logo

PSBB Sulit Diterapkan, Solo Pilih Isolasi Micil

PSBB Sulit Diterapkan, Solo Pilih Isolasi Micil

Wali Kota Solo FX Hadi Rudyatmo
21 September 2020 21:44 WIB
Penulis : Endang Kusumastuti

SuaraKarya.id - SOLO: Meskipun kasus Covid-19 di Kota Solo belum mereda, Pemerintah Kota (Pemkot) Solo tidak akan melakukan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Untuk mencegah penyebaran virus Covid-19, Pemkot Solo memilih menerapkan isolasi mandiri dalam bentuk kecil atau mikro kecil (Micil).

"Kalau mau PSBB ya sulit, tidak ya sulit. Lebih baik ya seperti ini karena kalau PSBB harus masang pagar mengelilingi batas kota ini sulit," kata Wali Kota Solo, FX Hadi Rudyatmo, di sela menghadiri Rapimkota Kadin Surakarta di Solo, Jawa Tengah, Senin (21/9/2020).

Sebab letak geografis Kota Solo yang dikelilingi enam kabupaten menyebabkan pembatasan tersebut sulit di terapkan. Jumlah penduduk di Kota Solo yang mencapai 3 juta orang saat siang hari dan 600 ribu saat malam hari juga menyulitkan jika dilaksanakan PSBB.

"Karena kalau siang hari banyak warga dari daerah sekitar Solo seperti Sukoharjo, Boyolali, Karanganyar, Klaten, Wonogiri dan Sragen bekerja di Solo. Karena Solo menjadi sentra bisnis dari enam kabupaten tersebut," ujarnya.

 Untuk mengantisipasi penyebaran virus Covid-19, Kota Solo menerapkan isolasi Micil. Jika dalam satu rumah ada yang terpapar Corona, isolasi hanya akan dilakukan dalam radius tertentu dari warga yang terpapar.

"Cara ini lebih efekif jika dibandingkan dengan melakukan isolasi mandiri berskala besar. Pemkot Solo akan menjamin logistik warga yang diisolasi tersebut sehingga tidak keluar rumah," katanya lagi.

Selain fokus pada penanggulangan penularan Covid-19, saat ini pihaknya fokus pada pemulihan ekonomi Kota Solo dengan tanpa mengabaikan penegakan protokol kesehatan. Langkah langkah strategis dan komprehensif perlu dilakukan. 

"Di Kota Solo,, yang paling terdampak akibat pandemi Covid-19 adalah pedagang kaki lima (PKL) terutama di sektor usaha kuliner," ujarnya lagi.

Agar dunia usaha tidak semakin terpuruk, pihaknya telah membuka kelonggaran bagi dunia usaha. Seperti di perhotelan, saat ini sudah bisa membuka usahanya dengan menerima tamu, menggelar hajatan, meeting dan kegiatan lainnya.

"Kegiatan tersebut dengan syarat tetap menerapkan protokol kesehatan yang ketat untuk menghindari terjadinya penularan Covid-19. Kita berikan kesempatan 50 persen dari kapasitas. Dan ini merupakan salah satu tekat kita bersama sama untuk memulihkan perekonomian di Solo,” paparnya.

Mal atau pusat perbelanjaan saat ini juga sudah mulai ada kelonggaran aturan. Jika sebelumnya anak anak hingga remaja usia 15 tahun tidak diperbolehkan masuk mal, saat ini aturan tersebut dilonggarkan.

"Usia 12 tahun keatas jadi kalau 12 tahun kebawah tidak boleh masuk mal. Aturannya pakai SE (Surat Edaran). Aturan ini juga untuk membangkitkan ekonomi Solo, tinggal nanti apakah ada klaster anak-anak atau tidak. Kalau ada kita tutup lagi," pungkasnya.***

Editor : Dwi Putro Agus Asianto