logo

Fadjroel Rachman: Misinformasi Dan Disinformasi Tantangan Vaksinasi Nasional

Fadjroel Rachman: Misinformasi Dan Disinformasi Tantangan Vaksinasi Nasional

Foto: Tangkapan layar Twitter.
17 Januari 2021 22:49 WIB
Penulis : Pudja Rukmana

SuaraKarya.id - JAKARTA: Staf Khusus (Stafsus) Presiden Bidang Komunikasi M Fadjroel Rachman menyatakan misinformasi dan disinformasi menjadi satu dari tiga tantangan penerimaan masyarakat terhadap vaksinasi, khususnya di dunia digital. Ia pun mengajak semua elemen masyarakat untuk memerangi misinformasi dan disinformasi terkait vaksin.

Hal ini disampaikan Fadjroel dalam webinar  bertajuk 'Vaksin Covid, Amankah? Tantangan dalam Implementasinya', yang digelar Majelis Sinergi Kalam (Masika) Ikatan Cendekiawan Muslim (ICMI) Sulawesi Selatan dan komunitas Kawan Vaksin, Sabtu (16/01/2021). 

“Kita mesti sebarkan secara masif fatwa MUI (Majelis Ulama Indonesia) bahwa vaksin Covid-19 yang dipakai perdana oleh Presiden Joko Widodo pada 13 Januari 2021 itu suci dan halal," kata Fadjroel yang juga Juru Bicara Presiden di akun Twitternya, @fadjroel, Minggu (17/01/2021) dengan meretweet pemberitaan dari Sekretariat Presiden.

Menurut Fadjroel, dua tantangan lainnya terkait penerimaan masyarakat terhadap vaksin, antara lain dimensi keagamaan dan pengetahuan. Dimensi keagamaan ditunjukkan dengan adanya sebagian masyarakat yang masih mempermasalahkan vaksin dari segi kehalalan.

Sedangkan dimensi pengetahuan berkaitan dengan efektivitas dan keamanan. “Demikian pula untuk dimensi ini, kita mesti sebarkan secara masif bahwa vaksin Covid-19 tersebut sudah mendapatkan Emergency Use Authorization (EUA - Izin Penggunaan Darurat) dari BPOM (Badan Pengawas Obat dan Majanan) yang sesuai standar WHO (Badan Kesehatan Dunia),” ujarnya.

Ketiga tantangan tersebut, kata Fadjroel, dapat diatasi dengan cara kolaborasi, menumbuhkan masyarakat melek informasi dan waras digital.

Fadjroel menegaskan, kerja sama pentahelix menjadi kunci. Namun, pemerintah tidak mungkin sendirian. "Bersama-sama pemerintah pusat dan daerah, perguruan tinggi, akademisi, para ahli, tokoh, media masa, dunia usaha, juga komunitas yang tumbuh di masyarakat, kita bisa menghadapi tantangan vaksinasi ini,” ungkapnya.

Lebih jauh Fadjroel mengatakan, program vaksinasi akan menjadi investasi untuk menyelamatkan masyarakat Indonesia dan dunia. Ia pun berharap investasi bersama ini menjadi pahala bersama dalam upaya menjaga kehidupan dan kemanusiaan bagi bangsa Indonesia dan seluruh negara di dunia.

Hoaks Soal Vaksin

Sementara itu, Juru Bicara Vaksinasi Cobid-19 Siti Nadia Tarmidzi mengatakan, pemerintah menjamin keamanan vaksin.

Bagi pemerintah, vaksinasi adalah  salah satu upaya untuk mengatasi pandemi. Di samping program 3T (tracing, testing, treatment) dan 3M (memakai masker, mencuci tangan pakai sabun dan air mengalir, menjaga jarak dengan cara menghindari kerumunan), vaksinasi dibutuhkan untuk memberikan perlindungan bagi individu, kelompok, dan lintas kelompok.

Sedangkan Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin Aminuddin Syam, salah satu pembicara webinar tersebut membenarkan merebaknya misinformasi dan disinformasi tentang vaksinasi di Indonesia.

Padahal, menurutnya, vaksinasi sudah menjadi bagian dari masyarakat Indonesia sejak lahir. Adapun hal yang membedakan adalah vaksinasi Covid-19 lebih banyak terdapat hoaks.

Senada dengan Fadjroel, Aminuddin pun mengajak peserta webinar untuk percaya kepada pemerintah. “Tidak ada satu pun negara mencelakakan rakyatnya,” ucap Aminuddin pula.

Edukasi Masyarakat

Di tempat terpisah, Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito menilai kekebalan komunitas (herd immunity) akan lebih mudah dicapai bila masyarakat memiliki pemahaman yang baik tentang vaksin. Oleh sebab itu, memberi pemahaman akan manfaat vaksin Covid-19 kepada masyarakat, jauh lebih penting daripada menjatuhkan sanksi.

Menurut Wiku, sebelum menjatuhkan sanksi atau denda, pihaknya akan berusaha untuk membuat masyarakat mengerti. "Karena, ini adalah kunci keberhasilan herd immunity. Jika kita divaksinasi, maka kita bisa melindungi yang lain begitupun sebaliknya," ucap Wiku dalam acara 'International Media Briefing' secara daring di Gedung Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kamis (14/01/2021). 

Dengan memahami pentingnya vaksinasi Covid-19, maka masyarakat juga dapat melindungi diri sendiri dan juga negaranya.

Meski demikian, Satgas Penanganan Covid-19 juga menyadari bahwa terdapat sekelompok kecil masyarakat yang masih menyangsikan manfaat vaksin Covid-19. Namun disadari, hal ini sebenarnya juga dihadapi pemerintah negara lain di dunia. 

Hal ini terjadi karena pandemi Covid-19 adalah suatu hal yang baru, dan masyarakat belum siap menghadapinya. Di lain pihak, masyarakat sendiri sebenarnya tidak tahu apa yang sedang terjadi dan kenapa harus dilakukan program vaksinasi. 

Padahal, sebagai bentuk intervensi medis untuk melindungi masyarakat dari virus Covid-19, vaksinasi penting. Sehingga, upaya mengedukasi masyarakat secara konsisten dan terus menerus terkait program vaksinasi agar menyentuh seluruh lapisan masyarakat sangat diperlukan.

"Dan, kami berupaya untuk membuat masyarakat memahami, bahwa untuk melindungi seluruh penduduk kita harus mencapai herd immunity," ungkap Wiku. 

Terkait masih banyaknya kalangan terdidik yang meragukan manfaat vaksin, menurut Wiku, kelompok ini sebenarnya ingin mengetahui lebih tentang vaksin ini baik secara teknis maupun secara bukti ilmiah. "Ini menjadi tantangan kita bagaimana menyampaikan pemahaman terkait vaksin dengan bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti masyarakat umum," ucap Wiku. ***

Editor : Dwi Putro Agus Asianto