logo

New Normal: IA TI ITB Rumuskan Strategi Sistem Pengelolaan Transportasi

New Normal: IA TI ITB Rumuskan Strategi Sistem Pengelolaan Transportasi

05 Agustus 2020 23:51 WIB
Penulis : AG. Sofyan

SuaraKarya.id - JAKARTA: Ikatan Alumni Teknik Industri (IATI) Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk ketiga kalinya berturut-turut selama tiga bulan terakhir menggelar seminar daring dengan berbagai elemen masyarakat guna membahas solusi dan strategi dunia industri menghadapi masa pandemi Covid-19 dan krisis ekonomi di Indonesia.

Kali ini, topik yang diangkat adalah Lesson Learned & Strategi Industri Transportasi dan Logistik di Masa New Normal.

Webinar dibuka oleh Ketua Umum IATI ITB, Ir. I Made Dana Tangkas, M.Si., IPU, ASEAN Eng yang adalah alumni TI'84.

Dalam sambutan sekaligus paparannya, Made Tangkas yang juga Presiden Institut Otomotif Indonesia dan Founder & CEO IBIMA mengatakan tujuan webinar ketiga ini adalah langkah brainstorming dan sharing tentang solusi kebijakan dan strategi untuk mendukung perkembangan industri transportasi dan supply-chain yang secara konsisten akan tetap menjaga secara ketat protokol kesehatan bagi masyarakat penggunanya.

Made yang juga Chairman Komite Tetap Industri Logam, Permesinan dan Alat Transportasi (Darat, Laut dan Udara) juga menyoroti kinerja industri yang kini merosot beroperasi hanya sekitar 20%-50%, peningkatan pengangguran dan jutaan tenaga kerja di dirumahkan dan terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) serta jutaan UMKM dan IKM yang tidak bisa beraktivitas lagi.

Kondisi ini dikhawatirkan akan berimbas pada krisis ekonomi dan diperlukan segera upaya-upaya strategis dan taktis melakukan transformasi ekonomi, recovery dalam perspektif peningkatan demand and supply yang cepat serta tantangan untuk membantu industri membuka lapangan kerja dan penyiapan tenaga kerja (ahli) sesuai teknologi industri 4.0 yaitu dalam hal softskill, hardskill, business skill dan digital skill.

Sambutan kedua dari Ketua Umum Ikatan Alumni ITB, Ridwan Jamaluddin (alumni Geologi ITB '82) yang juga adalah Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur dan Transportasi Kemenko Kemaritiman dan Investasi.

Ridwan menjelaskan tentang dukungan riil pemerintah terhadap industri kendaraan listrik nasional, salah satunya dengan menerbitkan Peraturan Presiden no 55 tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai.

Secara operasional, hal tersebut diikuti dengan penyusunan peraturan-peraturan menteri terkait. Webinar ketiga ini menampilkan tiga pemateri yang merupakan pakar di industri transportasi dan logistik. Pemateri pertama yaitu Agus Edi Sudiarto (alumni TI 84), selaku VP Corporate Planning PT. Kereta Api Logistik (Kalog).

Agus memaparkan dampak nyata dari Covid-19 terhadap jasa logistik yakni antara lain turunnya pendapatan perusahaan akibat menurunnya permintaan pasar seperti angkutan batubara, angkutan containerized, pasar semen dan lain-lain. 

Strategi Kalog menghadapi pandemi Covid19, ungkap Agus dengan konsisten menerapkan protokol kesehatan dan keselamatan, pengembangan kerjasama sinergis, pengembangan organisasi, penciptaan nilai sepanjang rantai pasok bisnis, pengembangan sistem informasi, dan peningkatan kompetensi SDM.

Pemateri kedua yaitu Ir. Adrianto Djokosoetono, MBA (alumni TI 95), yang saat ini adalah Direktur Utama PT. Blue Bird/Ketua Umum DPP Organda.

Adrianto memaparkan dampak kerugian yang ditimbulkan korona terhadap industri transportasi darat Indonesia di mana Angkutan Kota Dalam Provinsi (AKDP) mengalami kerugian paling besar per bulannya hingga Rp 3,3 Triliun di banding sektor transportasi darat lainnya (Angkutan Kota Antar Propinsi (AKAP), Antar Jemput Antar Propinsi (AJAP), Pariwisata, Taksi, Angkutan Kota (Angkot), dan Angkutan Lingkungan (Angling).

Total kerugian per bulan untuk semua industri transportasi darat kata dia diperkirakan mencapai 9 Triliun rupiah. Sektor ini mengharapkan dukungan dari pemerintah berupa relaksasi pajak, pinjaman, pengurangan Pajak Kendaraan Bermotor, relaksasi PNBP perizinan, pembayaran premi BPJS, dan BLT untuk pengemudi dan tunjangan kerja pendukung.

Dari sekian tuntutan tersebut, hanya relaksasi pajak saja yang telah diterapkan secara penuh. Sementara untuk Pajak Kendaraan Bermotor, masing-masing pemda memberikan respon yang berbeda-beda.

Pemateri ketiga yaitu Veranita Yosephine (alumni TI 96), yang saat ini menjabat sebagai Direktur Utama PT. Indonesia Air Asia.

Menurut Vera, merebaknya pandemi berdampak pada kelangsungan bisnis AirAsia Indonesia, di mana semua penerbangan AirAsia dihentikan sementara waktu selama periode hibernasi (1 April -18 Juni 2020).

"Barulah pada tanggal 19 Juni 2020, AirAsia membuka penerbangan secara bertahap dengan diawali penerbangan Jakarta-Denpasar, Jakarta-Medan, Surabaya-Kuala Lumpur, dan Medan-Kuala Lumpur," jelas Veranita Yosephine.

Menurut data BPS Indonesia, pada bulan Mei 2020, jumlah penumpang domestik menurun tajam 98,34% secara hitungan dari tahun ke tahun (year on year). Sedangkan penumpang internasional turun 99.18% (year on year).

Selama proses pemulihan krisis dan memasuki new normal, kata dia, keselamatan dan kesehatan karyawan dan penumpang menjadi prioritas utama AirAsia. Protokol kesehatan pun diterapkan dalam penerbangan (pengecekan staf, pembersihan kabin, social distancing penumpang) maupun dalam pelayanan dan setelah penerbangan (kontak minimal, pengungkapan segera, penghentian sementara pengarahan setelah penerbangan).

Sementara Radityo Harry Wibowo (alumni TI 97) selaku Sekjen IA TI ITB, menyampaikan bahwa rangkaian Webinar IA TI ITB ini merupakan wujud kontribusi komunitas Teknik Industri berupa pemikiran atau gagasan solusi selama menghadapi krisis pandemi Covid-19***

Editor : Markon Piliang