logo

Memburu Malam Seribu Bulan

Memburu Malam Seribu Bulan

02 Mei 2021 13:19 WIB

SuaraKarya.id -  

Oleh: H. Achmad Ridwan, SE, MM

Suatu ketika Rasulullah sholallahu ‘alaihi wassalam sedang berkumpul dengan para sahabatnya di bulan Ramadan, beliau terlihat tersenyum sendiri, lalu ditanya oleh para sahabatnya; “Apa yang membuatmu tersenyum ya Rasulallah?”. 

“Diperlihatkan kepadaku di hari akhir ketika seluruh manusia dikumpulkan di padang Masyhar, ada seorang Nabi yang membawa pedang dan tidak mempunyai pengikut satu pun, masuk ke dalam surga, dia adalah Nabi Syam’un”.

Nabi Syam’un memiliki beberapa nama; dalam bahasa Arab Syamsyam atau Syam’un, dalam bahasa Ibrani disebut Simson dalam bahasa Tiberias disebut Shimshon, dalam Alkitab Nasrani disebut Samson. Nama Syam’un sendiri artinya “yang berasal dari matahari”, sedangkan Al Ghozi artinya “yang berasal dari Ghazi (Ghaza, Palestina sekarang).

Kemudian Rasulallah bercerita tentang seorang Nabi bernama Syam’un al Ghazi ‘alaihis salam. Belaiu adalah Nabi yang bersasal dari Bani Israil yang di utus di tanah Romawi. Nabi Syam’un Al Ghozi AS. Berperang melawan bangsa yang menentang ketuhanan Allah Subhanahu wa ta’ala.

Nabi Syam’un Al Ghozi as. Adalah seorang pahlawan berambut panjang yang memiliki kemukjizatan dapat melunakan besi. Syam’un seorang muslim dan seorang ahli ibadah yang sangat disegani oleh kaum kafir. Syam’un beribadah selama seribu bulan, dimana selama seribu bulan tak pernah lepas dari shalat malam dan siangnya selalu berpuasa. 

Ketangguhan dan keperkasaan Nabi Syam’un dipergunakan untuk menentang kaum penguasa kaum kafir saat itu, yakni raja Israil.

Menghadapi kesaktian Nabi Syam’un al Ghazi as, membuat orang kafir kewalahan. Mereka mencari jalan untuk bisa menunduk- kannya, akhirnya ide licik pun ditemukan mereka menawarkan hadiah berupa uang dan perhiasan yang berlimpah kepada istri Nabi Syam’un, yang ternyata istri Nabi Syam’un ini adalah seorang kafir. Ia tergiur oleh iming-iming harta benda yang banyak dan rela berbuat jahat kepada suaminyaa sendiri, Nabi Syam’un.

Maka orang kafir memberikan ide agat dia mengikat tangan dan kaki Syam’un sewaktu tidur, untuk kemudian akan dibunuh beramai-ramai. Para pembesar kafir berkata; “Kanu akan memberimu seutas tali kuat, ikatlah tangan dan kakinya ketika dia tidur, nanti setelah itu kamilah yang bertindak untuk membunuhnya.”

Pada hari pertama istri Syam’un gagal karena ketiduran yang disebabkan karena suaminya terlalu lama mengerjakan sholat malam. Lama waktunya itu sehingga membuat istri Syam’un tak kuasa menahan kantuk yang amat sangat. Memang Syam’un tidurnya sedikit saja dalam semalam. Dimana malam-malamnya hanya dipergunakan untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.

Keesokan harinya istri Syam’un lapor kepada kaum kafir bahwa dia belum berhasil mengikat tangan kaki suaminya, mereka tidak mempermasalahkan hal ini.

Pada hari kedua, istri Syam’un berhasil mengikat suaminya ketika tidur dengan seutas tali yang kuat. Tatkala Syam’un bangun dan ingin beribadah kepada Allah SWT, iia terkejut karena kedua kakinya terikat.

“Wahai istriku, siapakah yang mengikatku dengan tali ini?” Tanya Syam’un kepada istrinya.

“Aku yang mengikat, hanya sekedar mengujimu sampai sejauh mana kekuatanmu,” ujar istrinya. 

Syam’un dengan mudah dapat memutuskan tali yang mengikatnya dengan satu ucapan doa, kemudian ia bergegas menuju tempat peribadatannya. Maka gagalah rencana pembunuhan pada hari kedua itu. 

Pada hari ketiga, kau kafir datang lagi dengan membawa rantai dan istri 

Syam’un berhasil mengikat suaminya dengan rantai. “Wahai istriku, siapakah yang mengikat kali ini?” Tanya Syam’un dengan nada agak marah ketika bangun dari tidur.

“Aku yang mengikatnya, sekedar untuk mengujimu,” jawab istrinya. Namun dengan sekali hentakan Syam’un dapat memotong rantai besi itu.

Kemudian istri Syam’un membujuk agar suaminya mau bercerita rahasia kekuatannya. Pada akhirnya Syam’un bercerita juga.

