logo

JPU Yerich Sinaga Yakin Dakwaannya Berhasil Dibuktikan

JPU Yerich Sinaga Yakin Dakwaannya Berhasil Dibuktikan

sidang kasus pemalsuan dengan terdakwa Moh Kalibi
04 Mei 2021 10:45 WIB
Penulis : Wilmar Pasaribu

SuaraKarya.id - JAKARTA: Terdakwa Moh Kalibi mengesankan tidak tahu menahu terjadi kasus dugaan pemalsuan Kartu Keluarga  (KK) yang jadi Warkah dalam permohonan Sertifikat Hak Pakai (SHP) atas tanah overgarap milik Hadi Wijaya  di Jalan Kramat Jaya, Tugu Utara, Koja, Jakarta Utara, menjadi atas namanya dengan istri Siti Mutmainah.

Dia tidak tahu pula siapa yang menyertakan fotocopi KK atas namanya dengan istri berbeda Sarovia, yang tidak lain adalah istri kakak iparnya. Moh Kalibi menyebutkan Toto Budiharto almarhum yang lebih tahu proses pengurusan SHP 247 dan 248.

Dalam sidang dengan agenda pemeriksaan terdakwa, Senin (3/5/2021), Moh Kalibi juga mengaku bahwa dirinya dan beberapa orang lainnya dilaporkan beberapa kali oleh saksi korban/pelapor Hadi Wijaya ke Kepolisian. Pertama tahun 2014 terkait dugaan penyerobotan tanah kemudian tahun 2017.

“Namun baru saat gelar perkara di Kepolisian  (2019) saya tahu kasusnya pemalsuan Kartu Keluarga (KK), yang dalam fotocopi KK tersebut tertulis istri saya bernama Sarovia," ungkap terdakwa menjawab pertanyaan majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Utara pimpinan Tumpanuli Marbun SH MH terkait kasus pemalsuan KK dengan terdakwa Moh Kalibi, Senin (3/5/2021).

Tidak itu saja yang seharusnya tahu tetapi tidak diketahui terdakwa Moh Kalibi. Ketika ditanya JPU Yerich apa putusan majelis hakim terkait gugatan intervensi yang dilakukannya dengan istri terhadap ahli waris Mamat Tristianto dan Hadi Wijaya, Moh Kalibi menjawab tidak tahu. Padahal, gugatan intervensi yang dilakukannya dengan istri ditolak seluruhnya oleh majelis hakim PN Jakarta Utara pimpinan Rianto Adam Pontoh SH MH. Disebutkan pula bahwa SHP 247 dan 248 berlaku terbatas hanya untuk pasangan suami istri itu sendiri.

Padahal, ketika ditanya JPU Yerich Sinaga SH MH, siapa yang mengajukan permohonan SHP atas nama istrinya Siti Mutmainah dijawab Moh Kalibi dirinya sendiri. "Tidak tahukah saudara terdakwa bahwa mengurus SHP itu harus pemohon bersangkutan? Tidakah disarankan pegawai kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN) Jakarta Utara agar  diurus yang bersangkutan atau dibuatkan surat kuasa kepada saudara?" tanya Yerich. Moh Kalibi menjawab segala sesuatunya telah dipercayakan pengurusannya dengan pegawai kantor BPN Jakarta Utara Toto Budiharto (kini sudah almarhum).

Berdasarkan ketentuan yang berlaku, proses penerbitan SHP harus diajukan sendiri oleh bersangkutan/pemiliknya. Kalau berhalangan, maka harus diberi kuasa untuk yang mengurusnya. 

Tidak demikian dengan SHP 247 dan 248. Meski Warkah permohonan SHP tersebut tidak sebagaimana adanya, yaitu salah satu KK di salah satu permohonan istri Moh Kalibi bernama Sarovia adalah istri orang lain atau kakak iparnya, sementara di permohonan SHP lainnya  di dalam KK tercatat istrinya Siti Mutmainah, kedua permohonan SHP tetap saja dikabulkan BPN Jakarta Utara melalui Toto Budiharto.

Menanggapi utuntasnya menjalankan tugas menghadirkan saksi a charge atau memberatkan, JPU Yerich Sinaga yakin betul bahwa dirinya telah berhasil membuktikan apa yang didakwakan terhadap terdakwa Moh Kalibi. Tindak pidana membuat atau menggunakan dokumen (KK) yang diduga palsu terbukti secara sah dan meyakinkan selama persidangan.

Hal itu, menurut Yerich Sinaga, dapat dibuktikan dan dilihat dari keterangan para saksi yang saling bersesuaian satu dengan lainnya menunjukkan adanya perbuatan pidana dilakukan terdakwa sebagaimana dipersalahkan dalam surat dakwaan. Walaupun terdakwa tidak pernah mengakui memalsukan KK sebagai persyaratan permohonan SHP, yang mengajukan permohonan SHP 247 dan 248 dan untuk menjadi atas namanya dan istrinya adalah terdakwa sendiri tentunya demi kepentingan diri sendiri dan istri.

Akibatnya, tanah di Jalan Kramat Jaya, Tugu Utara, Koja, Jakarta Utara, yang diovergarap Hadi Wijaya dari Mamat Tristianto berubah menjadi atas nama Moh Kalibi dan Siti Mutmainah. Padahal, Hadi Wijaya tak pernah mengover atau menjual lahan seluas 7.168 m2 kepada orang lain, termasuk Moh Kalibi dan istri Siti Mutmainah sejak dibeli dari Mamat Tristianto. JPU Yerich Sinaga berkeyakinan tidak ada orang lain punya motif untuk memalsu KK kemudian menyelundupkannya ke berkas permohonan SHP yang diajukan terdakwa Moh Kalibi.

Keterangan saksi-saksi JPU yang saling bersesuaian, kata Yerich, menguatkan apa yang didakwakan bahkan diperkuat lagi dengan keterangan dua ahli hukum perdata maupun ahli administrasi  pertanahan. Dalam persidangan sebelumnya ahli hukum perdata menegaskan suami istri tidak boleh saling menghibah atas harta tidak bergerak (tanah). Tanah di Jalan Kramat Jaya yang dipersengketakan atau Hadi Widjaya setelah membeli hak garapnya dari Mamat Tristianto (alm), terdakwa Moh Kalibi menghibahkannya sebagian ke istrinya Siti Mutmainah.

Padahal, menurut ahli administrasi pertanahan,  selain pemohon harus mengurus sendiri SHP, Warkah termasuk KK tidak boleh hanya fotocopi atau harus ditunjukkan aslinya. Sampai saat ini KK asli yang mencatat Moh Kalibi beristri Sarovia tidak pernah bisa ditunjukkan. Sarovia sendiri bukanlah istri kedua Moh Kalibi, melainkan istri abang iparnya.

"Saya merasa puas daya yakin benar bahwa apa yang saya dakwakan terbukti dalam persidangan," kata Yerich. Dengan begitu dia optimis requisitornya nanti bakal dikuatkan majelis hakim dalam putusan akhirnya.***

Editor : Dwi Putro Agus Asianto