logo

Tanto Mendut, Seniman Gaek Berjuluk Pendekar Lima Gunung

 Tanto Mendut, Seniman Gaek Berjuluk Pendekar Lima Gunung

Pertunjukan seni di rumah Tanto Mendut
08 April 2021 15:22 WIB
Penulis : Pudyo Saptono

SuaraKarya.id - MAGELANG: Alunan gamelan mendayu-dayu syahdu di rumah Tanto Mendut, saat Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, mampir ke rumahnya, Rabu (7/4/2021) malam. Empat perempuan menari, menambah meriah sambutan sang Pendekar Lima Gunung.

Minuman segar markisa dan sajian makanan ala Jepang, menemani obrolan Ganjar dengan seniman gaek asal Magelang itu. Makanan itu disajikan sendiri oleh istri Tanto Mendut yang juga orang Jepang, Mami Kato.

Obrolan gayeng keduanya berlangsung cukup lama. Gelak tawa kerap terdengar disela obrolan santai nan gayeng itu. Dari pukul 20.30 WIB, pertemuan baru usai sekira pukul 23.00 WIB.

Bukan tanpa maksud Ganjar berkunjung ke rumah Tanto Mendut. Ditetapkannya kawasan Borobudur sebagai destinasi super prioritas nasional yang kini sedang dikebut, menjadi alasannya.

Menurut Ganjar, Borobudur tidak cukup hanya dikembangkan dengan pembangunan fisik. Penggalian nilai historis, nilai budaya, seni, arsitektur yang sangat bagus harus digali sebagai bagian pengembangan Borobudur.

"Saya ingin menjadikan Borobudur sebagai destinasi wisata yang lengkap dan utuh. Maka saya menemui mas Tanto Mendut, sebagai bagian mewujudkan itu," kata Ganjar.

Salah satu kegiatan yang ingin diwujudkan Ganjar dengan Tanto Mendut dalam waktu dekat, adalah menghidupkan seni musik dan tari. Ganjar ingin membuat sebuah acara bernama Sound of Borobudur, yakni pagelaran musik dan tari seperti yang tergambar dalam relief-relief Borobudur.

"Saya ingin mengembangkan banyak hal dari Borobudur, salah satunya adalah musik dan tari. Sound of Borobudur tentu akan membuat pengembangan kawasan ini semakin menarik," ucapnya.

Tanto Mendut mendukung penuh langkah pemerintah melakukan penataan kawasan Borobudur secara menyeluruh. Tidak hanya fokus pada candinya, namun banyak hal lain yang bisa dikembangkan.

"Borobudur ibarat pusaka, ini mutiara yang memiliki banyak dimensi. Ada gunung, ada desa-desa, masyarakat, binatang dan lainnya," kata Tanto.

Borobudur juga tak hanya bangunan semata. Ia merupakan pusaka yang mengajarkan tentang teknologi, arsitektur, pengobatan, seni, budaya dan banyak hal lainnya.

"Borobudur punya banyak sekali nilai-nilai yang bisa dikembangkan. Saya sendiri telah diundang ke Hiroshima, ke Istanbul untuk menjadi pembicara soal Borobudur, baik dari arsitekturnya, habitatnya dan lain sebagainya," imbuhnya.

Satu yang tak boleh dilupakan pemerintah dalam hal pengembangan Borobudur adalah, Borobudur merupakan karya seni. Sehingga, pengembangan kawasan itu harus merangkul seniman dan budayawan yang ada di sekitarnya.

"Merangkul dalam makna yang kualitatif, jadi benar-benar menggerakkan seniman untuk mengisi ruang-ruang itu. Jangan lupa juga merangkul petani, karena Borobudur juga karya petani," pungkas Tanto Mendut.***

Editor : Markon Piliang