sehingga hal ini menjadi simpul membangun model pembelajaran - pengajaran yang efektif tentang kewirausahaan, utamanya yang dapat dilakukan kaum wanita. Artinya, pandemi dan PPKM darurat tidak menjadi ancaman untuk memacu penumbuhkembangan kewirausahaan yang melibatkan wanita apalagi hasil dari SP 2020 menunjukan ada potensi besar dibalik jumlah wanita yang lebih banyak dibanding pria. Hal ini juga didukung fakta bahwa dari jumlah itu juga didominasi generasi Z (milenial).

Mengacu sejumlah riset empiris, maka dapat disimpulkan bahwa potensi pengembangan kewirausahaan bagi kaum wanita sangat besar. Di satu sisi, kuantitas wanita yang lebih besar dibanding kaum pria adalah nilai potensi yang harus dipacu, utamanya dari aspek kewirausahaan dan di sisi lain keberhasilan memacu etos kewirausahaan kaum wanita akan memberi manfaat ganda, termasuk aspek penyerapan tenaga kerja dan bangkitnya perekonomian. Oleh karena itu, memacu kewirausahaan wanita yang bersinergi dengan industri kreatif berbasis kearifan lokal menjanjikan bagi kebangkitan ekonomi di daerah dan ini sejalan dengan prinsip era otda yang juga terkait komitmen bangkit dari pandemi demi perbaikan ekonomi. ***

  • Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi - Dosen Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Solo