logo

Kejagung Lakukan Aksi Eksekusi Dan Pencidukan Buron

Kejagung Lakukan Aksi Eksekusi Dan Pencidukan Buron

dijebloskan ke dalam tahanan
10 Juni 2021 11:04 WIB
Penulis : Wilmar Pasaribu

SuaraKarya.id - JAKARTA: Kejaksaan Agung melakukan aksi positif terkait dalam hal pemberantasan korupsi. Selain aksi terkait proses hukum juga aksi demi kepastian hukum itu sendiri.

Diawali aksi menjebloskan ke dalam tahanan Eks Komisaris PT Citra Tobindo Sukses Perkasa (CTSP), MTM, yang terlibat kasus dugaan korupsi izin tambang batubara pada anak perusahaan PT Antam di Kabupaten Sarolangun, Jambi.

“MTM ditahan terhitung 9 sampai 28 Juni 2021 di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Salemba Cabang Kejaksaan Agung,” kata Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejaksaan Agung, Leonard Eben Ezer Simanjuntak di Jakarta, Kamis (10/6/2021).

MTM merupakan satu dari enam tersangka kasus dugaan korupsi pengalihan izin usaha tambang (IUP) batu bara di Kabupaten Sarolangun, Jambi. Dengan ditahannya MTM, maka Kejagung telah menahan seluruh tersangka.  Lima tersangka lainnya, yaitu BM selaku Direktur Utama PT Indonesia Coal Resources (ICR) periode 2008-2014, ATY selaku Direktur Operasi dan Pengembangan, AL selaku Direktur Utama PT Antam periode 2008-2013, HW selaku Senior Manager Corporate Strategic Development PT Antam dan MH selaku Komisaris PT Tamarona Mas International periode 2009 sampai sekarang. Empat tersangka ditahan pada Senin (7/6/2021), disusul satu tersangka lainnya ATY pada Selasa (8/6/2021).

MTM dalam kasus ini lakukan permufakatan jahat dengan tersangka BM dalam menentukan harga akuisisi sebesar Rp92,5 miliar walaupun belum dilakukan “due dilligence”. Tersangka MTM bersama dengan tersangka MH juga bekerjasama untuk menyiasati seolah-olah menanam saham Rp1,25 miliar di PT CTSP agar PT tersebut dapat digunakan sebagai perusahaan perantara peralihan IUP dari PT TMI. Dengan demikian, tersangka MTM menerima pembayaran sebesar Rp56,5 miliar dari hasil akuisisi PT CTSP oleh PT ICR anak perusahaan Antam.

Peran tersangka MTM dan tersangka MH lainnya menjamin keaslian dokumen-dokumen perizinan, padahal dokumen banyak yang tidak lengkap dan hanya fotocopy saja. Atas perbuatannya penyidik menyangkakan dengan Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 jo Pasal 18 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dan ditambah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Tersangka MTM bersama dengan Tersangka MH selaku Komisaris PT. Tamarona Mas Internasional periode 2009 s/d sekarang, bekerja sama untuk mensiasati seolah-olah menanam saham Rp. 1.250.000.000 Citra Tobindo Sukses Perkasa.

Dalam kasus ini, penyidik Kejagung telah menetapkan 4 orang tersangka. Mereka adalah Direktur PT Antam periode 2008 – 2013, AL, Direktur Operasional PT Antam, HW, mantan Direktur Utama (Dirut) PT ICR tahun 2008 – 2014, BM dan Komisaris PT Tamarona Mas Internasional (TMI) periode 2009 sampai sekarang, MH. Keempat tersangka saat ini sudah dijebloskan ke rutan berbeda.

Selain menjebloskan ke dalam tahanan, Tim Tangkap Buronan (Tabur) Kejaksaan Agung dan Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jambi juga menangkap Musashi (38) yang menjadi buron atau masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) tindak pidana korupsi proyek pembangunan jalan di Kabupaten Tebo, Jambi.

Dalam kasus yang sama, Tim Tabur Kejati Jambi juga menangkap salah satu DPO korupsi jalan tersebut di Kota Jambi atas nama Saryono (58) yang ditangkap di salah satu rumahnya, di kawasan Telnaipura, Kota Jambi. "Dua DPO kasus korupsi pembangunan jalan di Kabupaten Tebo Musashi dan Saryono yang sudah memiliki keputusan hukum tetap di tingkat kasasinya harus menjalani keputusan pengadilan, dan kini kedua DPO Kejati Jambi tersebut sudah berhasil ditangkap dan akan menjalani hukuman," kata Leonard seperti ditulis Antara.

Kedua terpidana dijatuhi hukuman selama lima tahun penjara serta denda Rp50.000.000, dan apabila terpidana tidak sanggup membayar, maka diganti dengan pidana penjara selama satu bulan untuk terpidana Musashi Pangeran Batara, sedangkan terpidana Saryono menerima hukuman pidana penjara juga lima tahun dan denda sebesar Rp300.000.000 subsider dua bulan kurungan.

Perkara tindak pidana korupsi yang melibatkan kedua terpidana ini merupakan lanjutan dari kasus yang menjerat Joko Paryadi, mantan Kadis PU Kabupaten Tebo, Para terpidana dalam kasus ini adalah Musashi, Deni Kriswardana, Ali Arifien, dan Saryono. ***

Editor : Pudja Rukmana