logo

 Mengubah Mindset Pelajar Menjadi Pembelajar, Di Era Pandemi Covid-19

Mengubah Mindset Pelajar Menjadi Pembelajar, Di Era Pandemi Covid-19

26 Februari 2021 23:49 WIB

SuaraKarya.id -  

Oleh: Supiana Dian Nurtjahyani Pandemi

Virus Corona 19 (COVID 19) belum berlalu, berbagai upaya percepatan penanganan terus dilakukan, disertai dengan berbagai kebijakan di tingkat pusat dan daerah. Pada awal memasuki Proses Belajar Mengeajar (PBM) semester genap akan dimulai pembelajaran tatap muka dan online atau hybrid learning dengan surat edaran dari Kemendikmud Nomor 6 tahun 2020.

Tapi, surat edaran ini dibatalkan karena situasi pandemi Covid 19 belum mereda . Selain itu, Intruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 2021 tentang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) menegaskan, pembelajaran harus dilaksanakan secara online.

Hal ini, berdampak pada proses belajar mengajar baik di tingkat dasar, menengah maupun di Perguruan Tinggi, karena mereka sudah jenuh dengan pembelajaran secara online, mereka masih memiliki mindset sebagai pelajar bukan sebagai pembelajar. Mindset adalah posisi atau pandangan mental seseorang yang mempengaruhi pendekatan orang dalam menghadapi fenomena.

Mindset pelajar di era kebiasaan baru ini harus diubah dari pelajar menjadi pembelajar, karena situasi dan kondisi sudah berubah tidak akan kembali ke masa lalu. Sehingga, proses belajar mengajar yang semula secara tatap muka (luring) sekarang sudah berubah menjadi daring (online).

Sehingga, fasilitas pemebelajaran secara online perlu disiapkan karena dalam proses pembelajaran online ini, dapat terkendala masalah jaringan internet, smartphone, kualitas sumberdaya manusia dll. Semula sebagai pelajar hanya menunggu dan mengandalkan materi pelajaran dari bapak/ ibu guru atau dosen tetapi sebagai pembelajar, mereka harus dapat belajar secara mandiri, mencari referensi sendiri. Untuk menyelesaikan tugas yang diberikan, apalagi pembelajaran secara on line harus mampu menguasai Informasi dan Teknologi (IT), karena media untuk belajar secara online menggunakan IT.

Perubahan dari pelajar menjadi pembelajar tentu sangat komplek karena harus bisa mengubah minsed dalam diri, yang semula mengantungkan materi pelajaran, sekarang harus mampu mencari materi yang sesuai dengan yang ditugaskan  bapak/ibu guru atau dosen secara online. Sebagai guru atau dosen, juga harus bisa mengubah mindset dalam menggunakan model pembelajaran.

Sehingga, dituntut untuk mengembangkan ide inovatif dan kreatifnya, supaya model pembelajaran yang dipilih dapat menjadi solusi dalam proses pembelajran secara online. Model pembelajaran proyek, model learning experience bisa dijadikan alternative, karena dalam model ini peserta didik dituntut tidak hanya sebagai pelajar tapi sebagai pembelajar sejati.

Karena, harus bisa menemukan masalah, merumuskan hipotesis, mencari data, menganalisis data dan menyimpulkan. Proses ini akan melatih ketrampilan proses sains dan berpikir kriritis. Sehingga, dapat menghadapi tantangan di masa depan.

Perguruan Tinggi memiliki peran strategis untuk menyiapkan lulusan yang kompeten dan siap berkarya untuk mengisi pembangunan negara Indonesia. Saat ini, kreativitas dan inovasi menjadi kata kunci penting, untuk memastikan pembangunan Indonesia yang berkelanjutan. Para mahasiswa yang saat ini belajar di Perguruan Tinggi, harus disiapkan menjadi pembelajar sejati yang terampil, lentur dan ulet (agile learner).

Kebijakan Merdeka Belajar – Kampus Merdeka yang diluncurkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan merupakan kerangka, untuk menyiapkan mahasiswa menjadi sarjana yang tangguh, relevan dengan kebutuhan zaman, dan siap menjadi pemimpin dengan semangat kebangsaan yang tinggi. Permendikbud Nomor 3 Tahun 2020 memberikan hak kepada mahasiswa untuk 3 semester belajar di luar program studinya.

Melalui program ini, terbuka kesempatan luas bagi mahasiswa, untuk memperkaya dan meningkatkan wawasan, serta kompetensinya di dunia nyata, sesuai dengan passion dan cita-citanya. Kita meyakini, pembelajaran dapat terjadi di manapun, semesta belajar tak berbatas, tidak hanya di ruang kelas, perpustakaan dan laboratorium, tetapi juga di desa, industri, tempat-tempat kerja, tempat-tempat pengabdian, pusat riset, maupun di masyarakat.

Melalui interaksi yang erat antara perguruan tinggi dengan dunia kerja, dengan dunia nyata, maka perguruan tinggi akan hadir sebagai mata air bagi kemajuan dan pembangunan bangsa, turut mewarnai budaya dan peradaban bangsa secara langsung. Melalui Merdeka Belajar – Kampus Merdeka, mahasiswa memiliki kesempatan untuk 1 (satu) semester atau setara dengan 20 (dua puluh) sks menempuh pembelajaran di luar program studi pada Perguruan Tinggi yang sama, dan paling lama 2 (dua) semester atau setara dengan 40 (empat puluh) sks menempuh pembelajaran pada program studi yang sama di Perguruan Tinggi yang berbeda.

Pembelajaran pada program studi yang berbeda di Perguruan Tinggi yang berbeda, dan/atau pembelajaran di luar Perguruan Tinggi. Pembelajaran dalam Kampus Merdeka memberikan tantangan dan kesempatan untuk pengembangan kreativitas, kapasitas, kepribadian, dan kebutuhan mahasiswa, serta mengembangkan kemandirian dalam mencari dan menemukan pengetahuan melalui kenyataan dan dinamika lapangan. Seperti persyaratan kemampuan, permasalahan riil, interaksi sosial, kolaborasi, manajemen diri,

Dari paparan tersebut perubahan mindset dari pelajar menjadi pembelajar harus segera terealisasikan karena perubahan terjadi begitu cepat, seolah-seolah masa depan sudah ada di depan mata. Sehingga, semua yang belajar di tingkat dasar, menengah dan pendidikan tinggi sekarang harus siap menjadi pembelajar sejati, yang harus lentur, ulet dan tanggap pada perubahan zaman. Supaya tidak menjadi generasi yang tertinggal dan harus bisa mengambil peran untuk mengisi pembangunan, untuk mempertinggi dan meningkatkan peradaban bangsa.***

* Prof Dr Dra Supiana Dian Nurtjahyani MKes - Rektor Universitas PGRI Ronggolawe (Unirow) Tuban, Jawa Timur