logo

Kemenangan Atas Kesombongan

Kemenangan Atas Kesombongan

16 September 2020 00:09 WIB

SuaraKarya.id -  

Oleh: Gungde Ariwangsa SH

Rabu, 16 September 2020, umat Hindu merayakan Hari Raya Suci Galungan. Upacara yang dilaksanakan setiap 210 hari, pada Hari Budha Kliwon Dungulan (Rabu Kliwon wuku Dungulan) ini memiliki makna perayaan  Kemenangan Dharma (kebenaran) melawan Adharma kejahatan).  Hari Raya Galungan kali ini sangat spesial karena pertama kali dilaksanakan saat pandemi virus corona (Covid-19) sehingga sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.

Melihat makin merajalelanya Covid-19 di Indonesia dan dunia, sudah barang tentu Hari Raya Galungan berlangsung dalam suasana keprihatinan. Namun ini jangan sampai mengurangi kekhusyukan dalam merayakannya. Justru semakin meningkatkan kepasrahan kepada Sang Hyang Widi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa.

Dalam suasana seperti saat ini perayaan Hari Raya Galungan bisa menjadi ajang instropeksi diri dan berbenah demi mendapatkan pikiran terang sehingga bisa melangkah lebih baik demi hidup yang lebih bermakna. Semakin peduli terhadap keselematan bersama untuk bersama-sama meraih kemenangan terhadap virus ganas yang pertama kali muncul di Wuhan, China itu. Karena hakikat Hari Raya Galungan sesungguhnya merupakan kemenangan melawan keegoisan dan sifat buruk dalam diri.

Berdasarkan mitologi tentang Hari Raya Suci Galungan, seperti dilansir bali.idntimes.com, menyebutkan, ada seorang keturunan Daitya (Raksasa) di daerah Blingkang (Sebelah Utara Danau Batur), anak dari Dewi Danu Batur, bernama Raja Mayadanawa. Dia  raja sakti dan paling ditakuti, yang dapat mengubah diri menjadi bentuk yang diinginkan. Raja Mayadanawa hidup di masa Mpu Kul Putih. Daerah Makassar, Sumbawa, Bugis, Lombok dan Blambangan dapat ditaklukkan oleh kesaktian Raja Mayadanawa. Karena kesaktian itu pula, Mayadenawa menjadi sombong dan angkuh.

Dia ingin disembah oleh masyarakat Hindu Bali, melarang semua umat untuk datang ke pura dan memuja Tuhan. Lama kelamaan rakyat menjadi sengsara dan dunia menjadi tidak seimbang. Tanaman penduduk rusak dan wabah penyakit ada di mana-mana.

Melihat Mayadenawa sikapnya seperti itu, Bhatara Indra diutus oleh para dewa ke dunia untuk menghancurkan kejahatan Mayadenawa. Bhatara Indra membawa pasukan tempur yang siap menyerang raja sombong itu.

Namun untuk membunuh Mayadenawa tidak mudah karena sakti mantraguna. Pasukan Bhatara Indra sampai kewalahan. Mayadenawa terkenal sakti karena bisa berubah wujud dalam pelariannya. Dia beberapa kali berhasil mengelabui Bhatara Indra.

Bahkan Mayadenawa berhasil meracuni sebuah mata air, yang mengakibatkan seluruh pasukan Bhatara Indra mati saat meminum airnya. Namun berkat kesaktian Bhatara Indra, ditancapkanlah kerisnya ke tanah, dan muncul mata air yang bisa menghidupkan kembali pasukannya. Konon, mata air tersebut dinamai Tirta Empul.

Pada akhirnya, kebaikan akan selalu menang dari kejahatan. Meski sakti, Mayadenawa akhirnya bisa dikalahkan. Mayadenawa terdesak, dia melarikan diri dengan menjejakkan telapak kakinya secara miring. Tempat itu lalu dikenal dengan nama Tampak Siring. Akhirnya Bhatara Indra bisa membunuh Mayadenawa.

Kemenangan Bhatara Indra dalam menghancurkan kejahatan Mayadenawa ini kemudian dirayakan sebagai hari Raya Galungan, yang secara filosofis bermakna merayakan kemenangan kebajikan (Dharma) melawan kebatilan (Adharma). Makna yang begitu penting bagi kehidupan.

Hari Raya Galungan jangan sampai  hanya menjadi rutinitas enambulanan. Sangat tepat bila momentum Hari Raya Galungan untuk melaksanakan jalan kebaikan dan kebenaran dalam menjalani kehidupan ini. Oleh siapa pun, di mana pun, dan kapan pun.

Hanya dengan pikiran jernih jalan terang akan terbuka untuk meraih kemenangan. Bukan saja kemenangan terhadap pandemi Covid-19 namun juga  atas kekeruhan dan kegelapan yang diselimuti kejahatan. Marilah bersama-sama menebar jalan kebaikan dan kebenaran. ***

  • Gungde Ariwangsa SH – wartawan suarakarya.id, pemegang kartu UKW Utama, Ketua Siwo PWI Pusat

Editor : Gungde Ariwangsa SH