logo

Perang Vaksin

Perang Vaksin

20 April 2021 01:15 WIB

SuaraKarya.id -  

Oleh: Gungde Ariwangsa SH

Musuh sudah menyerbu dan menguasai pelosok negeri. Menelan korban jutaan orang dan ribuan nyawa warga. Pasukan penangkal termasuk petinggi negeri malah “berperang” sendiri.  Ironi dalam menahan laju serangan pandemi virus corona (Covid-19) melalui vaksinisasi di Indonesia.

Di saat program vaksinisasi digulirkan dan digencarkan di seluruh Tanah Air. Muncul Vaksin Nusantara dan Vaksin Merah Putih. Bukan seiring sejalan saling memperkuat namun justru saling silang. Vaksin Nusantara selain disambut pro dan kontra juga seperti diadu dengan Vaksin Merah Putih.  

Tak pelak lagi, kontroversi yang muncul. Di bagian lain, keperihatinan masih terus berlanjut. Covid-19 yang sudah setahun lebih menyerbu Indonesia masih terus memakan korban. Padahal program vaksinisasi sudah digulirkan dan digencarkan di seluruh Tanah Air.  Seiring dengan itu protokol kesehatan sudah bertransformasi dari 3 M menjadi 5 M (Mencuci Tangan, Memakai Masker, Menjaga Jarak, ditambah Menjauhi Kerumunan dan Mengurangi Mobilitas).

Vaksin Nusantara dikembangkan mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto. Vaksin ini yang dikembangkan oleh peneliti di RSUP Dr Kariadi Semarang, bekerja sama Kementerian Kesehatan dengan AIVITA Biomedical. Vaksin berbasis Sel Dendritik ini merupakan solusi yang ditawarkan bagi pasien komorbid atau penyakit penyerta.

Sel dendritik ini disesuaikan dengan kondisi pasien. Artinya, memungkinkan cocok diberikan kepada penderita komorbid yang tidak bisa menerima vaksin biasa.  Vaksin akan memberikan kekebalan terhadap Covid-19.

Dalam bagian lain, ada Vaksin Merah Putih yang dikembangkan oleh enam lembaga dalam negeri, yakni LBM Eijkman, Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Institut Teknologi Bandung, dan Universitas Airlangga. Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman akan segera menyerahkan seed atau bibit vaksin Merah Putih kepada Bio Farma untuk diproses lebih lanjut. LBM Eijkman saat ini memasuki tahapan akhir dalam pengembangan bibit vaksin Covid-19 berbasis protein rekombinan itu.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Republik Indonesia memberikan tanggapan berbeda terhadap kehadiran Vaksin Nusantara dan Vaksin Merah Putih. Kepala BPOM Penny K Lukito enggan memberikan komentar saat peneliti Vaksin Nusantara tetap melanjutkan tahapannya meski tak sesuai rekomendasi pihaknya. Hasil penilaian Badan POM terkait fase pertama uji klinik fase 1 vaksin dendritik atau Vaksin Nusantara belum bisa dilanjutkan ke uji klinik fase dua. BPOM memberikan penilaian bahwa penelitian tersebut tidak masuk kategori riset ilmiah sesuai standar internasional.

Sedangkan untuk Vaksin Merah Putih,  Penny K. Lukito menyebut, vaksin ini dapat diproduksi massal mulai awal tahun 2022. Vaksin dengan platform inactivated virus ini menjadi vaksin pertama yang akan diproduksi massal, lantaran kini telah memasuki tahapan uji praklinik atau uji pada hewan. Jika lolos uji praklinik maka dilanjutkan ke tahapan uji klinik I,II, dan III dengan target penyelesaian 2021.

Penny mengatakan, vaksin Merah Putih dari Unair bermitra dengan PT Biotis Pharmaceuticals Indonesia. Untuk itu sesuai prosedur keamanan dan efektivitas pembuatan vaksin, pihaknya terus mendampingi produksi massal tersebut. Ini untuk bisa memenuhi Good Manufacturing Practice (GMP) dan Good Laboratory Practice (GLP). Ini akan dipenuhi dalam beberapa bulan ke depan.

Dalam kondisi demikian, tanggapan masyarakat juga terbelah. Ternyata banyak tokoh yang mendukung dan sudah memakai Vaksin Nusantara. Bahkan beberapa, tercatat 40 orang, anggota DPR RI ingin menjadi relawan uji klinik vaksin tersebut.

Diantara para tokoh itu ada mantan menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Aburizal Bakrie dan mantan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari. Aburizal yang politikus senior Partai Golkar disuntik vaksin Nusantara pada Jumat (16/4/2021) di Rumah Sakit Pusat Angkatan darat (RSPAD) Gatot Soebroto. Dia  langsung disuntik oleh mantan Terawan.  Sedangkan Siti mengikuti pengambilan sampel darah untuk uji klinik vaksin Nusantara di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta, Kamis (15/4/2021). Kemudian  Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad menjadi salah satu relawan uji klinis fase II Vaksin Nusantara tersebut.

Namun dalam bagian lain, dukungan juga mengalir ke BPOM yang menyebut Vaksin Nusantara belum bisa dilanjutkan ke uji klinik fase dua, sudah clear sampai di situ dan menegaskan Vaksin Merah Putih dapat diproduksi massal mulai awal tahun 2022. BPOM mendapat dukungan terbuka dari lebih dari 100 orang mulai dari akademisi, epidemiolog, pengacara, pengusaha sampai mantan Wakil Presiden (Wapres) RI. Dukungan terbuka tersebut bertujuan agar BPOM tetap menjalankan tugasnya untuk menjamin obat dan makanan yang dikonsumsi masyarakat betul-betul aman sesuai dengan kaidah dan prosedur ilmiah.

Sama-sama memiliki argumentasi dan mendapat dukungan. Vaksin Nusantara sudah ada yang disuntikan kepada pemakainya. Vaksin Merah Putih baru akan diproduksi awal 2022. Pro kontra dan silang pendapat ini seharusnya segera diatasi sehingga tidak menimbulkan kebingungan pada masyarakat. Akibatnya akan buruk bila sampai masyarakat memiliki tanggapan lain yang justru menghambat dan merugikan program vaksinasi yang kini tengah gencar dilakukan.

Otoritas pengambilan keputusan segera memberi kepastian. Menolak dengan tegas atau mengakui vaksin yang ada sebagai kekayaan dan senjata tambahan untuk menghadang  Covid-19.  Bila sama-sama berhasil maka bukan saja menguntungkan dan bermanfaat bagi masyarakat namun juga kebanggaan Indonesia karena mampu melahirkan produk karya anak bangsa sendiri dalam melawan virus ganas yang bermula dari China itu.  ***

  • Gungde Ariwangsa – wartawan suarakarya.id, pemegang Kartu UKW Utama, Ketua Siwo PWI Pusat.

Editor : Gungde Ariwangsa SH