“Wahai istriku, aku adalah wali diantara banyaknya wali kekasih Allah di dunia ini, tidak ada yang sanggup mengalahkan diriku, aku punya rambut panjang ini, ketauhilah bahwa tidak ada seorang pun yang mampu mengalahkanku dalam perkara dunia kecuali rambutku ini,” jelas Syam’un.

Syam’un memang memiliki rambut yang panjang dan panjangnya di gambarkan bahwa ujung rambutnya akan menyentuh tanah saat Syam’un berdiri.

Karena sudah mengetahui kelemahan suaminya, akhirnya pada saat Syam’un tidur mulailah istrinya mengikat tangan Syam’un dengan empat helai rambutnya dan mengikat pula kakinya dengan empat helai rambut milik Syam’un.

Ketika bangun bangun Syam’un bertanya, “Wahai istriku siapakah yang mengikatku ini?”

“Aku, untuk mengujimu,” jawab istrinya yang mulai ketakutan.

Setelah itu Syam’un berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan ikatan itu, namun tidak berdaya untuk memotongnya.

Si istri langsung saja, memberitahukan kepada kaum kafir tentang hal ini. Syam’un Al Ghozi as lalu dibawa ke istana kehadapan raja yang kafir, kemudian diikat pada tiang utama dan dipertontonkan kepada khalayak istana.

Mulailah mereka memotong kedua telinga, bibir, kedua tangan dan kakinya. Tidak hanya itu, Syam’un juga disiksa dengan dibutakan matanya, mereka menyiksa Nabi Syam'un’dengan tujuan agar beliau mati secara perlahan-lahan. Istrinya yang jahat, ikut pula menyaksikan penyiksaan tersebut tanpa rasa belas kasihan.

Begitu hebatnya hebatnya siksaan tersebut membuat Allah SWT lewat perantara malaikat Jibril berbicara dengan suaranya yang hanya bisa didengar oleh Nabi Syam’un al-Ghazi.

“Hai Syam’un apa yang engkau inginkan, Aku akan menindak mereka.”

Nabi menjawab, “Ya Allah, berikanlah kekuatan kepadaku hingga aku mampu menggerakan tiang istana ini, dan akan kuhancurkan mereka dengan kekuatan dari Allah. Bismillah la haula wa la quwwata illa billahi!” 

Doa Nabi Syam’un al-Ghazi as dikabulkan Allah SWT, ia diberi kekuatan yang tidak bisa dibayangkan dan melebihi kekuatan rambutnya. Syam’un beringsur sedikit saja, putuslah tali rambut itu bahkan tiang itu pun rubuh menimpa raja bersama seluruh khalayak istana termasuk istrinya yang durhaka dan orang-orang yang telah menyiksanya. Mereka semua mati tertimpa runtuhan istana dan terkubur di sana. Hanya nabi Syam’un sendiri yang selamat, lalu Allah mengembalikan seluruh anggota badan yang telah terpotong dan menyembuhkan segala sakitnya.

Setelah peristiwa itu, Nabi Syam’un al-Ghazi bersumpah kepada Allah SWT akan menebus semua dosanya dengan berjuang menumpas kebatilan dan kekufuran, malamnya beribadah kepada Allah siangnya berpuasa, dilakukan selama seribu bulan sampai ajalnya tiba.

Setelah mendengar kisah Nabi Syam’un al Ghazi as para sahabat Nabi Muhammad saw menangis terharu, bertanya kepada beliau.

“Ya Rasulullah, tahukah baginda akan pahalanya?”

“Aku tidak mengetahuinya,” Setelah berkisah itu, Allah SWT mengutus malaikat Jibril datang kepada Nabi Muhammad dan menurunkan surat Al Qadr.

“Hai Muhammad, Allah memberi Lailatul Qadr kepadamu dan ummatmu, ibadah pada malam itu lebih utama daripada seribu buan,’ ujar malaikat Jibril.

Mendengar berita itu, Rasulullah saw menyuruh sahabat-sahabatnya untuk berburu malam Lailatul Qadr agar mendapatkan pahala seperti yang Allah SWT kepada waliyullah Syam’un al Ghazi.

Apabila fajar telah terbit di malam Lailatul Qadr, maka malaikat Jibril berkata: Wahai para malaikat kumpul ke mari. Para malaikat berkata: apa yang diperbuat Allah pada mala mini kepada kaum muslimin dari ummat Nabi Muhammad. Jawab malaikat Jibril: Sesungguhnya Allah memandang kepada mereka dengan penuh kasih sayang, memaafkan serta mengampuni dosa-soda mereka, kecuali empat kelompok.

Para malaikat: siapa empat kelompok itu? Pertama, orang yang biasa minum arak dan mabuk-mabukan. Kedua, orang yang durhaka kepada orang tua. Ketiga, orang yang memutus silaturahim. Keempat, orang yang bertengkar dengan sesama tapi belum dalam dalam jangka tiga hari.

(dikutip dari Kitab Durratun Nasihiin, bab Lailatul Qadr, Syekh Utsman bin Hasan bin Ahmad Asy Syakir al Khaubawiyyi). ***

* H. Achmad Ridwan, SE, MM-Wakil Ketua III BAZNAS Propinsi Jabar, Bidang Perencanaan, Keuangan, Pelaporan.

Editor : Gungde Ariwangsa SH