logo

Pelaku Fetish Resmi Dijadikan Tersangka

  Pelaku Fetish Resmi Dijadikan Tersangka

08 Agustus 2020 20:29 WIB
Penulis : Andira

SuaraKarya.id - SURABAYA: Polrestabes Surabaya akhirnya menetapkan eks mahasiswa Universitas Airlangga Surabaya yang tersandung kasus dugaan pelecehan seksual fetish (dorongan seksual yang berhubungan dengan benda mati atau benda hidup) berkedok riset ilmiah itu sebagai tersangka. Mantan mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Unair berinisial G (22) yang mengaku telah melakukan fetish dengan membungkus 25 korban itu terancam hukuman 6 tahun penjara.

Menurut Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Jhonny Edison Isir, tersangka belum bisa memenuhi unsur pidana dalam Pasal 292 KUHP tentang pencabulan sesama jenis kepada orang di bawah umur. “Pasal 292 KUHP belum bisa memenuhi. Karena korban dewasa meski sesama jenis," ujarnya, Sabtu (8/8/2020).

Pasal yang dipersangkakan kepada G adalah Pasal 27 Ayat 4 junto Pasal 45 Ayat 4 dan atau Pasal 29 junto Pasal 45B Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) atau 335 KUHP.

Kepada polisi, tersangka melakukan fetish karena terangsang bila melihat orang dibungkus kain jarik. Sementara para korban hanya mengalami kekerasan psikis karena diancam korban yang hendak bunuh diri bila permintaannya tidak dituruti.

Selain meminta keterangan para saksi korban, polisi juga sudah bekerjasama dengan Kampus Unair dan sejumlah ahli. Dalam waktu dekat pelaku juga akan dibawa ke psikiater untuk memeriksakan kondisi kejiwaannya.

Seperti diberitakan, G yang sudah dinyatakan Drop Out (DO) itu berhasil diamankan saat bersembunyi di sebuah rumah di Kabupaten Kapuas, Provinsi Kalimantan Tengah. Kasus yang menjerat tersangka itu mencuat setelah saat akun twitter @m_fikris pada Rabu (29/7/2020) membuat utas menceritakan mengenai pelecehan seksual yang dilakukan G dengan cara membungkus korban dengan kain jarik.

Salah satu korbannya mengaku bersedia dilakban dan dibungkus kain jarik dengan mata dan mulut tertutup, karena pelaku berdalih untuk penelitian. Proses pembungkusan yang didokumentasikan itu berlangsung selama tiga jam.***

Editor : Markon Piliang