logo

Bangun Kepedulian Di Tengah Ramadhan

Bangun Kepedulian Di Tengah Ramadhan

24 April 2021 15:04 WIB

SuaraKarya.id -  

Oleh: H. Achmad Ridwan, SE, MM

Di medsos ada tulisan essay cukup menyentuh tentang dua orang yang sudah lama bersahabat begitu dekat. Diceritakan salah seorangnya berkunjung ke sahabat yang satunya sambil membawa anak yang masih kecil dan satu lusin piring keramik dan gelasnya untuk dijual ke sahabatnya itu. 

"Mba kalau boleh tau kenapa jual piring dan gelas ini?" tanyanya kepada sahabatnya itu. Yang dipanggil mba diam, tersenyum sesekali menghela nafsnya. Terlihat dari raut wajahnya terasa berat mau jawab pertanyaannya. "Mba… ga usah dijawab ga papa, maaf kalau pertanyaan ku salah gak ada maksud apapun."

Suasana mulai hening, si mba membuka suara sambil menunduk malu, "Aku butuh uang," begitu jawabnya sambil berkaca-kaca, "Semenjakkorona suami ku sudah diberhentikan dari tempat kerjanya 2 bulan yang lalu, usaha laundry-ku juga tutup sama sekali ga ada yang maunyuci, kita makan dari tabungan, tapi sekarang tabungan sudah habis… dua minggu lalu sempat gadai BPKB motor satu juta, kemaren aku jual kebaya laku 100 ribu. Aku bingung mau jual apalagi, lalu aku liat di lemari ada gelas dan piring keramikini aku inget kamu suka sama beginian, jadi aku beranikan diri buat ngejual ke kamu, aku mau jual seratus lima puluh ribu semuanya……."

Dada sang sahabat mulai sesak rasanya ingin numpahin tangis, mba jual piring sama gelasnya buatnya mbung hidup YaTuhan, aku ngerasa gagal jadi temen, katanya dalam hati……(diambil dari tulisan tanpa nama di medsos).

Saya yakin bahwa tulisan ini adalah mewakili fragmen yang nyata di masyarakat banyak, bahkan sebenarnya sering sekali kejadian yang serupa di sekitar kita.

Fungsi kemampuan mata dan telinga kitalah yang perlu dipertajam terhadap keadaan sekeliling, bahwa tertawanya sesorang belum tentu itu menandakan kebahagiaan, diamnya seseorang dalam urusan dunia bukan berarti dia berkecukupan, bisa jadi itu semuanya adalah kepura-puraan demi menutupi kekurangannya, keadaan demikian dikarenakan rasa malu kalau diketahui orang lain. Maka orang seperti inilah yang dikatakan tidak meminta-minta karena rasa malu (Al Qura’an: Al Maarij:25). Artinya, orang seperti ini pun harus diperhatikan supaya mendapatkan bagian dalam penyebaran harta dari orang-orang yang mengeluarkannya.

Ramadhan menjadi momen yang sungguh bagus untuk meraih segala kebaikan, terutama amalan sedekah. Bahkan, untuk urusan kepedulian terhadap sesama ini, Allah Subhanahuwata’ala mensejajarkannya dengan keimanan.

Tidaklah beriman seseorang yang kenyang sementara ada tetangganya yang kelaparan.(HR. Bukhori) Berarti percuma puasa, sholat tarawih, tadarus Al Qur’an, kalau Allah memvonis tidak beriman. Seperti kita ketahui amalan orang yang tidak beriman adalah hampa, tidak berbekas, seperti debu di atas batu terkena angin dan hujan hingga tak berbekas sama sekali.Itulah ganjaran orang yang enggan menolong tetangganya dianggap tidak beriman. Naudzubillahi min dzalik, kita berlindung kepada Allah dari hal demikian.

"Seandainya aku berjalan bersama saudara ku untuk memenuhi suatu kebutuhan, maka hal itu lebih aku cintai dari pada I’tikaf sebulan di masjidku ini." (diriwayatkan Ath Thabrani dari Ibnu Umar ra). 

Betapa besar pahalanya I’tikaf di Masjid Nabi. Puasa, sholat, baca Al Quran, dan berdzikir yang lipatan pahalanya dilipatkan jadi seribu kali dari tempat lain. Luar biasa. Tetapi ternyata hal itu masih kalah baiknya dibandingkan memberikan bantuan atau hajat kepada seseorang. Dalam hadits ini Rasulullah SAW menegaskan bahwa memberikan bantuan kepada seseorang untuk memenuhi hajatnya jauh lebih baik dan lebih besar pahalanya daripada I’tikaf di Masjid Nabawi. 

Apabila Nabi saw telah lebih mencintai amalan ini maka tidak patut bagi kita memilih dan memprioritaskan amal lain dan meninggalkan amal yang menjadi pilihan beliau. Namun perlu diingatkan bahwa pilihan perbuatan amal ini dilakukan kalau memangada dua pilihan amal tersebut.

Beranjak dari hadits tersebut di atas betapa Nabi SAW, lebih mengedepankan kepedulian sosial di kalangan ummatnya. Bisa difahami, ibadah akan dapat lancar dan tenang ketika tidak ada persoalan di masyarakat, sebaliknya jika masih ada masalah di masyarakat atau tetangga maka ibadah pun jadi kurang nyaman, karena itu persoalan yang ada di masyarakat itu harus diselesaikan terlebih dahulu. Begitulah Rasulullah SAW mendidik umatnya agar senantiasa peduli kepada sesama, apalagi kondisi sekarang ini yang tidak kondusif, Allah SWT, memberikan cobaan yang luar biasa dengan adanya wabah Covid-19 yang berdampak pada perekonomian global, banyak perusahaan gulung tikar yang mengakibatkan banyaknya PHK bagi karyawan, usaha-usaha kecil pun bangkrut dan masih banyak lagi rangkaian akibatnya.

Namun dampak itu tidak terkena bagis semua orang, ada banyak orang yang tidak terpengaruh dengan kondisi ini. Bahkan, kalau boleh dibilang malah lebih banyak atau mayoritas yang kondisinya tetap stabil.

Disinilah peran melaksanakan amalan sebagai orang yang peduli dengan sesama, seperti ajaran Rasul SAW itu. Kesempatan meraih pahala besar di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini adalah sebagai tujuan akhir darii badah. Mari fastabiqulkhoirot.

* H. Achmad Ridwan, SE, MM Wakil Ketua III BAZNAS Propinsi Jabar, Bidang Perencanaan, Keuangan, Pelaporan.

Editor : Gungde Ariwangsa SH