logo

Krisis Israel-Palestina, Indonesia Desak Penghentian Kekerasan Dan Gencatan Senjata

Krisis Israel-Palestina, Indonesia Desak Penghentian Kekerasan Dan Gencatan Senjata

Foto: YouTube.
17 Mei 2021 16:54 WIB
Penulis : Pudja Rukmana

SuaraKarya.id - JAKARTA: Menteri Luar Negeri Republik Indonesia (RI) Retno LP Marsudi menegaskan bahwa hasil pertemuan tingkat menteri Negara-negara Kerja Sama Islam (OKI) mengkhawatirkan situasi yang berkembang di Palestina saat ini menyusul agresi Israel ke wilayah tersebut, yang mengakibatkan banyak korban warga sipil. 

Hal ini disampaikan dalam konferensi pers virtual terkait pembahasan perkembangan Pertemuan Luar Biasa Tingkat Menteri Komite Eksekutif Organisasi Kerja Sama Islam - OKI (Open-ended Extraordinary Ministerial Meeting of the OIC Executive Committee), Jakarta, Minggu (16/5/2021). 

Dalam pertemuan tingkat menteri bersama perwakilan negara-negara anggota OKI tersebut, Indonesia secara aktif mendorong   agar OKI dapat menghasilkan kesepakatan yang nyata. Pembahasan tentang resolusi terhadap agresi militer Israel di Palestina masih terus diupayakan dalam pertemuan itu.

Indonesia sendiri menekankan pentingnya setiap dari negara anggota OKI menggunakan pengaruh masing-masing agar kekerasan dapat dihentikan, dan dapat segera dilakukan upaya de-eskalasi dan gencatan senjata.

"Dalam komunikasi tersebut, kita juga bertukar pikiran mengenai berbagai forum dan mekanisme internasional yang dapat kita pakai untuk membantu Palestina dan meredakan situasi ketegangan saat ini," kata Menlu Retno 

OKI juga masih menanti langkah Dewan Keamanan PBB yang akan melakukan pertemuan untuk membahas krisis Israel-Palestina. "Kita masih belum tahu apa hasil dari pertemuan Dewan Keamanan PBB pada hari ini," ujarnya. 

Berikut ini Pernyataan Pers Menlu RI Retno Marsudi pada Pertemuan Extraordinary Open-Ended Ministerial Meeting OIC Executive Committee, Jakarta, 16 Mei 2021,  diunggah di laman resmi Kemenlu.

Rekan-rekan media yang saya hormati,

Pertama-tama, selamat sore dan pada kesempatan yang baik kali iini saya ingin menyampaikan selamat hari raya Idul Fitri bagi rekan-rekan yang merayakannya. Mohon maaf lahir batin dan semoga ibadah puasa yang kita jjalankan selama bulan Ramadhan dapat menjadikan kita pribadi yang lebih baik, selain itu kita semua dapat segera keluar dari pandemi Covid-19, amin.

Teman-teman, saya baru saja menyampaikan pernyataan dan menghadiri Extraordinary Open-ended Ministerial Meeting of the OIC Executive Committee yang diselenggarakan secara virtual.

- Pertemuan ini dihadiri oleh 16 Menteri dan Wakil Menteri Luar Negeri negara-negara anggota OKI danj uga wakil dari negara OKI lainnya.

- Pertemuan dilakukan khusus membahas agresi Israel di wilayah Palestina, khususnya Al-Quds Al-Shareef atau Yerusalem dan juga jalur Gaza.

Pada saat pertemuan OKI dilakukan, kita melihat sudah lebih dari 150 orang harus kehilangan nyawanya termasuk perempuan dan anak-anak. Dan, ratusan mungkin ribuan orang yang harus kehilangan rumah mereka.

