logo

Indonesia Darurat Pariwisata, Banyak Pelaku Wisata Beralih Jadi Kurir Narkoba

Indonesia Darurat Pariwisata, Banyak Pelaku Wisata Beralih Jadi Kurir Narkoba

27 Februari 2021 07:17 WIB
Penulis : Syamsudin Walad

SuaraKarya.id - JAKARTA: Berita di sebuah website 

https://radarbali.jawapos.com/read/2021/02/25/243697/demi-uang-banyak-eks-pekerja-pariwisata-dan-pesiar-beralih-jadi-kurir 

telah membuka mata kita betapa pandemik covid-19 telah meruntuhkan kehidupan perekonomian kita.

Bali sebagai wilayah yang sebagian besar masyarakatnya mengandalkan pariwisata menjadi daerah yang amat terpukul dengan pandemik covid-19 ini. 

"Fakta seperti ini semakin membuka mata kita bersama bahwa keterpurukan sektor pariwisata diakibatkan pendemik covid19 telah berada pada level yang mengkhawatirkan, kalau boleh saya katakan dengan istilah darurat pariwisata," kata pemerhati pariwisata yang juga penulis buku Protokol Destinasi, Taufan Rahmadi, Sabtu (27/2/2021).

Dikatakan Taufan, seperti layaknya sebuah kondisi darurat, maka yang paling utama yang harus dilakukan adalah menyelamatkan kehidupan. Memastikan para pekerja pariwisata yang saat ini berada dalam kesulitan ekonomi dapat segera ditolong agar mereka bisa bertahan hidup hingga fase covid19 bisa dikontrol dan memungkinkan kegiatan pariwisata dapat di aktifkan normal kembali.

"Kita sama - sama mengetahui bahwa pemerintah saat ini telah memiliki program dana hibah pariwisata yang diperluas peruntukkannya. Tidak hanya untuk hotel dan restaurant saja,  dan menurut saya kebijakan ini perlu untuk dipercepat implementasinya," kata Taufan.

"Jika kita melihat kasus diatas maka adalah hal yang sangat penting bagi pemerintah untuk menguatkan kolaborasi di dalam merumuskan bersama tindakan - tindakan preventif guna mengatasi hal tersebut," kata pria yang terlibat aktif dalam pembangunan destinasi wisata Lombok ini.

Contoh langkah - langkah preventif yang bisa dilakukan sebagai solusi , adalah : 

1. Menggagas kebijakan  *Indonesia Tourism Fund*, sebuah kebijakan bantuan dana nasional yang khusus diperuntukkan untuk pemulihan pariwisata.

2. Pola pembangunan pariwisata di sebuah destinasi harus juga disertai dengan pendampingan bisnis kreatif dan kecerdasan spiritual , *Creative & Spiritual Assesment*

3. Penegakan hukum di destinasi pariwisata harus benar - benar dilakukan secara sungguh-sungguh, keberadaan *Polisi Wisata* di obyek- obyek wisata sangat dibutuhkan tidak saja untuk menjamin keamanan wisatawan, tetapi juga membatasi ruang gerak para pelaku kriminalitas,  ataupun pengedar narkoba untuk menjalankan operasinya, *Tourism Security Improvement*

"Tiga poin diatas menurut saya bisa menjadi  usulan bagi pemerintah untuk dapat dipertimbangkan agar dilakukan. Kita tidak ingin membiarkan pariwisata terus terpuruk lebih lama lagi. Darurat pariwisata ini harus segera berakhir. Itu kuncinya ada di sinergi dan solidaritas kita untuk saling membantu dan menguatkan," ujar Taufan. ***