logo

Pandanglah Kehadiran Anak Dengan Cinta

Pandanglah Kehadiran Anak Dengan Cinta

14 Juli 2021 10:21 WIB

SuaraKarya.id - >
  • Oleh: Budi Seno PS
  • Perlindungan terhadap anak, kalimat tersebut kerap kali terdengar, khususnya di kalangan pemerhati atau organisasi, yang memperjuangkan hak-hak anak. Namun, implementasinya di masyarakat terasa masih jauh panggang dari api.

    Faktanya di masyarakat, masih banyak anak yang nasibnya kurang beruntung. Banyak yang masih harus terpaksa bekerja, terlantarkan, bahkan mengalami berbagai kekerasan. Yang mirisnya lagi, kekerasan terhadap anak tidak jarang juga dilakukan oleh orangtua kandungnya sendiri.

    Bahkan, pada satu kesempatan, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Bintang Puspayoga memprihatinkan angka pekerja anak di Indonesia. Dia juga merasa khawatir, pada masa pandemi Covid-19 ini, jumlahnya akan terus bertambah.

    Data Sakernas pada Agustus 2020, menunjukkan 9 dari 100 anak usia 10-17 tahun (9,34 persen atau 3,36 juta anak) bekerja. Dari 3,36 juta anak yang bekerja, 1,17 juta nya pekerja anak.

    Dari data yang ada, pekerja anak lebih banyak berada di pedesaan dibandingkan dengan perkotaan atau sekitar 4,12 persen berbanding 2,53 persen. Pekerja anak laki-laki sedikit lebih banyak dibanding pekerja anak perempuan, yakni 3,34 persen berbanding 3,16 persen.

    Sementara, untuk kasus kekerasan anak, berdasarkan Sistem Informasi Perempuan dan Anak (Simfoni PPA) periode 1 Januari - 9 Juni 2021, terhadi kasus kekerasan terhadap anak sebanyak 3.314 kasus dengan jumlah korban sebanyak 3.683 anak.

    Karenanya, perlindungan terhadap anak, tidak harus dimulai dengan hal yang muluk-muluk. Sederhana saja, mari kita mulai dari kesadaran dan persiapan orangtua akan keberadaan anak dalam kehidupan mereka.

    Sehingga keberadaan anak bukan atau jangan menjadi sebuah beban. Pandanglah kelahiran atau kehadiran anak dengan cinta, dan itu harus terus terjadi hingga akhir hayat kita.

    Anak adalah titipan Allah SWT, karenanya yakinilah anak hadir di tengah-tengah kita, dengan sifat dan karakter, yang menjadi kekurangan dan kelebihannya hingga dia dewasa. Bila kita anggap ada kekurangannya, maka bimbingan kitalah sebagai orangtua untuk menghilangkan atau mengubah kekurangan itu menjadi sebuah kelebihan.

    Dengan bimbingan, bukan lantas dengan kekerasan, baik kekerasan dengan kata-kata maupun fisik. Jadikan anak selalu percaya pada orangtuanya, sehingga saat dia mempunyai persoalan dalam kehidupannya, orangtualah tempat pertama kali dia mengadu.

    Kadang masalah ekonomi, kerap menjadi kendala bagi orang-orang tertentu dalam mengasuh dan membesarkan anak. Hal itu, memang kembali lagi pada kesiapan mental orangtua dalam menerima kehadiran anak di tengah mereka.

    Jangan lupa, anak hadir juga dengan membawa rezekinya sendiri. Jadi, memang diperlukan kesiapan mental seseorang dalam menerima kehadiran anak.

    Sayangnya, memang masih ada, orangtua yang belum siap lahir.batin dalam menerima kehadiran anak. Salah satunya, akibat dari tetjadinya pernikahan muda atau di bawah umur. Sehingga pasangan belum siap, baik jasmani maupun rohani.

    Padahal, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) telah memberikan rekomendasi usia pernikahan yang ideal. Baiknya, itu dilakukan pada usia matang 21 tahun untuk perempuan dan 25 tahun untuk laki-laki.

    Sedangkan, sesuai dengan Undang-Undang Perlindungan Anak, usia kurang dari 18 tahun masih tergolong anak-anak. Untuk itu, BKKBN memberikan batasan usia pernikahan 21 tahun bagi perempuan dan 25 tahun untuk pria. BKKBN juga merekomendasi, berdasarkan ilmu kesehatan, umur ideal yang matang secara biologis dan psikologis adalah 20-25 tahun bagi wanita, kemudian umur 25-30 tahun bagi pria.

    Usia tersebut dianggap masa yang paling baik untuk berumah tangga, karena sudah matang dan bisa berpikir dewasa secara rata-rata. Pada usia itu, pasangan yang baru menikah memiliki kesiapan matang dalam mengarungi rumah tangga.

    Sehingga, dalam keluarga tercipta hubungan yang berkualitas. Masalahnya, berumah tangga sekaligus menjaga keharmonisannya bukan suatu pekerjaan yang mudah. Karena, memerlukan kedewasaan berpikir dan bertindak setiap ada guncangan yang muncul, baik guncangan akibat ekonomi, masalah internal maupun eksternal.

    Untuk itu, jadilah orangtua sebagai pengasuh anak luar dalam. Artinya, saat anak masih kecil, kita harus berusaha memenuhi kebutuhannya mulai rohani hingga jasmani. Kebutuhan rohani, sangat diperlukan anak, untuk menjadikannya berperilaku baik, dan yang terpenting untuk membentengi anak dari pengaruh negatif di luar rumah.

    Karenanya, jadikan orangtua tempat pertama anak mengadu bila dia punya persoalan. Jangan sampai anak anak mempunya tempat yang salah dalam mengadu. Bisa fatal akibatnya, bila anak saat mempunyai masalah mengadu ke tempat yang salah. Jangan sampai akhirnya terjerumus ke hal-hal negatif yang mengganggu hidupnya.

    Begitu anak sudah dewasa dan bisa memenuhi kebutuhan jasmaninya sendiri pun, kebuthan rohaninya masih perlu dipenuhi orangtua, bila si anak memerlukannya. Itulah perlunya sebuah komunikasi antara anak dan orangtua yang terjalin terus sejak kecil hingga anak dewasa.***

     

    Budi Seno P Santo, wartawan SuaraKarya.id

    Editor : Gungde Ariwangsa SH