Rekan-rekan,

Dapat saya sampaikan bahwa sebelum pertemuan OKI ini dilakukan, dalam beberapa hari terakhir ini saya melakukan banyak sekali komunikasi dengan para Menteri Luar Negeri negara lain, antara lain:

- Palestina;

- Malaysia;

- Brunei Darussalam;

- Mesir;

- Yordania;

- Turki;

- Saudi Arabia;

- Qatar;

- Tunisia;

- Vietnam;

- India;

- Norwegia;

- Inggris; dan

- HRVP (High Representative of the Union for Foreign Affairs and Security Policy) Uni Eropa

Di dalam pembicaraan tersebut atau di dalam komunikasi tersebut, kita semua mengkhawatirkan situasi yang berkembang di Palestina saat ini. Saya selalu menekankan pentingnya setiap dari kita menggunakan pengaruh masing-masing agar kekerasan dapat dihentikan, upaya de-eskalasi dilakukan, dan gencatan senjata dapat segera dilakukan.

Dalam komunikasi tersebut, kita juga bertukar pikiran mengenai berbagai forum dan mekanisme internasional yang dapat kita pakai untuk membantu Palestina dan meredakan situasi ketegangan saat ini.

Hari ini juga Dewan Keamanan PBB akan melakukan pertemuan yang akan membahas krisis ini. Kita masih belum tahu apa hasil dari pertemuan Dewan Keamanan PBB pada hari ini.

Teman-teman, itu komunikasi pada tingkat saya. Pada tingkat yang lebih tinggi lagi, pada tingkat pemimpin atau leaders, Presiden RI juga melakukan komunikasi dengan sejumlah pemimpin yang juga membahas situasi Palestina. Selain itu di dalam komunikasi-komunikasi tersebut, Presiden RI juga membahas tindak lanjut dari ASEAN Leaders Meeting dan juga proses perdamaian Afghanistan.

Dan, dapat saya sampaikan bahwa menindaklanjuti komunikasi tiga pemimpin di Asia Tenggara yaitu Presiden RI, PM Malaysia dan Sultan Brunei Darussalam, maka Indonesia-Malaysia-Brunei Darussalam telah sepakat untuk mengeluarkan Joint Statement mengenai sikap ketiga negara tersebut terhadap situasi Palestina saat ini.

Dan, menurut rencana, kita sudah bahas pada tingkat Menteri Luar Negeri bahwa Joint Statement ini akan dikeluarkan pada malam hari ini juga. Jadi, mohon teman-teman pantau melalui tweet Presiden RI dan kemungkinan kita juga akan masukkan di dalam website atau tweet Kemenlu, retweet dari apa yang nanti disampaikan Presiden RI.

Rekan-rekan media yang saya hormati,

Di dalam pertemuan OKI tadi saya menyampaikan bahwa untuk kesekian kalinya, OKI harus kembali bertemu untuk membahas isu yang sama yaitu, agresi Israel terhadap Palestina.

Sejak OKI didirikan komitmen negara OKI tidak pernah luntur dan terus bertekad untuk bersama Palestina di dalam memperjuangkan hak-haknya. Terlepas dari tekad kuat tersebut sampai saat ini, kita masih menyaksikan adanya:

- Gangguan terhadap pelaksanaan ibadah di Masjid Al-Aqsa;

- Illegal settlement semakin merajalela;

- Pergerakan orang-orang Palestina dibatasi di tanah mereka sendiri; dan

- Hak-hak Palestina dihilangkan.

Kita semua tidak boleh lupa bahwa Palestina adalah satu-satunya negara yang masih diduduki oleh kekuatan kolonial di dunia ini. Semua penderitaan Palestina disebabkan oleh Israel sebagai occupying power.

Indonesia mengecam keras semua tindakan yang dilakukan oleh Israel. Yang lebih melukai lagi, tindakan tersebut dilakukan di bulan suci Ramadhan dan di Hari Raya Idul Fitri.

Teman-teman Media yang saya hormati, 

Untuk itu, di dalam pertemuan tadi Indonesia menyampaikan atau mengusulkan beberapa langkah kunci yang harus dilakukan oleh OKI.

