logo

Dorong Inovasi Bagi Perajin Batik, KPwBI Solo Beri Pelatihan

Dorong Inovasi Bagi Perajin Batik, KPwBI Solo Beri Pelatihan

Kepala KPwBI Solo Nugroho Joko Prastowo memperagakan pengecapan batik di sela pelatihan kepada UKM batik di Solo
14 April 2021 16:23 WIB
Penulis : Endang Kusumastuti

SuaraKarya.id - SOLO: Sebanyak 24 pelaku usaha batik dari beberapa daerah di Jawa Tengah mendapatkan pelatihan dari Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Solo, Jawa Tengah. Melalui pelatihan yang dilaksanakan di rumah batik Gunawan Setiawan, Kampoeng Batik Kauman, Solo, Rabu (14/4/2021) hingga Kamis (15/4/2021) tersebut diharapkan dapat memacu kompetensi para perajin batik sekaligus mendorong terciptanya inovasi produk.

"Fokus materi pelatihan yang diberikan adalah desain, motif dan pewarnaan kekinian yang digemari pasar dalam negeri dan global," jelas Kepala KPwBI Solo, Nugroho Joko Prastowo, di sela-sela pelatihan.

Pelatihan tersebut juga merupakan rangkaian acara Kenduren (Berkembang dan Berinovasi Menjadi UMKM Keren) yang akan dilaksanakan April 2021 mendatang.

Menurut Nugroho, pelatihan kali ini dilaksanakan di sentra batik untuk menunjukkan jika sesama perajin batik saling memberikan dukungan.

"Batik itu merupakan komoditas yang unik, yakni merupakan warisan budaya yang jangan sampai punah. Selain itu juga sebagai komoditas harus mengikuti perkembangan," jelasnya lagi.

Jika batik tidak mengikuti perkembangan maka akan tidak laku. Pengembangan batik perlu dilakukan dengan masuk ke fashion dan pewarnaan. Dalam pelatihan tersebut juga diberikan pelatihan pewarnaan dengan bahan alami.

Pengrajin batik didorong terus berinovasi mendapatkan berbagai varian warna alam. Metode pewarnaan alam dengan memanfaatkan daun dan kayu yang cukup melimpah seperti dari pohon mangga, kulit manggis, mangrove, kersen, dan lain-lain.

"Dulu batik hanya buat kain jarik sekarang bisa untuk fashion. BI Solo konsern terhadap batik karena warisan budaya dan memiliki peran ekonomi besar. Dalam ekonomi kreatif ada 3 subsektor yang mendominasi yakni kuliner, fashion didalamnya ada batik dan kerajinan," katanya.

Menurut salah satu narasumber pelatihan, Bayu Aria, pengusaha batik dan pengajar di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta mengatakan materi yang diberikan dalam pelatihan tersebut mulai dari pengenalan segmen pasar hingga mampu menciptakan produk.

"Contohnya saat ini warna-warna pastel lebih digemari generasi milenial. Pasar batik yang efisien dan ramah lingkungan terus meningkat," kata Bayu yang dikenal dengan produk motif Batik hoko_ntul itu.

Sementara itu salah aatu pengusaha batik dari Solo, Gunawan Setiawan menyambut baik pelatihan yang diberikan BI Solo tersebut.

"Kami mendukung pelatihan seperti ini, kemarin saya diskusi dengan BI Solo dan pelatihan seperti ini memang dibutuhkan karena batik butuh regenerasi," kata Gunawan.

Apalagi selama pandemi perajin batik sangat terpukul. Bahkan hampir di titik mol, hal ini juga terjadi di klaster batik di daerah lain. Salah satu peserta pelatihan,

Nyoto Mulyono yang juga perajin Batik Girilayu, Matesih Karanganyar mengatakan materi pelatihan yang diberikan BI Solo sangat dibutuhkan bagi pelaku usaha UKM batik.

"Di Girilayu selama ini memproduksi batik tradisional dan sudah memiliki konsumen tersendiri. Sekarang mulai menyasar ke konsumen milenial sehingga materi pelatihan bisa diterqpkan," kata Koordinator Kelompok Perajin Batik Giriarum itu. ***

Editor : Gungde Ariwangsa SH