logo

Kini Mereka Percaya, Covid-19 Itu Ada

Kini Mereka Percaya, Covid-19 Itu Ada

Foto :Istimewa
17 Juni 2021 08:21 WIB
Penulis : Andira

SuaraKarya.id - SURABAYA: Gara-gara lonjakan kasus Covid-19, nama Kabupaten Bangkalan Madura belakangan menjadi sorotan. Wilayah yang tenang ketika warga daerah lain sedang berjuang menekan penyebaran kasus, kini kondisinya justru berbalik. Situasi di 3 kecamatan di Bangkalan bisa dibilang mengkhawatirkan.

Juru Bicara Satgas Covid-19 Kabupaten Bangkalan, Madura, Agus Sugianto Zain, menyebut rendahnya kesadaran warga menjadi pemicu parahnya kasus Covid-19 di Bangkalan. "Kebanyakan pasien Covid-19 baru bersedia ke rumah sakit ketika kondisinya sudah sangat parah," ujarnya, kamis (19/6/2021).

Sebelum terjadi lonjakan kasus yang semakin mengkhawatirkan, warga Madura terutama Bangkalan memang adem ayem. Mereka makin semerasa aman, ketika hasil screening di titik penyekatan Suramadu nihil Corona, ketika puluhan kasus ditemukan di penyekatan lain, selama liburan Hari Raya Idul Fitri 1442 H (6-17 Mei 2021).

Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa bahkan berkelakar, orang Madurasakti-sakti, ketika menerima laporan soal tidak ada yang Covid-19 di titik penyekatan tersebut. Komentar sang gubernur itu sempat mendapat mengundang respon beragam dari berbagai kalangan.

Ada yang menyebut ungkapan itu terlalu takabur karena pandemi masih belum selesai dan segala sesuatu di luar dugaan bisa saja terjadi. Ada juga yang mengkhawatirkan, seloroh orang nmor satu di Jatim itu bisa membuat masyarakat Madura semakin teledor dan merasa tidak perlu mematuhi protokol kesehatan.

Tokoh kelahiran Madura yang menjabat Menkopolhukam, Mahfud MD mengakui, masih banyak orang Madura yang tidak percaya Covid-19. "Banyak tokoh-tokoh agama yang mengatakan bahwa covid itu bohong," ujarnya.

Keyakinan itulah yang sejak awal menjadikan kesadaran warga Madura dalam penerapan protokol kesehatan masih rendah. Pihak rumah sakit bahkan tidak bisa berbuat banyak karena pasien cenderung enggan memeriksakan kesehatannya ke rumah sakit ketika tidak memiliki gejala berat.

Selain tidak percaya ada Covid-19, masih banyak masyarakat Madura yang merasa kebal dari virus yang berawal dari Wuhan itu. Rendahhya kesadaran masyarakat untyuk ikut menekan kasus corona juga terlihat dari fakta soal banyaknya oran yan kabur gara-gara enggan menjalankan rapid tes antigen.

Selama periode penyekatan, Pemkot Surabaya menemukan ada 577 orang yang memilih kabur daripada diharuskan diperiksa. Mereka bahkan terjaring di pos penyekatan Jembatan Suramadu itu, rela meninggalkan Kartu Tanda Penduduk Elektronik (e-KTP) yang terlanjur diminta petugas.

Dari 577 orang yang meninggalkan KTP tersebut, sebanyak 504 orang berstatus warga luar kota dan sisanya 73 orang merupakan warga Surabaya sendiri.Mereka enggan diswab karena khawatir dinyatakan positif lalu harusmenjalani isolasi atau perawatan.

Bukan hanya di titik penyekatan. Para santri yang awalnya bersedia divaksin, juga pilih kabur saat tiba hari H pelaksanaan vakin. BahkanPemkab Bangkalan harus melakukan bujuk rayu diantaranya dengan pemberian paket sembako untuk warganya yang bersedia diswab atau divaksin.

Sejumlah warga Madura mengaku tak mau ketahuan positif Covid-19 karena menyangkut harga diri. Mereka yang memiliki gejala demam atau batuk, bahkan lebih suka pilih melakukan isolasi mandiri dari pada ditangani tim medis.

Imbasnya luar biasa. Jumlah warga yang terpapar Covid-19 melonjak pesat.IGD RSUD Bangkalan sempat tutup, 3 puskemas di Arosbaya, Klampis, dan Geger juga pernah ditutup karena lonjakan kasus, puluhan tenaga kesehatan terpapar. Pasien Bangkalan yang dirujuk ke RS di Surabaya semakin bertambah.

Kasus Covid-19 di Bangkalan memang membutuhkan penanganan ekstra. Ketika petugas medis berjibaku menekan laju lonjakan kasus, para tokoh agama diminta ikut andil membantu pemerintah. Mereka diminta ikut memberi pengertian tentang pemntingnya menghindari penyakit.

Beruntung, pelajaran berharga ini membuat kesadaran warga tentang pentingnya protokol kesehatan, semakin meningkat. Bila dulu banyak santri yang menolak divaksin, kini mereka sudah antre untuk minta divaksin. Semoga kasus Covid-19 segera berakhir.***

Editor : Dwi Putro Agus Asianto