logo

Usia  21 Tahun,  Kota Sorong  Termaju Di Tanah Papua

Usia 21 Tahun, Kota Sorong Termaju Di Tanah Papua

27 Februari 2021 20:54 WIB

SuaraKarya.id -  

Oleh: Yacob Nauly

Perjuangan  panjang  kota Sorong  untuk mencapai titik kemajuan  seperti sekarang,  tidak  semudah membalik tangan. Kota Sorong  awalnya  hanyalah sebuah kota Administratif  status organisasinya berdasarkan PP Nomor  31 Tahun  1996 tertanggal 3 Juni 1996.  

Karena  administratif  Kota Sorong, Papua Barat, bukanlah daerah otonom sebagaimana kotamadya atau kota. Dan, karena itu tidak memiliki Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Akibatnya, kota administratif Sorong  harus ditingkatkan  menjadi kota.

Berdasarkan  Undang-Undang Nomor  45 Tahun 1999 Kota Administratif Sorong, ditingkatkan statusnya menjadi daerah otonom sebagai Kota Sorong.

Sesuai perkembangannya, tercatat  12 Oktober 1999 Pejabat Walikota  Sorong, Drs. J.A. Jumame dilantik sebagai  walikota difinitif. Selanjutnya, pada 28 Februari 2000 resmi, Kota Sorong terpisah dari  kabupaten Sorong.Saat itu, walikota Sorong, Drs J.A.Jumame dan  Wakil Walikota, Hj. Baesara Wael, S.Sos., MH.

Sebagai  pintu masuk ke Papua dari Timur Indonesia,Kota Sorong  dipersiapkan   untuk  memacu  peluang bagi investasi.  Untuk memacu hasrat  investor menanamkan  investasinya di  Papua dan Papua Barat, maka berbagai fasilitas pendukung pun dibangun.

Bandara dan pelabuhan laut menjadi fasilitas pendukung  yang harus disiapkan  Papua Barat khususnya  Kota Sorong dan sekitarnya, seperti  Sorong Raya. Peluang investasi utama di daerah Sorong Raya adalah  ekplorasi dan eksploitasi  minyak dan  gas (Migas).

 Seperti  diketahui,  di Sorong Raya  pada sejumlah daerah  terdapat  sumur minyak bumi  lepas pantai. Meski belakangan   Joint Operating Body (JOB) Pertamina-Petrochina Salawati di Kabupaten Sorong, Papua Barat, ditutup karena sudah tidak dapat menghasilkan minyak lagi.

 Potensi yang lain adalah di sektor perikanan laut dan hasil pertanian. Sarana pelabuhan perikanannya terbilang lengkap karena adanya dermaga perikanan milik swasta, yakni dermaga PT Wifi dan PT Citra Raja Ampat Canning.

Belum lagi pangkalan pendaratan ikan yang dilengkapi dengan gudang dan tempat pelelangan, sarana cold storage, serta pabrik es dan lainnya.

Perkembangan pembangunan ketika dipimpin Walikota Lambertus Jitmau dan wakilnya dr. Pahima Iskandar tahun 2012 hingga  2021 terbilang  maju.

Badar Udara (Bandara) yang dahulunya  berada di  Pulau Jefman, yang harus ditempuh dengan perahu mesin tempel atau kapal Feri  dengan waktu satu hingga 2 jam, kini  sudah  belokasi di  pusat Kota Sorong. Bandara DEO, namanya.

Kini  justru Bandara DEO merupakan  pelabuhan udara tercanggih di Papua dan Papua Barat. Hampir  seluruh fasiitas penunjang terminal  Bandara ada di  Bandara DEO Kota  Sorong ini.

Tak ketinggalan  Pelabuhan  Laut Kota Sorong yang terbilang canggih dengan berbagai  fasilitas bongkar muat barang milik PT Pelindo IV Sorong.

Jika beberapa tahun lalu areal pelabuhan Sorong yang hampr menyentuh  bahu jalan,  itu dihiasi dengan tumpukkan container di ketinggian 10 hingga 15 meter. Kini jika anda melewati jalan pelabuhan Sorong tak terlihat lagi tumpukkan container tersebut.

Dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi, Kota Sorong memiliki  kawasan pusat  perekonomian di daerah ini. Kawasan tersebut terletak pada lahan reklamasi pantai Dofior, Kota Sorong.  Menurut rencana pusat perekonomian  kota Sorong,  juga mendukung pertumbuhan ekonomi pada  daerah  kabupaten  sekitar Sorong Raya.

Di Kota Sorong, juga  didirikan pasar modern,  yang berada di Kelurahan  Klawasi. Pasar ini, menurut rencana akan dibangun fasilitas pendukung seperti terminal  pedesaan. Terminal, tersebut membantu perputaran ekonomi  warga pedesaan (kampung) yang akan memasarkan hasil produksi pertanian dan perkebunan  di Kota Sorong.

