logo

Anita Kolopaking Akhirnya Dijebloskan Ke Dalam Tahanan

Anita Kolopaking Akhirnya Dijebloskan Ke Dalam Tahanan

Anita Dewi Kolopaking
08 Agustus 2020 19:16 WIB
Penulis : Wilmar Pasaribu

SuaraKarya.id - JAKARTA: Penasihat hukum terpidana Djoko Tjandra, Anita Dewi Kolopaking akhirnya dijebloskan ke dalam tahanan oleh penyidik Mabes Polri, Sabtu (8/8/2020). Penahanan yang berdurasi 20 hari itu dilakukan setelah Anita menjalani pemeriksaan terkait kasus surat jalan sejak Jumat (7/8) hingga Sabtu (8/8) dini hari.

"Sejak tanggal 8 Agustus 2020 sampai dengan 20 hari ke depan yang bersangkutan ditahan di Rutan Bareskrim Polri," kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigadir Jenderal Awi Setiyono, Sabtu (8/8/2020).

Tersangka Anita sebelumnya memenuhi panggilan Bareskrim Polri pada pukul 10.30 WIB pada Jumat (7/8/2020). Dia hadir setelah sebelumnya tidak hadir pada pemanggilan pertama, Selasa (4/8/2020).  Alasan tidak datang memenuhi panggilan penyidik lantaran memiliki kegiatan lain yang waktunya bersamaan dengan jadwal pemeriksaan dan sudah mengirim surat untuk meminta jadwal pemeriksaan baru. Kala itu, Anita harus memenuhi permintaan keterangan dari Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK). 

Anita adalah salah satu kuasa hukum Djoko Tjandra. Dalam penetapan tersangka itu, Anita Kolopaking dipersalahkan melanggar Pasal 263 (2) dan Pasal 223 KUHP. Terkait kasusnya, penyidik telah menyita sejumlah barang bukti di antaranya surat jalan palsu dan surat pemeriksaan Covid-19 atas nama Djoko Tjandra.

Terkait permintaan perlindungan saksi oleh Anita, Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) Hasto Atmojo Suroyo mengatakan akan sulit memprosesnya. Alasannya, dia (Anita) sudah jadi tersangka. "Namun, kalau Anita ajukan permohonan sebagai saksi pelaku yang bekerjasama (justice collaborator), LPSK mungkin bisa berikan perlindungan," kata Hasto, Sabtu (8/8/2020),  sebagaimana ditulis Antara.

Menurut aturan yang berlaku, LPSK bisa melindungi saksi korban/pelapor, saksi pelaku yang bekerjasama, dan juga saksi ahli. Penyidik menetapkan Anita sebagai tersangka pada 30 Juli lalu. Dia terbukti terlibat dalam pembuatan surat jalan dan surat keterangan sehat bebas Covid-19 milik Djoko Tjandra, buronan  kasus cessie Bank Bali. Dia dijerat Pasal 263 ayat (2) KUHP tentang Penggunaan Surat Palsu dan Pasal 223 KUHP tentang Pemberian Pertolongan Terhadap Orang yang Ditahan.

Atas pasal yang dijeratkan itu Anita terancam hukuman maksimal enam tahun penjara. Sementara itu, penyidik juga menaikkan status perkara dugaan aliran dana Djoko Tjandra menjadi tahap penyidikan berdasar hasil gelar perkara. Pihak Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan dilibatkan untuk mengusut perkara ini. Penyidik telah memeriksa 15 saksi dalam kasus ini. Nantinya penyidik akan memeriksa semua pihak yang terlibat dalam kasus ini.

Konstruksi hukum terhadap tindak pidana yang dipersangkakan yaitu dugaan penerimaan hadiah oleh penyelenggara negara terkait pengurusan atau penghapusan red notice atas nama Djoko Soegiarto Tjandra, yang terjadi di Mei-Juni 2020.

Sementara itu, terpidana kasus pengalihan hak tagih atau cessie Bank Bali, Djoko Tjandra sejak Jumat 7 Agustus 2020 sudah dipindahkan ke Rumah Tahanan Negara (Rutan) Salemba. “Untuk menjalani masa hukumannya  sebagai warga binaan pemasyarakatan,” ujar Kabag Humas dan Protokol Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjen PAS) Rika Aprianti, Sabtu (8/8/2020).

Sebelumnya, tepatnya tanggal 31 Juli sudah dilakukan eksekusi kepada Djoko Tjandra oleh Kejaksaan. Perkara Djoko Tjandra incracht  sehingga dia menjadi narapidana.  Usai dipindahkan di Lapas Salemba, Djoko Tjandra diisolasi mandiri selama 14 hari sesuai dengan protokol kesehatan penanganan Covid-19. Sekaligus menjalankan masa pengenalan lingkungan (mapenaling) di sel isolasi.

Adapun setelah 14 hari selesai menjalanakan isolasi mandiri dan mapenaling. Dan hasil rapid non reaktif. Djoko Tjandra akan ditempatkan bersama warga binaan yang lain di kamar blok hunian.  “Untuk menjalankan pidana dan program pembinaan,” ucap Rika Aprianti.

Nama Djoko Tjandra disorot publik lantaran dia berhasil masuk ke Indonesia pada Juni 2020 dalam status buron atau terpidana korupsi. Djoko diketahui membuat paspor dan KTP elektronik hingga mendaftarkan Peninjauan Kembali (PK) ke Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan. Setelah PK kandas, polisi pun berhasil menangkap Djoko di Malaysia berkat bantuan pihak Kepolisian Malaysia. Djoko tiba di Bandar Udara Internasional Halim Perdanakusuma, Jakarta, Kamis (30/7/2020) malam. Dia langsung digelandang ke Bareskrim Mabes Polri untuk menjalani pemeriksaan sebelum akhirnya diserahkan ke Kejaksaan Agung untuk dieksekusi.

 

Editor : Dwi Putro Agus Asianto