logo

Impor Narkotik Dari Amerika Serikat Hanya Untuk Digunakan Sendiri?

Impor Narkotik Dari Amerika Serikat Hanya Untuk Digunakan Sendiri?

PN Jakarta Utara
19 Juni 2021 18:46 WIB
Penulis : Wilmar Pasaribu

SuaraKarya.id - JAKARTA: Persidangan kasus narkotika dengan terdakwa Feri Kusnadi Liem di Pengadilan Negeri (PN) dikhawatirkan mengarah ke putusan rehabilitasi atau paling tidak dikenai hukuman masih dalam aturan pasal 127 Undang-Undang tentang Narkotika.

Kekhawatiran itu muncul karena tidak ada upaya terutama oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Melda Siagian SH untuk menggali dan mengungkap bahwa terdakwa Feri Kusnadi Liem sebagai pengedar. Dalam persidangan JPU tampak cukup puasa kalau terdakwa terbukti melanggar pasal 127, tidak 112 (ancaman minimal empat tahun penjara) apalagi 114 yang ancaman maksimalnya lima tahun penjara.

“Saya khawatir JPU-nya tidak ingin terbukti pasal 112, apalagi pasal 114. Sebab, JPU hanya menanyakan lokasi penangkapan, barang bukti yang disita dan hasil tes urine yang positif,” ujar seorang polisi, yang tidak ikut memberi keterangan di persidangan.

“Proses hukum kasus-kasus narkoba sekarang ini memang agak terasa kendor,” ujar seorang aktivis antimadat, Sabtu (19/6/2021).

Dua saksi penangkap anggota Polri, Dodi Haryanto, dan Peter Bunjani menyebutkan penggerebekan pada 21 Januari 2021 di Jalan Bisma, Papanggo, dilakukan setelah mendapat info dari masyarakat bahwa di tempat tersebut seringkali ada pengiriman  narkotika jeni8s ganja cair dari Amerika Serikat.

Benar, ketika dilakukan penggerebekan ditemukan sejumlah popok bayi yang di dalamnya terdapat kemasan ganja cair, ada juga alat hisap. Ketika saksi penangkap aparat polisi itu menanyakan, Feri Kusnadi Liem mengakui bahwa ganja cair itu dikirimkan temannya warga Negara Thailand, Namun barang haram tersebut berasal  dari Amerika Serikat. Akan digunakan sendirikah barang haram sebanyak 11 bungkus itu? Atau bakal dijual lagi? Pertanyaan terakhir ini tidak terjawab saat pemeriksaan saksi penangkap tersebut.

Sementara itu, 19 narapidana narkotik di Lapas Kelas I Cipinang dipindahkan ke lapas super maximum security di Nusakambangan sebagai upaya mencegah peredaran narkoba di lapas, Jumat (18/6/2021).

Pemindahan tersebut dilakukan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) bekerja sama dengan Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kanwil Kemenkumham) DKI Jakarta, Satuan Operasional Kepatuhan Internal (Satops Patnal) Lapas Kelas I Cipinang, dan Brimob Polda Metro Jaya. Mereka masing-masing berinisial AS, AL, AN, BY, BS, FZ, HG, IH, JF, MK, MI, MZ, OA, RD, SG, TH, VIG, YM, dan YP. Para napi tersebut dipindahkan dengan pengawalan yang ketat. Kepala Kanwil Kemenkumham DKI Jakarta Ibnu Chuldun mengatakan 19 napi tersebut dipindahkan setelah mengikuti swab rapid test antigen untuk mencegah penyebaran COVID-19. "Mereka dipindahkan menggunakan bus dengan pengawalan yang ketat dari pihak Ditjenpas, Kanwil DKI, pegawai Lapas Cipinang, hingga Brimob Polda Metro Jaya," ujar Ibnu. Tentunya dia telah terlebih dahulu berkoordinasi dengan Kepala Kanwil Kemenkumham Jawa Tengah dan Kepala Divisi Pemasyarakatan Kanwil Kemenkumham Jawa Tengah. Dia berharap pemindahan narapidana narkoba dapat mencegah peredaran narkoba di lapas.

"Pemindahan narapidana bandar narkoba ini ke Lapas Super Maximum Security Karanganyar ini diharapkan efektif dalam memutus mata rantai dan mencegah peredaran gelap narkotika di lapas/rutan, khususnya di wilayah DKI Jakarta," harap Ibnu.***

Editor : Markon Piliang