logo

ICT Sangat Berperan Dalam Peningkatan Kualitas Hidup Anak Penyandang Disabilitas

ICT Sangat Berperan Dalam Peningkatan Kualitas Hidup Anak Penyandang Disabilitas

Dirjen Rehsos Kemensos Harry Hikmat.(foto,ist),
27 September 2020 15:19 WIB
Penulis : Budi Seno P Santo

SuaraKarya.id - JAKARTA: Information and Communication Technologi (ICT) atau teknologi, komunikasi dan informasi sangat berperan dalam meningkatkan kualitas hidup Anak Penyandang Disabilitas (APD).

Hal itu dikemukakan, Direktur Jenderal Rehabilitasi Sosial Kementerian Sosial (Dirjen Rehsos Kemensos) Harry Hikmat, dalam webinar Pendidikan dan Konsultasi Anak, bertajuk "Dampak Penggunaan Gadget Bagi Anak dan Pelajar" yang diselenggarakan Nurani Institute Indonesia, dari Jakarta, Sabtu (26/9/2020).

"Selain berguna untuk mengembangkan kemampuan APD, teknologi dapat meningkatkan partisipasi APD dalam berbagai aspek kehidupan. Sehingga, dapat tercipta lingkungan yang bebas hambatan informasi," terangnya.

APD, lanjut Harry, merupakan salah satu kelompok rentan yang juga berkebutuhan khusus karena memiliki keterbatasan fisik, mental, intelektual atau sensorik. "Bahkan dalam jangka waktu lama, dalam berinteraksi dengan lingkungan dan sikap masyarakat dapat menemui hambatan yang menyulitkan untuk berpartisipasi penuh dan efektif berdasarkan kesamaan hak," ungkapnya.

Dijelaskan Harry, APD termasuk Anak Membutuhkan Perlindungan Khusus (AMPK) sesuai dengan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. "Negara harus hadir untuk memastikan program yang sistematis, terencana dan berkelanjutan terkait pemenuhan hak-hak APD," ujarnya dengan tegas.

Pemanfaatan ICT akan mempermudah APD dalam memperoleh media pembelajaran jarak jauh yang tidak bisa setiap saat mengakses sekolah, membaca buku Digital atau Audio dan mengakses internet. ICT juga akan mempermudah APD dalam berkomunikasi, misal APD netra dengan screen reader, APD rungu wicara dengan software converter teks suara atau bahasa isyarat dan sebagainya.

Peningkatan kemampuan bahasa APD pun bisa melalui ICT dengan adanya gambar atau simbol yang dapat di convert ke dalam bentuk teks. Sehingga, membantu APD mempelajari konsep suatu kata atau bahasa.

Kemandirian APD melalui ICT, kata Dirjen Rehsos Harry Hikmat, dapat didukung dengan adanya software handphone bicara, yang dapat membantu APD mengetahui jam berapa, menunjukkan arah dan sebagainya. Data Susenas Tahun 2018 menyebutkan, akses informasi kelompok penyandang disabilitas dalam penggunaan ponsel atau laptop 34,89 persen sedangkan non disabilitas 81,61 persen.

Adapun, akses internet penyandang disabilitas 8,50 persen, sedangkan non disabilitas 45,46 persen. Hal ini, lanjut Harry, membutuhkan perhatian khusus karena akses informasi merupakan hal yang fundamental dalam pemenuhan hak APD.

Kemensos memiliki kebijakan perluasan jangkauan Asistensi Rehabilitasi Sosial (ATENSI) berbasis keluarga, komunitas dan residensial. "Pemenuhan hak APD bisa melalui ATENSI Anak berupa kegiatan dukungan pemenuhan hidup yang layak, pengasuhan anak, dukungan keluarga dan terapi sosial psikologis yang terdiri dari terapi fisik, terapi psikososial dan terapi mental spritual," tuturnya.

Selain itu, imbuhnya, pelatihan keterampilan dan kewirausahaan, bantuan dan asistensi sosial serta dukungan aksesibilitas. Ditambahkannya, Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kemensos yang bergerak di bidang disabilitas siap untuk bekerja sama dengan Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) sebagai perwakilan di daerah.

Di bagian lain, Komisioner KPAI Margaret Aliyatul Maimunah menyatakan, penggunaan gadget selain berdampak positip, juga mengakibatkan dampak negatip melalui media sosial dan game online yang berisi konten negatif. Yakni pornografi, kekerasan, dan perilaku negatif, misal radikalisme, perilaku menyimpang, perjudian dan sebagainya.

"Hal tersebut semuanya bisa membawa anak-anak terlibat dalam kejahatan cyber," ujarnya.

Sementara, Sekretaris Deputi Pengembangan Pemuda Kemenpora Amar Ahmad mengungkapkan, data tentang penggunaan media sosial di kalangan anak muda milenial.

"Berdasarkan data (2019), 70,4 persen anak muda milenial melihat informasi terkini melalui media sosial termasuk ekonomi dan politik," ujar Amar.

. Direktur Rehabilitasi Sosial Anak Kemensos Kanya Eka Santi, menjawab pertanyaan seorang guru SD tentang anak berkebutuhan khusus yang mengalami kesulitan belajar, menyatakan, ketika anak berkebutuhan khusus mengalami permasalahan dalam pembelajarran.

"Maka, hal pertama yang perlu dilakukan adalah penerimaan terhadap anak tersebut. Selanjutnya, orangtua juga harus mengetahui kondisi dan kebutuhan anak tersebut," jelas Kanya.

Kemensos memiliki program "Peksos Goes To School", dimana pekerja sosial akan membantu permasalahan sosial anak melalui kerja sama dengan komite sekolah dan guru bimbingan konseling.

"Pada Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tahun ajaran baru 2020, kami kerja sama dengan beberapa sekolah mengisi materi secara virtual tentang Cyber Bullying," terang Kanya.

Editor : Dwi Putro Agus Asianto