logo

Lasmi Sulastri, Legenda Ledhek Tayub Asal Grobogan

Lasmi Sulastri, Legenda Ledhek Tayub Asal Grobogan

Lasmi bercengkerama dengan Ganjar
21 April 2021 14:07 WIB
Penulis : Pudyo Saptono

SuaraKarya.id - GROBOGAN; Tembang Jawa Caping Gunung, mengalun indah dari mulut sang legenda Tayub Grobogan, Lasmi Sulastri, saat menyambut tamu spesialnya, Selasa (20/4/2021). Sungguh bukan tamu biasa yang datang ke rumahnya, di Dusun Sambong Harjo, Desa Kalisari, Kecamatan Kradenan, Grobogan.

Waranggono (ledhek) berusia 61 tahun itu nampak sumringah menyambut sang tamu, yang tak lain adalah Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo.

"Sugeng rawuh, monggo pinarak (selamat datang, silahkan duduk)," sapa Lasmi pada Ganjar usai melantunkan tembangnya.

Ganjar langsung duduk lesehan di atas tikar. Tak ada kursi meja atau ornamen menonjol di rumah sederhana itu. Hanya gambar sepasang penari tayub di dinding dan foto masa muda Lasmi yang terpampang di sana.

Obrolan Ganjar dan Lasmi pun berlangsung hangat. Diselingi canda tawa, Ganjar mendapat banyak cerita tentang masa lalu Lasmi yang moncer di dunia seni tempo dulu. Apalagi, beberapa kali Ganjar minta Lasmi menyanyikan lagu dan dituruti.

"Saya sudah 41 tahun berkecimpung di kesenian. Mulai karawitan, sinden wayang, ketoprak dan tayub. Tujuannya melestarikan kebudayaan Jawa Pak," kata Lasmi.

Lasmi mengatakan pernah tampil dengan bayaran hanya Rp15.000 untuk tiga orang. Zaman itu, bayaran segitu sudah sangat besar. Dan dari sana, ia terus menekuni dunia seni tayub hingga sukses dan terkenal. Ia bahkan beberapa kali pernah mengikuti sejumlah rekaman.

"Dulu saya laris, terkenal dan banyak undangan manggung, tidak pernah libur. Keliling ke sejumlah tempat, ikut rekaman dan lain-lain," terangnya.

Bahkan, Lasmi juga mengatakan telah memiliki lagu karyanya sendiri. Sejumlah lagu ia ciptakan, salah satunya yang paling terkenal adalah Rondo Ngguguk. Ia pun menyanyikan lagu itu pada Ganjar.

Lasmi juga mengeluarkan sebuah buku yang berisi catatan lagu yang biasa ia mainkan. Buku itu sudah sangat usang, dengan beberapa bagian lembarannya yang sudah sobek.

"Hanya ini, saya catat lagu yang ada, terus dibawakan saat tampil," jelasnya sambil menyanyikan beberapa lagu yang ada.

Namun seiring berjalannya waktu, nasib Lasmi kian meredup. Usianya yang tak lagi muda, membuatnya jarang mendapat undangan pentas. Alhasil, selama ini ia ngamen keliling daerah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kadangkala, ia juga mendapat kiriman dari anak semata wayangnya. Setelah bercerai dengan suami dan ibu meninggal, Lasmi tinggal di rumah itu seorang diri.

"Sekarang saya ngamen untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sudah tua nggak laku," candanya.

Ganjar pun menyemangati Lasmi. Ia meminta Lasmi tetap semangat melestarikan kebudayaan Jawa dan menularkan kepada anak-anak.

"Tetap semangat mbak, jangan patah semangat. Coba jenengan rekaman dan diupload ke internet. Apalagi sekarang puasa, lagi pandemi. Sudah, mbak Lasmi di rumah saja, ngarang lagu terus direkam dan diupload ke youtube," kata Ganjar.

Ganjar berjanji suatu saat mengajak Lasmi hadir dalam acara Panggung Kahanan. Pentas musik yang dibuat Ganjar khusus untuk mewadahi seniman Jateng itu akan dihelat di beberapa tempat selama ramadan.

"Sampeyan bisa mencoba, tampil di Panggung Kahanan. Saya percaya jenengan bisa tampil nanti," tegasnya.***

Editor : Dwi Putro Agus Asianto