logo

Harga Cengkih Dan Kopra Turun Di Ambon

Harga Cengkih Dan Kopra Turun Di Ambon

Foto: Antara
31 Juli 2020 11:31 WIB
Penulis : Yacob Nauly

SuaraKarya.id - AMBON: Harga hasil perkebunan Maluku berupa cengkih dan kopra yang ditawarkan para pembeli (pedagang pengumpul) di Kota Ambon bergerak turun disebabkan berbagai pertimbangan terutama arus transportasi yang berhubungan dengan aturan dalam rangka memutuskan penyebaran Covid-19 di daerah ini.

Hasil pantauan di lokasi transaksi hasil perkebunan di Jalan Setia Budi, Kawasan Rijoly, Kelurahan Batu gajah, Jumat, terlihat pembeli menawarkan harga cengkih sebesar Rp57.000/kg atau turun dari sebelumnya Rp59.000/kg, sedangkan kopra di patok Rp6.600/kg, atau turun dari Rp7.000/kg.

Sedangkan harga komoditi lain masih tetap bertahan seperti biji pala bundar Rp62.000/kg, fuli (pembungkus biji pala) Rp215.000/kg, dan coklat Rp27.000/kg.

"Kalau kopra yang terasa sekali, sebab minggu lalu sempat bergerak naik hingga mencapai Rp7.000/kg, namun sekarang turun lagi menjadi Rp6.600," kata seorang pedagang Evi.

Sedangkan untuk cengkih ini walaupun harganya bergerak turun tetapi selalu saja fluktuasi, kadang naik, kemudian turun lagi, dalam satu bulan ini terjadi perubahan harga sudah tiga kali, mulai dari Rp62.000/kg, kemudian turun menjadi Rp59.000, kemudian naik lagi Rp60.000, dan sekarang turun menjadi Rp57.000.

"Kalau coklat cukup baik, sebab hingga kini masih terus bertahan dengan harga Rp27.000 per kilogram," ujarnya.

Harga di Kota Ambon sesuai dengan harga yang ditetapkan di Surabaya, sebab hasil pembelian di Ambon akan jual lagi ke Surabaya sebagai pasar utama.

"Jelasnya, kami selalu memantau perkembangan harga di Surabaya, jadi kalau terjadi perubahan sudah pasti di Ambon juga berubah," ujarnya.

Evi menambahkan, kegiatan transaksi jual beli hasil perkebunan Maluku sekarang ini di Kota Ambon agak sepi, apalagi beberapa hari belakangan ini tidak ada kegiatan transaksi.

"Apalagi petani yang biasanya dari Pulau Ambalau, Buru dan sebagian dari Pulau Seram agak jarang datang melakukan transaksi, hal ini terkait dengan berbagai pertimbangan terutama arus transportasi yang berhubungan dengan aturan dalam rangka memutuskan penyebaran COVID-19 di daerah ini.

"Sebelum kondisi dan situasi virus corona ini, biasanya petani dari Pulau-Pulau membawa hasil panen mereka untuk jual di Ambon mempergunakan mobil-mobil truk, tetapi sekarang sepi," ujarnya.

"Kami juga sering tutup toko hingga tiga hari atau empat hari baru dibuka lagi, kalau ada petani yang menghubungi kami layani, sebab sudah terbiasa," tambahnya. (Antara)

Editor : Dwi Putro Agus Asianto