logo

Idul Adha Menggugah Banyak Orang Berkorban Dan Berempati Terhadap Sesama.

Idul Adha Menggugah Banyak Orang Berkorban Dan Berempati Terhadap Sesama.

Mensos Juliari P Batubara (kanan). (foto,ist)
31 Juli 2020 22:48 WIB
Penulis : Budi Seno P Santo

SuaraKarya.id - JAKARTA: Menteri Sosial (Mensos) Juliari P Batubara menghadiri acara penyembelihan hewan kurban di halaman Masjid Al Hikmah, di lingkungan Kantor Kementerian Sosial (Kemensos), di Jakarta, Jumat (31/7/2020).

Tahun ini, Kemensos melaksanakan kurban dengan menyembelih 41 ekor sapi, lebih banyak dibanding tahun sebelumnya yang hanya 26 ekor sapi dan seekor kambing.

Pada kesempatan itu, Mensos menyatakan, suasana Idul Adha tahun ini berbeda dengan tahun lalu. "Tahun ini Idul Adha kita lalui dalam suasana penuh keprihatinan dan pandemi yang masih tinggi. Namun, alhamdulillah justru jumlah hewan kurban lebih banyak," tuturnya.

Ini, lanjutnya, menunjukkan Idul Adha mampu menggugah lebih banyak orang untuk berkorban, berempati dan bersimpati terhadap sesama. Dikatakannya, rasa haru dan bangga, makin banyak yang terketuk hatinya untuk berkurban.

"Ini menunjukkan kuatnya semangat perlawanan terhadap situasi sulit yang sekarang sedang kita hadapi. Tidak ada kata menyerah terhadap krisis. Jadi bukan bentuk kesombongan," ungkapnya.

Mensos berharap, nilai-nilai mulia Idul Adha yang kental diwarnai dengan semangat rela berkurban dan pantang menyerah, menjiwai semua pegawai di jajaran Kemensos, dan secara umum kepada masyarakat luas.

"Kita semua harus bangkit. Terlebih kini Kemensos mendapatkan kepercayaan negara dalam menangani dampak pandemi Covid-19. Ini tercermin dari anggaran kita yang terus meningkat hingga lebih 2 kali lipat," ungkapnya.

Mensos menyerukan kepada jajarannya untuk mempertanggungjawabkan kepercayaan negara itu dengan terus meningkatkan kinerja.

"Anggaran kita besar namun realisasinya juga tinggi. Bahkan, Badan Pemeriksa Keuangan telah memberikan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP). Terus jaga dan tingkatkan kinerja. Jadikan WTP sebagai tradisi," tuturnya.

Editor : Dwi Putro Agus Asianto