logo

Dana Desa Naik Tipis, Kades Diminta Fokus Entaskan Kemiskinan

Dana Desa Naik Tipis, Kades Diminta Fokus Entaskan Kemiskinan

Mendes PDTT Abdul Halim Iskandar. (foto, ist)
15 September 2020 21:04 WIB
Penulis : Budi Seno P Santo

SuaraKarya.id - JAKARTA: Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Abdul Halim Iskandar, dalam kegiatan Konsultasi Prioritas Dana Desa 2021, di Karawang, Selasa (15/9/2020) menyampaikan, alokasi Dana Desa tahun 2021 sebesar Rp72 triliun atau meningkat 1,1 persen dari tahun sebelumnya yang hanya Rp71,2 triliun.

Untuk itu, di hadapan 45 kepaja desa yang hadir, dia minta Kepala Desa maksimal dalam menggunakan uang negara tersebut. Gus Menteri, sapaan akrab Mendes PDTT minta, agar penggunaan Dana Desa lebih sederhana dari sebelumnya.

Kepala Desa, ujarnya, cukup mengacu pada 17 Sustainable Development Goalsatau (SDGs) atau yang disebut Pembangunan Berkelanjutan. "Contoh, desa yang kita harapkan atau yang kita tuju adalah desa tanpa kemiskin, desa tanpa kelaparan," kata Gus Menteri.

Dikemukakannya, pihaknya akan segara menerbitkan Peraturan Menteri (Permendes) yang bakal menjadi acuan para Kepala Desa dalam menggunakan Dana Desa. Yang dipastikannya, akan lebih sederhana dibandingkan sebelumnya.

Dengan Permendes itu, terangnya, Kepala Desa tidak perlu kebingungan lagi, karena di dalamnya akan dijabarkan target maupun indikator yang menjadi prioritas pembangunan desa, yang menggunakan Dana Desa. "Misalnya, ada Kepala Desa yang ingin desanya menjadi desa sehat dan sejahtera. Ukurannya Peraturan Menteri, ada arahannya, targetnya, dan indikator yang telah dicapai, kalau mau ngambil target itu," tutur dia.

Kemendes, kata Gus Menteri, sifatnya hanya membuatkan rambu-rambu pembangunan desa, selebihnya Kepala Desa diberikan kebebasan, untuk improvisasi yang akan menjadi prioritas berdasarkan kebutuhan desa masing-masing. Lebih lanjut, Gus Menteri mengingatkan, agar Kepala Desa selalu memperhatikan akar budaya desa masing-masing, saat merencanakan pembangunan desa.

"Artinya apa, seluruh perencanaan pembangunan di desa masing-masing harus bertumpu pada adat budaya yang ada di desa kita. Itu yang disebut dengan kearifan lokal, supaya tradisi kita tetap bertahan," paparnya.

Editor : Dwi Putro Agus Asianto