logo

Bonus Demografi Bisa Menjadi Bonus Kesejahteraan Dengan Banyak Syarat

 Bonus Demografi Bisa Menjadi Bonus Kesejahteraan Dengan Banyak Syarat

Kepala BKKBN dr Hasto Wardoyo, SP OG(K).(foto,ist)
18 Agustus 2020 21:37 WIB
Penulis : Budi Seno P Santo

SuaraKarya.id - JAKARTA: Dalam rangkaian Peringatan 75 tahun Indonesia merdeka dan 50 tahun BKKBN, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) bekerja sama dengan Komunitas Homeros dan beberapa mitra kerja terkait menyelenggarakan webinar, dari kantor BKKBN Pusat di Jakarta, Selasa (28/8/2020).

Webinar bertajuk"Keluargaku Indonesiaku, Menuju Era Baru Keluarga Indonesia Maju di Tahun Emas 2045” tersebut, melibatkan penggerak program KB sangat populer di masanya hingga kini, yakni Prof Dr Haryono Suyono. Pada kesempatan yang sama tampil pula sebagai pembicara selain Kepala BKKBN dr Hasto Wardoyo SpOG (K), juga GKR Mangkubumi, serta Ir Poppy Sophia Bakur.

Di kesempatan itu, Hasto Wardoyo menyatakan, BKKBN menyadari penuh setelah sekian lama program KB dari tahun 70-an dikawal oleh Prof Haryono Suyono. Di mana generasi saat ini menikmati adanya window opportunity.

Celah untuk mendapatkan bonus demografi. Inilah yang harus kita camkan betul bahwa pepatah mengatakan jas merah, jangan lupakan sejarah. "Karena, sekarang ini kita masuk di window opportunity, karena pertumbuhan panjang yang dilakukan oleh program BKKBN, yang dilakukan sejak dahulu, dan dikawal oleh Prof Haryono Suyono," papar Hasto.

Celah bonus demografi itu, lanjutnya, tidak serta merta. Bonus demografi bisa menjadi bonus kesejahteraan tetapi mempunyai syarat yang luar biasa banyak.

Genersi muda harus mengawal sejak saat ini. "Kita harus dapat membangun keluarga yang berkualitas. Kualitas keluarga dapat mencetak generasi yang berkualitas. Prasyarat utama untuk memetik bonus demografi menjadi bonus kesejahteraan," terang Hasto.

Dikemukakannya, BKKBN ingin mendapatkan kekuatan dari luar untuk membantu, supaya bisa mengubah kekuatan-kekuatan dari pengetahuan dan organisasi yang ada di luar berperan besar. "Untuk bisa bahu membahu mendorong program BKKBN menjadi lebih baik," ucapnya.

Untuk itu, imbuh Hasto, pihaknya minta saran dari para sesepuh dan senior, untuk mengawal program ini agar generasi yang muda-muda ini tidak salah arah. "Nilai-nilai luhur perlu ditanamkan di dalam keluarga," ujar Hasto.

Di bagian lain, Haryono Suryono menyatakan, kaum  muda yang merupakan bonus demografi, tidak bisa dilepaskan dari apa yang dinamakan sesepuh. Karena, bonus demografi tidak saja terjadi pada meledaknya anak muda tetapi juga meledaknya para generasi tua.

Dikatakannya, jejak-jejak sejak tahun 50-an dan 60-an itu luar biasa. "Kita mengharapkan pada era Pak Joko Widodo nilai gotong royong tetap ada. Dahulu gerakan-gerakan dilakukan bersama-sama," kata dia.

Mahasiswa berusaha bersatu melakukan proses pemberdayaan keluarga di masyarakat. BKKBN tetap membantu pemerintah daerah baik pada tingkat provinsi, kabupaten, kota sampai di tingkat kecamatan dan desa bersatu melakukan program-program.

Secara estafet dilakukan kepada masyarakat untuk bersatu membentuk kelompok-kelompok kecil yang dikenal dengan panca wisma, dasa wisma dan sebagainya untuk menjalankan program-program BKKBN. Untuk kelompok intelektual diberikan peningkatan-peningkatan keluarga yang sangat berkualitas.

Editor : Dwi Putro Agus Asianto