Langkah kunci pertama adalah memastikan adanya persatuan. Persatuan di antara negara anggota OKI. Persatuan di antara semua pemangku kepentingan di Palestina. Tanpa persatuan, OKI tidak akan mampu menjadi penggerak bagi dukungan internasional untuk Palestina. Di saat yang sama, bangsa Palestina hanya bisa mencapai cita-citanya untuk merdeka apabila mereka bersatu.

Langkah kunci kedua, OKI harus mengupayakan terciptanya gencatan senjata segera. Saya menyerukan agar masing-masing negara OKI menggunakan pengaruhnya masing-masing, menggunakan pengaruh yang mereka miliki untuk mendorong gencatan senjata secepatnya. Dan, semua tindakan kekerasan harus segera dihentikan.

Langkah kunci ketiga adalah agar OKI tetap fokus membantu kemerdekaan bangsa Palestina. Dalam kaitan ini, OKI harus lebih keras berupaya untuk mendorong dimulainya kembali negosiasi multilateral yang kredibel.

- Yang berpedoman pada parameter-parameter yang telah disetujui secara internasional

- Dengan tujuan mencapai perdamaian yang lestari berdasarkan prinsip solusi dua negara.

Di dalam penutupan statement saya, saya menyampaikan bahwa perjuangan untuk mendukung kemerdekaan Palestina masih jauh dari selesai. Persatuan negara OKI, saya tekankan lagi, harus terus kita jaga untuk mendukung perjuangan Palestina. Together we have to act now. Keadilan harus tercipta bagi rakyat Palestina. Dan, saya tekankan bahwa Indonesia akan terus mendukung perjuangan Palestina.

Rekan-rekan media yang saya hormati,

Itulah tadi inti pernyataan saya di dalam pertemuan OKI hari ini. Dalam mempersiapkan pertemuan OKI ini, Indonesia secara aktif memberikan masukan substansial agar OKI dapat menghasilkan kesepakatan yang nyata.

Menurut rencana, pertemuan OKI ini akan menghasilkan sebuah resolusi. Saat ini pembahasan resolusi masih terus dilakukan. Tetapi dapat saya sampaikan beberapa hal yang sudah tampak atau dapat kita harapkan keluar dari resolusi tersebut, antara lain, yaitu:

- Seruan kepada komunitas internasional, khususnya DK-PBB, untuk mengambil langkah konkret atas tindakan kekerasan dan pelanggaran hukum internasional Dan, bila DK PBB gagal, maka SMU PBB harus melakukan Pertemuan Darurat.

- Kita juga harapkan dalam resolusi tersebut akan terdapat elemen desakan untuk menerapkan mekanisme international protection/ international presence untuk melindungi warga sipil Palestina maupun kompleks Masjid Al Aqsa.

- Seruan kepada komunitas internasional untuk menghentikan aksi kolonial dan segregasi rasial Israel.

- Serta penegasan kembali posisi OKI dalam mendukung isu Palestina dan Al Quds Al-Sharif dalam mewujudkan kemerdekaan Palestina berdasarkan two-states solution dan sesuai dengan parameter-parameter internasional.

Jadi itu elemen-elemen yang kita perkirakan dapat disetujui dalam resolusi, antara lain tentunya. Saya kira resolusi sifatnya akan cukup komprehensif.

Detail isi resolusi tentunya akan dapat dilihat oleh teman-teman setelah resolusi selesai dibahas dan disetujui di akhir pertemuan OKI yang sampai sekarang masih berlangsung.

Demikian rekan-rekan yang dapat saya sampaikan.Mudah-mudahan upaya kita membantu rakyat Palestina menghadirkan keadilan bagi mereka dapat membuahkan hasil yang maksimal.

Demikian yang dapat saya sampaikan. Sekali lagi terima kasih.

Stay well teman-teman.Terima kasih. ***

Editor : Pudja Rukmana