logo

Kejari Jakarta Pusat Usut Dugaan Debitur Fiktif Di Bank BRI

Kejari Jakarta Pusat Usut Dugaan Debitur Fiktif Di Bank BRI

Kejari Jakarta Pusat
17 Oktober 2020 19:47 WIB
Penulis : Wilmar Pasaribu

SuaraKarya.id - JAKARTA: Dugaan perbuatan persekongkolan antara oknum pegawai Bank BRI Cabang Tanah Abang Jakarta Pusat dengan eks karyawan PT Jazmina Asri Kreasi (JAK/Jaztel) yang merugikan BRI/keuangan negara ratusan miliar rupiah kini berusaha dibongkar penyelidik, penyidik Kejaksaan Negeri (Kejari) Jakarta Pusat.

Namun sampai saat ini dugaan pemberian dana fiktif oleh Bank BRI Cabang Tanah Abang Jakarta Pusat terhadap ratusan eks karyawan PT Jazmina Asri Kreasi (/JAK/Jaztel) itu belum menetapkan siapa-siapa saja yang menjadi tersangka pelakunya. Penyelidikan yang dilakukan belum ditingkatkan ke tahap penyidikan.

Kepala Seksi (Kasi) Tindak Pidana Khusus (Pidsus) Kejari Jakarta Pusat, M Yusuf Putra mengakui bahwa pihaknya melakukan pemeriksaan terhadap nasabah Bank BRI Cabang Tanah Abang. “Ada nasabah yang hadir penuhi panggilan kami. Tim penyelidik masih terus melakukan pemanggilan dan mengumpulkan bukti,” ungkap M Yusuf Putra, Jumat (16/10/2020).

Informasi yang didapat dari Kejari Jakarta Pusat menyebutkan bahwa pekan lalu penyidik pidana khusus kembali meminta keterangan eks karyawan PT JAK/Jaztel. Hal itu dilakukan guna melengkapi hasil pelacakan atau crosscheck terhadap saksi-saksi yang telah dimintai keterangan sebelumnya.

Salah seorang penerima dana “siluman” Bank BRI atau yang dijadikan debitur/peminjam mengungkapkan bahwa dirinya diundang ke  Kejari Jakarta Pusat  untuk memberikan keterangan soal peristiwa pemberian dana (fiktif) kepadanya.

Namun, menurutnya, masih banyak rekan-rekannya senasib yang belum mendapat kesempatan memberikan kesaksian kepada penyidik. “Saya ini masuk gelombang kedua. Masih ada gelombang berikutnya lagi,” kata lelaki yang tidak berkenaan ditulis jati dirinya itu.

Dia menceritakan awal mula proses pencairan dana siluman. Awal tahun 2018 saat dirinya masih sekolah. Dia mengajukan lamaran kerja sebagai pekerja paruh waktu di PT JAK/Jaztel bersama-sama para pelamar kerja lainnya kemudian diarahkan menuju Kantor BRI Cabang Tanah Abang. “Dalam perjalanan menuju kantor Bank BRI, kami diminta oleh seseorang untuk tidak banyak bertanya kepada petugas Bank BRI,” ungkapnya.

Sesampai di tempat petugas Bank BRI menyodorkan kertas yang konon berisi klausul pinjaman. “Tapi kami tidak boleh membacanya. Kami hanya boleh menandatangi surat itu,” katanya.

Seusai penandatangan surat, mereka kembali ke Kantor PT Jaztel di Jalan Mangga Besar Raya Jakarta Barat. “Di PT JAK/Jaztel kami kembali diberi pengarahan oleh pegawai JAK/Jaztel agar tidak menceritakan soal itu kepada orang lain. Kami pun satu persatu diberikan ongkos, Rp1,5 juta per orang. Lagi-lagi kami dilarang bertanya dari mana dan untuk apa kami apakan uang itu,” ceritanya.

Baru-baru ini, selembar kertas dari perusahaan pengiriman surat sampai ke kediamannya. Isinya sungguh mengejutkan: tagihan pinjaman. “Saya kaget, lantaran tidak pernah merasa meminjam ke Bank BRI,” ungkapnya. Namun dia tidak tahu berapa tepatnya pinjaman atau hutangnya, apa agunannya, dan berapa orang mereka yang dijadikan peminjam atau debitur fiktif tersebut. “Biarkan saja penegak hukum dari Kejari Jakarta Pusat yang mengusutnya sampai tuntas, karena merekalah yang punya kewenangan untuk itu demi menyelamatkan keuangan negara,” katanya menambahkan.***

 

Editor : Dwi Putro Agus Asianto