logo

Dampak Berlanjut Pandemi

Dampak Berlanjut Pandemi

14 September 2020 00:01 WIB

SuaraKarya.id -  

Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, SE, MSi

Pandemi covid-19 yang terus berlanjut meski sudah ada penetapan new normal akhirnya juga memaksa perekonomian terancam resesi. Fakta yang berkembang menegaskan saat ini sejumlah negara terancam resesi dan data terbaru menegaskan Australia mengalami resesi pasca perekonomian terkontraksi 6,3% di kuartal II 2020. Persepsian resesi yaitu ketika terjadi pertumbuhan negatif secara beruntun 2 kuartal. 

Terkait hal itu, Menkeu Sri Mulyani menegaskan kondisi ekonomi Indonesia mengalami resesi di kuartal II 2020, sementara prediksi sampai kuartal IV 2020 masih negatif. Kilas balik resesi bahwa tahun 1997 dari data BPS menunjukan ekonomi nasional terkontraksi 3,4% di kuartal III 1997 dan 0% di kuartal IV 1997. Ironisnya terus berlanjut minus 7,9% di kuartal I 1998, lalu minus 16,5% di kuartal II 1998 juga minus 17,9 di kuartal III 1998. 

Data tersebut menunjukan bahwa Indonesia pernah mengalami resesi pada tahun 1998 dan indikasinya ditunjukan dengan penurunan PDB beruntun pada dua kuartal. Kasus ini terjadi karena kegiatan ekonomi bisnis menurun secara signifikan dan dibarengi dengan penurunan penjualan ritel, penurunan kapasitas produksi, dan peningkatan pengangguran sehingga kondisinya diyakini terjadi akibat faktor makro, baik domestik atau global. Hal ini menunjukan situasi kini tidak lepas dari ancaman resesi. Dampak sistemik pandemi covid-19 tidak hanya di China, tetapi juga ke berbagai negara, tidak hanya mitra bilateral Cina tapi juga merambah lingkup multilateral. Beralasan jika sejumlah negara berupaya preventif dan antisipatif untuk meminimalisir kerugian dampak pandemi. 

Kalkulasi dampak sistemik pandemi covid-19 sangat cepat dan kompleks. Terkait hal ini beralasan jika kemudian muncul prediksi tentang ancaman krisis global sebagai dampak sistemik pandemi covid-19. Argumen yang mendasari tidak terlepas dari laporan ADB bertajuk ‘The Economic Impact of The Covid-19 Outbreak on Developing Asia’ yang menegaskan ancaman pandemi covid-19 yang dipicu virus SARS-CoV-2 bisa memicu kerugian global 347 miliar dolar Amerika Serikat (Rp4.944 triliun). Perbandingan kerugiannya sekitar 8,6 kali dibanding kerugian dari sebaran virus SARS pada tahun 2003 silam di kisaran  40 miliar dolar AS. Yang menarik laporan itu masing-masing negara Asia diprediksi mengalami kerugian  16-42 miliar dolar AS. Jumlah ini menjadi preseden buruk terkait prospek ekonomi di 2020. Padahal, ekonomi 2020 justru diawali bencana, setidaknya ini terjadi sampai semester I 2020 sehingga target pertumbuhan meleset dari target APBN. 

Keyakinan dari prediksi ADB didukung asumsi dari Standard and Poor’s (S&P) Global Ratings bahwa dampak terbesar dari sebaran virus corona yaitu di kawasan Asia Pasifik dengan akumulasi kerugian mencapai sekitar  211 miliar dolar AS. Bahkan implikasi lanjutan yaitu koreksi terhadap target pertumbuhan di kawasan Asia Pasifik tanpa China di kisaran 3,3 persen dan direvisi minus. Padahal proyeksi sebelumnya di kisaran 4 persen. Bahkan prediksi Indonesia untuk pertumbuhan dipangkas dari 5,1 persen menjadi 4,7 persen dan akhirnya juga direvisi minus. 

Revisi pertumbuhan tidak terlepas sebaran pandemi yang menjalar ke sejumlah negara. Meski ada instruksi untuk tidak panik tapi kecemasan dan dampak sosial ekonomi tidak mampu dicegah, termasuk imbas ke perilaku panic buying sehingga harga melonjak. Kondisi ini bisa memicu sentimen negatif terkait pelaksanaan pilkada serentak di akhir tahun dengan kemungkinan memanfaatkannya untuk rekayasa politik uang demi pemenangan sejumlah kandidat. ***

* Dr. Edy Purwo Saputro, SE, MSi - Dosen Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Solo

Editor : Gungde Ariwangsa SH