logo

Kontainer Langka, Eksportir Terancam Gulung Tikar

Kontainer Langka, Eksportir Terancam Gulung Tikar

Ketua Presidium HIMKI, Abdul Sobur (kanan) bersama Ketua GPEI DKI Jakarta, Irwandi MA Rajabasa. (Foto: Ist)
02 Desember 2020 17:52 WIB
Penulis : Laksito Adi Darmono

SuaraKarya.id - JAKARTA: Para pelaku usaha kembali dihadapkan permasalahan yang cukup memrihatinkan setelah upaya mempertahankan kelangsungan usaha akibat krisis pandemi, yaitu kelangkaan kontainer dan keterbatasan ruang kargo di kapal.

Ketua Presidium Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI), Abdul Sobur mengatakan, dari sejumlah kontainer yang dibutuhkan para pelaku usaha, hanya 25% yang dapat dipenuhi dan bahkan jika kurang beruntung tidak mendapatkan kontainer sama sekali.

"Dari yang dikeluhkan eksportir bahwa dari 10 - 15 kontainer per minggu yang dibutuhkan, hanya 5 - 6 kontainer saja yang tersedia. Padahal jumlah yang dibutuhkan tersebut terbilang sedikit," ujar Sobur dalam diskusi virtual pada Rabu (2/12/2020).

"Lalu bagaimana dengan eksportir besar yang membutuhkan kontainer dengan jumlahnya lebih banyak lagi? Dari kebutuhan 100 kontainer per minggu hanya bisa mendapatkan 25-50 kontainer saja," ujarnya.

Apabila kondisi tersebut terus berlanjut, Sobur khawatir para pelaku usaha (ujung-ujungnya) akan gagal mengekspor dan yang lebih menyedihkan lagi eksportir terkena wanprestasi dan kena penalty karena tidak bisa memenuhi kontrak sesuai jadwal.

Selain itu, keterbatasan space di kapal dan bahkan tidak adanya kapal menyebabkan eksportir terkena demurrage (biaya inap peti kemas di pelabuhan), dan di antara mereka terpaksa batal ekspor dan membongkar kembali kontainernya.

Menurut Sobur, penyebab dari kelangkaan kontainer antara lain disebabkan oleh turunnya operasional di transshipment port yang belakangan ini hanya 50%. Selain itu shortage container juga akibat menurunya volume impor menjadikan berkurangnya kontainer yang masuk ke Indonesia.

Kelangkaan kontainer ini hampir terjadi di semua pelabuhan, termasuk pelabuhan Medan dan Tanjung Emas, terutama untuk tujuan ekspor ke Asia.

"Apabila situasi ini terus berlanjut maka bukan tidak mungkin eksportir akan mengalami kerugian dan bahkan bangkrut," tegas Sobur.

Sobur mengatakan, kelangkaan kontainer telah mengerek naiknya harga freight dan kenaikannya tidak tanggung-tanggung, bukan lagi 2 kali lipat melainkan hingga 5 kali lipat bahkan lebih.

Kenaikan harga kontainer untuk Intra-Asia atau General Rate Increase (GRI) sebesar USD 150/20DC dan USD 2.000/40”/4HDC yang efektif berlaku pada 1 Desember 2020.

Sementara kontainer untuk ke Eropa naik menjadi USD 6.800 atau naik sebesar USD2.509 dari harga sebelumnya. Untuk ke Amerika Serikat (AS) saat ini harga container berada di kisaran USD8.000/40".

Masalah kelangkaan dan naiknya harga kontainer dipastikan akan berdampak signifikan terhadap pengurangan jam operasional industri yang pada akhirnya berpengaruh pada pengurangan atau merumahkan tenaga kerja hingga pemutusan hubungan kerja (PHK).

"Untuk itu, kami dari kalangan dunia usaha memohon kepada Pemerintah untuk segera turun tangan menyelesaikan permasalahan ini, dan bisa memberikan solusi untuk membantu eksportir Indonesia," ujarnya.

Sobur menyebutkan untuk proses ekspor tidak ada biaya demurrage, pelayaran akan release DO jika sudah confirm equipment dan space di kapal, kalaupun di pelabuhan transhipment di roll over, maka biaya storage di transhipment port akan menjadi tanggung jawab pelayaran.

Saat ini kebanyakan pelayaran memberikan harga ocean freight per kapal, bukan lagi rate valid per bulan. Untuk mengurangi penimbunan full container di transhipment port beberapa pelayaran sudah melakukan stop booking untuk destinasi tertentu. ***

Editor : Laksito Adi Darmono