logo

Ada Apa Dengan Bursa?

Ada Apa Dengan Bursa?

13 Juli 2021 18:58 WIB

SuaraKarya.id -  

Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, SE, MSi

Pandemi setahun terakhir dan realitas pemberlakuan PPKM darurat 3-20 Juli berdampak sistemik terhadap semua aspek dan bursa juga tergoyang.

Situasi ini perlu dicermati agar dampak sistemiknya tidak semakin parah, apalagi jika PPKM darurat tidak efektif untuk meredam sebaran pandemi sebulan terakhir yang angkanya melonjak drastis menembus angka lebih dari 2 juta. Apa yang terjadi dengan geliat bursa sepertinya juga dialami saat awal pandemi Maret 2020 lalu dan tentu ini perlu dicermati implikasinya. Mengapa ?

Geliat bursa menunjukan koreksi sangat dramatis di awal pekan ketiga Maret 2020 lalu dan bukan tidak mungkin trend-nya terus merosot. Paling tidak, argumen dibalik kasus ini adalah pergerakan IHSG sejak Januari - Maret 2020 yaitu pada 2 Januari masih di level 6.283,58 lalu pada 31 Januari menjadi 5.940,05 dan 29 Pebruari di level 5.452,79 kemudian di 9 Maret 2020 turun di level 5.136,50. Fakta lain ternyata penurunan juga diikuti dengan melemahnya nilai tukar rupiah yaitu di kisaran Rp.14.3737 per US$ awal Maret 2020 lalu. Hal ini memberikan gambaran bahwa koreksi pergerakan IHSG saat itu merupakan terbesar di rentang waktu 5 tahun terakhir. PPKM darurat perlu antisipasi di sektor bursa agar tidak terdampak semakin dalam.

Koreksi IHSG menjadi sentimen terhadap perdagangan bursa, meski juga diakui bahwa situasinya bisa dipengaruhi oleh banyak faktor, baik itu internal atau eksternal. Fakta ini juga menegaskan bahwa sentimen dari kasus corona juga diyakini berpengaruh terhadap perdagangan bursa.

Oleh karena itu, beralasan jika kemudian muncul kekhawatiran akan memicu ancaman resesi global. Setidaknya hal ini terkait dengan dampak sistemik yang mengancam dari sebaran virus corona. Wajar jika kemudian otoritas BEI dan OJK perlu memetakan persoalan di balik pergerakan IHSG yang terus memerah. Realita ini penting karena pergerakan IHSG sejak Januari Maret 2020 terkoreksi secara signifikan mencapai 18,46 persen sehingga menjadi dasar bagi otoritas BEI dan OJK untuk melihat persoalan di balik kemerosotan ini dan sekaligus mencari formula untuk stimulusnya. Jadi, jangan sampai ini terulang di semester II 2021.

Signal awal yang menjadi pemicu kemerosotan IHSG dan sentimen terkait perdagangan bursa adalah terjadinya perlambatan ekonomi global seiring dengan sebaran virus corona sehingga tekanan terhadap perekonomian lokal, nasional, regional dan internasional kian terasa jelas dampaknya. Setidaknya ini terlihat dari pengaruh rantai pasok terhambat lalu proses produksi terhenti, dunia usaha merumahkan sementara karyawannya dan tentunya juga berdampak terhadap kenaikan harga yang berimbas terhadap penurunan daya saing dan juga tekanan terhadap daya beli masyarakat. Imbasnya adalah menekan inflasi yang kemudian juga berdampak terhadap neraca perdagangan sehingga mata rantainya tentu akan merembet ke revisi pertumbuhan ekonomi. Ironisnya ini tidak hanya terjadi di Cina sebagai awal penyebaran virus corona tapi merembet ke mitra bilateral dan multilateral.

Jika situasinya terus memerah dan koreksi terkait pergerakan IHSG semakin parah maka BEI bisa melakukan prosedur untuk penyelamatan yaitu di tahap pertama ketika koreksi indeks di kisaran 2 persen maka kebijakannya adalah melakukan pemantauan dan juga membuat laporan analisis pasar regional. Hal ini dilakukan untuk meredam gejolak yang ada sedari awal dan penentuan langkah antisipatif lanjutan. Pada tahap kedua yaitu andai koreksi indeks di kisaran 5 persen maka langkah yang dilakukan BEI adalah monitoring yang dilanjutkan dengan ‘crisis meeting team’ sebagai upaya pemetaan langkah lanjutan yang lebih konkret (tahap ketiga jika koreksi indeks sebesar 7,5 persen). Tahap keempat jika pergerakan indeks terkoreksi 15 persen otoritas BEI bisa melakukan suspensi pasar. Bahkan, BEI mengijinkan semua emiten melakukan buyback. Upaya ini bisa dilakukan tanpa harus dengan RUPS yang dimaksudkan untuk menstimulus perekonomian, selain mereduksi fluktuasi pasar yang terjadi, baik karena faktor internal atau eksternal. ***

  • Dr. Edy Purwo Saputro, SE, MSi - Dosen Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Solo