logo

Sejumlah Aset Di Boyolali Diduga Terkait Korupsi Asabri, Disita Kejagung

Sejumlah Aset Di Boyolali Diduga Terkait Korupsi Asabri, Disita Kejagung

Kepala Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Tengah Priyanto
24 Februari 2021 22:35 WIB
Penulis : Endang Kusumastuti

SuaraKarya.id - SOLO: Kejaksaan Agung (Kejagung) mulai menyita aset-aset di wilayah Boyolali, Jawa Tengah yang diduga terkait kasus tindak pidana korupsi PT Asabri. Kepala Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Tengah Priyanto membenarkan penyitaan aset berupa belasan bus tersebut.

"Iya, informasinya seperti itu. Beberapa sudah diamankan," ujar Priyanto kepada wartawan di sela menghadiri peresmian rumah sakit lapangan (Rumkitlap) di Benteng Vastenburg Kota Solo, Jawa Tengah, Rabu (24/2/2021).

Tetapi pihaknya enggan memberikan keterangan lebih lanjut terkait penyitaan aset tersebut. Karena hal tersebut merupakan kewenangan Kejagung.

"Ini kewenangan Puspenkum. Kita tidak bisa menjelaskan keseluruhan," katanya.

Menurut Priyanto, pihaknya hanya diminta untuk membantu tim penyidik Kejagung yang melakukan penyitaan aset PT Asabri. Selain dari Kejati Jateng, Kejari Solo, Klaten, dan Boyolali juga diterjunkan membantu petugas dari Kejagung.

Lebih lanjut, dirinya mengatakan Kejati Jateng saat ini tengah melakukan inventarisasi aset yang diduga terkait tindak pidana kasus korupsi PT Asabri di wilayah Soloraya.

"Kita inventarisasi di wilayah Soloraya untuk menuntaskan kasus Asabri," katanya lagi.

Sebelumnya, Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) melakukan pelacakan aset harta yang diduga milik atau terafiliasi dengan SWJ, salah satu tersangka kasus korupsi di PT Asabri. Dari pelacakan tersebut, MAKI menemukan sejumlah aset yang berada di Kecamatan Simo dan Karang Gede, Boyolali, Jawa Tengah yang dibeli selama periode 2016-2020. Aset-aset tersebut dibeli dengan menggunakan nama orang lain. MAKI juga telah melaporkan hasil temuan tersebut ke Kejagung.

"Kalau yang ini diduga duit dibawa dari Jakarta ke Solo dan Boyolali secara tunai dalam sebuah koper, jadi tidak ditransfer. Dibelanjakan lahan dan kendaraan.Meski nominalnya terlalu kecil jika dibandingkan dengan kerugian negara sebesar Rp 20 triliun lebih, namun cara membawa uang tersebut cukup mengagetkan penyidik," jelas Koordinator MAKI, Boyamin Saiman. ***

Editor : Dwi Putro Agus Asianto