logo

Pertemuan Jokowi - PM Vietnam Bahas Isu Kesehatan, Perundingan ZEE Hingga Stabilitas Kawasan

Pertemuan Jokowi - PM Vietnam Bahas Isu Kesehatan, Perundingan ZEE Hingga Stabilitas Kawasan

Foto: BPMI Setpres.
25 April 2021 07:12 WIB
Penulis : Pudja Rukmana

SuaraKarya.id - JAKARTA: Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) mengadakan pertemuan bilateral dengan Perdana Menteri Vietnam Pham Minh Chinh di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Jumat (23/04/2021). Pertemuan ini digelar sebelum ASEAN Leaders’ Meeting untuk mencarikan solusi terbaik bagi krisis Myanmar di Sekretariat ASEAN, Jakarta, Sabtu (24/04/2021).

Mengawali pertemuan, Presiden Jokowi memberikan ucapan selamat kepada PM Pham Minh Chinh yang telah dilantik sebagai PM Vietnam, 5 April 2021 lalu. PM Pham Minh Chinh menggantikan PM Nguyen Xuan Phuc sebagai Presiden Vietnam untuk periode 2021-2026.

“Di dalam pertemuan, Bapak Presiden terlebih dahulu menyampaikan ucapan selamat kepada Yang Mulia Pham Minh Chinh sebagai Perdana Menteri Vietnam yang baru,” ungkap Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno LP Marsudi usai mendampingi Presiden dalam pertemuan tersebut seperti ditayangkan dalam video Sekretariat Kabinet (Setkab).

Menurut Presiden Jokowi, Indonesia berkomitmen untuk terus menjalin hubungan bilateral yang saling menguntungkan untuk kepentingan rakyat kedua negara. Bagi Indonesia, Vietnam adalah sahabat dan mitra strategis Indonesia di kawasan Asia Tenggara. 

"Presiden juga menyampaikan harapan Indonesia dan Vietnam dapat terus bekerja sama agar kedua negara dapat keluar dari pandemi dan terus menjaga stabilitas dan keamanan di kawasan,” ujar Menlu.

Lebih lanjut Menlu menyampaikan, dalam pertemuan tersebut Presiden Jokowi fokus pada sejumlah isu.

Pertama, Presiden menekankan mengenai pentingnya penguatan kerja sama di bidang kesehatan. Kerja sama ini sangat penting, ditambah dengan adanya pandemi yang belum kunjung berakhir. “Presiden mendorong kedua negara untuk terus menyerukan kesetaraan akses vaksin bagi semua negara dan untuk jangka panjang menciptakan ketahanan kesehatan di Asia Tenggara,” ucap Menlu.

Kedua, Presiden juga menekankan pentingnya peningkatan kerja sama di bidang ekonomi. “Presiden mengajak Vietnam untuk menurunkan hambatan baik di bidang perdagangan maupun investasi,” ungkap Menlu.

Menurut Menlu, Vietnam adalah mitra perdagangan terbesar keempat Indonesia di ASEAN dengan nilai perdagangan kedua negara naik hampir 2 kali lipat dalam 5 tahun terakhir.

“Indonesia berada pada urutan ke 28 FDI (Foreign Direct Investment) Vietnam dan urutan kelima di antara FDI ASEAN. Investasi Indonesia di Vietnam antara lain berupa di bidang pertambangan, packaging, batu bara, semen, properti, peternakan, otomotif, dan lain sebagainya,” ujarnya.

Ketiga, Kepala Negara menekankan pentingnya percepatan perundingan perbatasan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) yang telah berlangsung 11 tahun. Presiden menyarankan agar tim teknis kedua negara dapat segera berunding kembali dan menyelesaikan negosiasi.

“Ditekankan oleh Presiden bahwa penyelesaian perundingan sangat penting, karena memberikan kejelasan mengenai wilayah ZEE masing-masing dan mengurangi kemungkinan adanya insiden kapal-kapal nelayan," ungkap Menlu. 

Presiden menegaskan bahwa klaim mengenai batas ZEE antarnegara harus diselesaikan berdasarkan hukum internasional, yaitu UNCLOS 1982. 

Krisis Myanmar

Presiden RI Jokowi dan PM Vietnam Pham Minh Chinh menyampaikan keprihatinan atas berlanjutnya kekerasan dan terus jatuhnya korban jiwa di Myanmar. Kedua pemimpin pun sempat bertukar pandangan mengenai situasi terakhir di Myanmar. 

“Posisi Indonesia terkait Myanmar dari sejak awal sudah sangat jelas, yaitu keselamatan dan kesejahteraan rakyat Myanmar menjadi prioritas. Kekerasan dan penggunaan senjata harus dihentikan sehingga korban tidak semakin bertambah, dan dialog inklusif harus segera dilakukan agar demokrasi, keamanan, perdamaian dan stabilitas dapat segera dikembalikan di Myanmar,” ujar Menlu mengutip pernyataan Presiden Jokowi.

Sementara itu PM Vietnam Pham Minh Chinh menyampaikan apresiasi atas inisiasi Indonesia, pertemuan pemimpin ASEAN (ASEAN Leaders’ Meeting - ALM) dapat digelar untuk membahas dan menemukan solusi terbaik bagi krisis Myanmar.

Memang, kalau ditengok ke belakang, ALM merupakan inisiatif Indonesia dan merupakan tindak lanjut pembicaraan antara Presiden Jokowi dengan Sultan Brunei Darussalam selaku Ketua ASEAN.

"Perdana Menteri Vietnam menyampaikan bahwa kekerasan harus segera dihentikan di Myanmar,” ungkap Menlu yang menekankan bahwa ALM digelar semata-mata memang untuk kepentingan rakyat Myanmar. ***

Editor : Pudja Rukmana