logo

Hadinoto Soedigno Akhirnya Duduk Di Kursi Pesakitan

Hadinoto Soedigno Akhirnya Duduk Di Kursi Pesakitan

Garuda Indonesia
25 Januari 2021 19:41 WIB
Penulis : Wilmar Pasaribu

SuaraKarya.id - JAKARTA: Bekas Direktur Teknik dan Pengelolaan Armada PT Garuda Indonesia (Persero), Hadinoto Soedigno, akhirnya didudukkan di kursi pesakitan Pengadilan Tipikor Jakarta oleh JPU KPK, Senin (25/1/2021). Hadinoto Soedigno dipersalahkan  telah menerima suap lebih dari Rp 80 miliar dari empat perusahaan produsen pesawat dan mesin pesawat terkait pengadaan pesawat dan mesin pesawat di PT Garuda Indonesia.

"Terdakwa telah melakukan atau turut serta melakukan beberapa perbuatan yang harus dipandang sebagai perbuatan yang berdiri sendiri sehingga merupakan beberapa kejahatan, yang diancam dengan pidana pokok yang sejenis, menerima hadiah atau janji berupa uang," kata JPU KPK saat membacakan surat dakwaan terhadap Hadinoto di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (25/1/2021).

Hadinoto diduga menerima suap sejumlah sekitar Rp 32,383 miliar dengan kurs dolar Amerika Serikat saat ini;  EUR 477.540 (Rp 8,17 miliar) dan SGD 3.771.637,58 (Rp 40 miliar). Selain itu, Hadinoto juga didakwa menerima hadiah berupa pembayaran makan malam dan biaya penginapan senilai Rp 34.812.261 serta pembayaran biaya pesawat pribadi sebesar 4.200 dolar AS. Uang tersebut diterima Hadinoto dari empat produsen pesawat dan mesin pesawat, yakni Airbus S.A.S, Rolls-Royce Plc, Avions de Transport Regional (ATR) melalui intermediary Connaught International Pte Ltd dan PT Ardhyaparamita Ayuprakasa milik Soetikno Soedarjo, serta dari Bombardier Canada melalui Hollingwingsworld Management International Ltd Hongkong dan Summerville Pasific Inc.

Dalam dakwaan, jaksa juga menyebutkan bahwa uang dan hadiah tersebut diberikan agar Hadinoto bersama Emirsyah Satar selaku Dirut PT Garuda Indonesia ketika itu dan Capt. Agus Wahjudo mengintervensi pengadaan pesawat dan mesin pesawat di PT Garuda Indonesia. "Hadiah atau janji tersebut diberikan untuk menggerakkan melakukan intervensi dalam pengadaan di PT. Garuda Indonesia yaitu pengadaan pesawat Airbus A330 series, Pesawat Airbus A320, Pesawat ATR 72 serie 600 dan Canadian Regional Jet (CRJ) 1000 NG serta pembelian dan perawatan mesin Rolls-Royce Trent 700 series yang bertentangan dengan kewajibannya," ungkap jaksa.

Intervensi dalam pengadaan di PT Garuda Indonesia yang dilakukan Hadinoto bersama Emirsyah Satar dan Agus Wahjudo dalam kurun waktu 7 Mei 2009 sampai dengan 7 Mei 2014. Penerimaan uang dari Rolls-Royce Plc melalui PT Ardyaparamita Ayuprakarsa dan Connaught International terkait TCP mesin RR Trent 700 series untuk enam unit pesawat Airbus A330-300 PT Garuda Indonesia yang dibeli tahun 1989 dan empat unit pesawat yang disewa dari AerCAP dan International Lease Finance Corporation (ILFC). Penerimaan uang dari Airbus melalui Connaught International dilakukan terkait pengadaan pesawat Airbus A330-300/ 200. Pada tanggal 10 Februari 2012. Hadinoto juga menerima fee pembelian pesawat Airbus 330 Series dari Airbus melalui Connaught International sebesar EUR 477.540 atau setara dengan SGD662.447,24 yang diterima Hadinoto melalui rekening di Standard Chartered Bank Singapura nomor rekening 0319441369 atas nama Hadinoto Soedigno. Selain itu, terdapat juga penerimaan uang dari Airbus melalui Connaught International terkait pengadaan pesawat Airbus A320 Family.

Pada 29 Agustus 2012, Hadinoto diangkat sebagai Direktur Produksi PT Citilink Indonesia berdasarkan Akta Nomor 27 Tanggal 29 Agustus 2012 Notaris Jose Dima Satria tentang Pernyataan Keputusan Rapat PT Citilink Indonesia. Selanjutnya pada 30 Agustus 2012, Hadinoto menerima fee dari Airbus melalui European Aeronautic Defense and Space Company (EADS) dan Connaught International sebesar USD 166.000 atau setara dengan SGD 207.168 yang diterimanya melalui rekeningnya di Standard Chartered Bank Singapura nomor rekening 0319441369.

Hadinoto juga menerima uang terkait pengadaan pesawat Sub-100 seater Canadian Regional Jet 1.000 Next Generation dari Bombardier Aerospace Commercial Aircraft melalui Hollingworth Management International (HMI) dan Summerville Pasific Inc. Bahkan atas dipilihnya pesawat Bombardier CRJ1.000NG oleh Garuda Indonesia, kemudian Hadinoto menerima fee dari Bombardier yang diberikan melalui HMI dan Summervile Pasific Inc sebesar USD1.530.250 atau setara dengan SGD1.763.881,03 yang diterima oleh Hadinoto melalui rekeningnya di SCB Singapura nomor rekening 0319441369. Selanjutnya penerimaan uang dari Avions de Transport Régional (ATR) melalui Connaught International terkait pengadaan 21 pesawat ATR 72 seri 600.

Atas serangkaian perbuatannya itu, jaksa mempersilahkan Hadinoto melakukan pencucian uang karena mentransfer uang hasil suap ke sejumlah rekening miliknya pribadi dan milik anggota keluarganya. “Terdakwa telah melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 11 UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP jo Pasal 65 ayat (1) KUHP. Sementara terkait pencucian pang Hadinoto didakwa melanggar Pasal 3 UU Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian uang juncto Pasal 65 ayat (1) KUHP,” tutur jaksa.***

Editor : Dwi Putro Agus Asianto