Dari aspek lain, Walikota Sorong, Lambertus Jitmau  berulangkai meminta  menajemn PT Pelindo IV Sorong, untuk menertibkan areal pelabuhan. Dan terbukti hari ini areal pelabuhan Sorong terlihat tertib indah menyenangkan. Ini, bukti keseriusan Walikota Sorong membangun daerahnya.

Pertumbuhan ekonomi,keuangan bahkan infrastrukur fisik  kian membahana  memperindah Kota Sorong di pusat  hingga ke kawasan pinggiran.

Meski demikian,  masalah  banjir hingga kini masih sering terjadi akibat drainase yang tak mampu menahan luapan air hujan dari perumahan warga kota.

Bidang  kesehatan khususnya  di era pandemi Covid-19, Walikota  Lambertus Jitmau telah banyak berbuat. Di Kota Sorong,  disiapkan sejumlah gedung untuk menampung  pasien Covid-19 . Para pasien dirawat hingga sembuh. Di samping,  imbauan terus dilakukan kepada masyarakat untuk  menjalankan 3 M. Yaitu, memakai masker, menjaga jarak fisik dan mencuci tangan di air mengalir dengan sabun.

Direncanakan dalam waktu yang tak lama lagi Kota Sorong membuka kembali  belajar tatap muka di sekolah. Tentunya rencana belajar tatap muka itu disesuaikan dengan kondisi daerah. Meski, belum lama ini Menteri Pendidikan, Dr. Nadiem Makarim,  menyerahkan  izin belajar tatap muka kepada daerah termasuk Kota Sorong.

Walikota Jitmau, juga memperhatian pendidikan bagi warga asli Kota Sorong (suku Moi). Setiap tahun,  warga asli tersebut mendapat prioritas bantuan mulai dari beasiswa hingga asrama bagi mahasiswa Moi di dalam dan  luar Kota  Sorong.

Begitulah perkembangan pembangunan di Kota Sorong saat ini. Tentunya,  wajah kota ini  sangat maju dibanding dengan kota lainnya di Papua dan Papua Barat. Artinya, Kota Sorong termaju di Papua dan Papua Barat.

Satu lagi yang paling penting,  bahwa sosok Walikota Lambertus Jitmau, ini adalah satu-satunya putra asli Papua yang tak pernah takut dikritik. Ia justru meminta dikritik agar  dalam perjalanannya  memimpin   daerah ini tak terjadi penyelewengan jabatan dan lainnya.

Geografis
Perlu diketahui  geografisnya.  Kota Sorong berada pada koordinat 131°51′ Bujur Timur dan 0° 54′ Lintang Selatan dengan luas wilayah 1.105 km2 terdiri dari 4 Distrik dan 20 Kelurahan.
Batas-batas geografis Kota Sorong adalah sebagai berikut:
• Sebelah Barat berbatasan dengan Selat Dampir
• Sebelah Utara berbatasan dengan Distrik Makbon dan Selat Dampir
• Sebelah Timur berbatasan dengan Distrik Makbon
• Sebelah Selatan berbatasan dengan Distrik Aimas dan Distrik Salawati Kabupaten Sorong
Jumlah Penduduk Kota Sorong pada tahun 2003 tercatat 144.033 jwa. Komposisi penduduk Kota Sorong tergolong penduduk muda dimana prosentase penduduk pada kelompok umur muda lebih besar daripada kelompok umur tua.
Potensi Wilayah

Suasana sore hari di Pelabuhan Sorong
Obyek Wisata
• Objek Wisata Alam:
 Taman Wisata Alam Sorong (Distrik Sorong Selatan)
 Pulau Raam/ Pulau Buaya (Distrik Sorong Kepulauan)
 Wisata Alam Pulau Sop (Distrik Sorong Kepulauan)
 Wisata Alam Pulau Dofior (Distrik Sorong Kepulauan)
 Tembok Dofior (Distrik Sorong).
• Objek Wisata Tirta/Bahari:
 Taman Rekreasi Pantai Tanjung Kasuari (Distrik Sorong Barat)
• Objek Wisata Budaya:
 Wisata Sejarah Pangkalan Jepang di Pulau Sop (Distrik Sorong Kepala)
 Bangunan Heritage atau Jabatan Hoofd Plaats Besteur di Pulau Doom (Distrik Sorong Kepulauan)
• Objek Wisata Agro:
 Hutan Wisata Arboretum Klasaman (Distrik Sorong Timur).

28 Februari 2021 menjadi  HUT Kota Sorong ke-21. Meski   tak  dapat dirayakan secara meriah, namun warga Sorong bersyukur. Bahwa, daerah ini sudah melewati masa-masa sulit terjangan pandemic Covid-19. (Sumber: Data Pemda Kota  Sorong).

“Di usia yang  ke-21 tahun, warga  harus tetap semangat meraih mimpi agar masa  depan Kota Sorong   terarah." ***

* Yacob Nauly, Pemegang Kartu Utama UKW Dewan Pers,  Wartawan suarakarya.id dan Sekretaris Dewan Penasehat PWI Sorong Raya.,

Editor : Gungde Ariwangsa SH