logo

Moeldoko: Ada Paradoks Anak Muda Sikapi UU Cipta Kerja, Apa?

Moeldoko: Ada Paradoks Anak Muda Sikapi UU Cipta Kerja, Apa?

Moeldoko (Tangkapan layar di YouTube)
29 Oktober 2020 06:54 WIB
Penulis : Pudja Rukmana

SuaraKarya.id - JAKARTA: Kepala Kantor Staf Kepresidenan Moeldoko melihat ada paradoks di kalangan anak muda dalam menyikapi kehadiran Omnibus Law Undang-undang (UU) Cipta Kerja.

Di satu sisi, pemerintah bersungguh-sungguh mencoba menurunkan angka pengangguran lewat UU Cipta Kerja agar anak-anak muda bisa mendapatkan pekerjaan.

"Tetapi anak-anak muda, calon tenaga kerja baru malah menolaknya," kata Moeldoko dalam keterangan tertulis menyambut Hari Sumpah Pemuda, Rabu (28/10/2020). "Tetapi saya melihat itu hanya sebagian kecil. Sebagian besar mereka sudah paham," ujarnya pula.

Menurut Moeldoko, saat ini setiap tahun, ada 2,9 juta angkatan kerja baru. Angka ini menambah jumlah pengangguran akibat pandemi Covid-19.

Belum lagi, pada 2030 nanti Indonesia diprediksi akan mendapat bonus demografi yang berarti mayoritas penduduk berada pada usia produktif. Hal ini bisa berdampak naiknya jumlah pengangguran jika tidak diantisipasi.

Ia pun meminta anak muda dan para mahasiswa untuk mempelajari hal ini sebelum melakukan unjuk rasa menolak UU Cipta Kerja.

"Yang pasti, jangan sampai anak-anak muda terprovokasi hasutan atau ajakan yang dia sendiri tidak paham," ujarnya.

Kemudian, yang terpenting lagi, jangan lagi bersikap merasa malu kalau tidak ikut unjukrasa.

"Mulailah berani mengambil keputusan bahwa apa yang kita lakukan harus kita pahami tujuannya," kata Moeldoko. "Harusnya malu kalau berunjukrasa tapi tidak paham tujuannya," ucapnya pula.

Lebih jauh mantan Panglima TNI itu mengstaksn semestinya mahasiswa dan generasi muda mendukung pemerintah yang telah menyusun UU Cipta Kerja karena itu berguna bagi mereka untuk memperoleh pekerjaan.

Secara khusus Moeldoko mengapresiasi protes yang dilakukan para mahasiswa terhadap UU Cipta Kerja.

Ia menilai hal tersebut biasa dilakukan generasi muda yang hendak mengambil peran untuk mengubah sejarah bangsanya.

Kendati demikian Moeldoko mengingatkan protes tak dilakukan serampangan.

"Itu modal bagi bangsa untuk selalu optimistis. Pembelajaran politik yang benar bagi anak muda sangat penting. Kalau tidak, malah jadi repot, karena anak anak akan menjadi instrumen kekerasan," kata Moeldoko.

"Tapi perlu saya ingatkan adanya pameo yang sangat buruk, biar keliru asal heroik," ungkapnya.

Untuk itu, ia meminta mahasiswa dan generasi muda melihat UU Cipta Kerja secara komprehensif.

Menurut Moeldoko, pemerintah justru berupaya keras membuka lapangan pekerjaan seluas mungkin lewat UU Cipta Kerja. Ini untuk merespon bonus demografi pada 2030. ***

Editor : Dwi Putro Agus Asianto