logo

Duka  Banjir Kota Sorong

Oleh:Yacob Nauly

Duka Banjir Kota Sorong

28 Juli 2020 09:04 WIB

SuaraKarya.id -  

Oleh: Yacob Nauly

Cuaca eksrem malam  itu Kamis 16 Juli 2020. Hujan deras turun membungkam  aktifitas  warga. Dalam tempo kurang dari satu jam, Kota Sorong  terendam air bah. Pendapat warga bermunculan. Ada yang berpendapat banjir itu selain karena hujan lebat. Tapi, juga  karena drainase  mandek  akibat  jeleknya  pengendalian banjir di daerah ini. Diperparah  oleh tidak siapnya  pemerintah  menangani bancana itu. Ujungnya, 7 jiwa melayang,  warga Kota Sorong berduka.

Padahal sudah  ada peringatan  Badan Meteorologi,Klimatologi dan Geofisika. Karena itu, warga menyayangkan  musibah banjir yang menjadi  langganan daerah ini setiap tahun. Sayangnya  tak ada tanggapan serius  para stakeholder terkait yang menangnai masalah ini.

Persoalan banjir di kota Sorong, Papua Barat bukan hal baru. Masyarakat di kota itu  makin sering dilanda  musibah ini. Bancana paling  dirasakan terjadi pada Kamis malam (16/7/2020) ketika ratusan  bahkan ribuan rumah terendam  banjir  berakibat  lima (5) warga meninggal  dunia.

 Kejadian yang sama  berulang pada  Jumat hingga Sabtu (25/7/2020), kota ini kembali diterjang  luapan air. Pada peristiwa  dua hari terakhir ini  banjir  dari drainase dan sungai meluap  menyebabkan  korban jiwa dua anak meninggal.

Satu  anak, Nanda Abiyam (6), terseret banjir hingga puluhan kilo meter. Lantas,  pencarian dilakukan 3 hari. Nanda  Abiyam, akhirnya  ditemukan Tim SAR  sudah tak bernyawa, mengambang di perairan pulau Sop, Distrik Sorong Kepulauan  pada Senin (27/7/2020) siang.  Sedangkan satu anak lainnya meninggal sebelum  Abiyam,  akibat kedinginan  saat banjir  pada Jumat malam (24/7/2020) lalu.

Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) menyebut penyebab banjir tahun ini adalah cuaca ekstrim. Buktinya, hujan deras  mengguyur kota Sorong pada Kamis  malam (16/7/2020) pukul  7.30 WIT dan  satu jam  kemudian  tumpahan air  membanjiri daerah ini. Hal yang sama pun terjadi lagi satu minggu kemudian atau  pada Jumat  pagi  hingga esoknya Sabtu (25/7/2020) siang.

Fenomena cuaca ekstrim yang melanda Sorong dan umumnya Indonesia sejak awal 2020 erat kaitannya dengan perkembangan perubahan iklim. Hal ini pun sesuai dengan proyeksi BMKG.

Menurut lembaga itu, seperti dilaporkan media massa, perubahannya telah dimulai pada 1900-an. Kepala BMKG Dwikorta Karnawati, mengutarakan curah hujan tertinggi terjadi pertama kali pada tahun 1918, kemudian berulang pada tahun 1950. Artinya, cuaca ekstrim berulang  setiap 30 tahun.

Kondisi ini menyebabkan permukaan tanah semakin menurun di bawah permukaan laut. saluran pembuangan  tersumbat banjir. Juga, disebabkan oleh banyak tempat pembuangan saluran air yang tersumbat di  Kota Sorong, Papua Barat.

Populasi sampah di kota Sorong, ini sering menumpuk di bagian hilir sungai. Genangan air dengan mudah muncul apabila alirannya tersumbat oleh sampah.

Juga, disebabkan oleh pencemaran limbah industri dan rumah tangga. Perilaku masyarakat dan industri yang gemar membuang limbah dan kotoran ke sungai  Remu di pusat Kota Sorong,  menyebabkan pendangkalan dan penyempitan pada aliran sungai.

Kemampuan sungai  Remu dan drainase di kota ini  dalam menampung dan mengalirkan air hujan kian menurun. Ditambah  salah tafsir masyarakat tentang sungai melanjutkan, konsepsi nilai budaya masyarakat  Sorong .

Masyarakat kota Sorong menjadikan sungai dan drainase sebagai tempat pembuangan sampah yang praktis dan murah. Kebiasaan warga seperti itu, semakin memperburuk keadaan lingkungan di kota ini.

Dari sudut pandang antropologis, kecenderungan masyarakat membuang limbah dan kotoran ke sungai telah menjadi adat dan kebiasaan sejak dulu kala, jauh sebelum adanya sarana dan prasarana sanitasi.

Kerugian dari banjir di kota Sorong, tentu saja menghasilkan konsekuensi bagi perekonomian setempat. Apa saja dampak negatif dari bencana banjir di kota Sorong. Banyak aktifitas ekonomi yang dipaksa terhenti selama bencana banjir terjadi.

  Daerah Aliran Sungai

Salah satu aspek yang kerap kali dilupakan masyarakat Kota Sorong. Antara lain, berkaitan dengan terjadinya banjir di daerah ini. Yakni,  sangat erat kaitannya  dengan kesatuan wilayah yang disebut  daerah aliran sungai (DAS).

DAS sendiri diidefinisikan sebagai satu hamparan wilayah di mana air hujan yang jatuh di wilayah itu akan menuju ke satu titik outlet yang sama, apakah itu sungai, danau, atau laut (Ahli Pengairan).

Jadi , jika air hujan yang jatuh di rumah  mengalir ke selokan dan menuju ke Sungai  Remu. Itu artinya, jika air sungai  Remu  meluap dan menggenangi dataran banjir di sekitarnya, maka  masyarakat  (air hujan dari pekarangannya ) punya  sumbangan besar  terhadap banjir di Kota Sorong.

 DAS berpotensi untuk memberikan kontribusi terhadap terjadinya banjir di bagian hilir DAS yang bersangkutan.  Dalam perspektif ilmu lingkungan, setiap warga  berpotensi menghasilkan eksternalitas negatif dari sisi hidrologi.

 Padahal, kumpulan aliran permukaan dari persil-persil lahan di wilayah DAS itu berakumulasi dan menyebabkan terjadinya banjir. Biaya eksternalitas itu ditanggung oleh warga yang kebanjiran. Antara lain,  dalam berbagai bentuk ketidaknyamanan, kerugian harta dan materi, bahkan korban  jiwa. Seperti yang terjadi saat ini di Kota Sorong,belakangan ini.

Para ahli menyebut,  dari perspektif tersebut, maka setiap warga,  harus  melakukan apa yang dalam ilmu lingkungan disebut sebagai internalisasi. Yaitu melakukan “sesuatu” di persil lahan yang dimiliki atau dikuasai. Sehingga, bagian air hujan yang jatuh di persil lahan warga menimbulkan eksternalitas negatif yang seminimal mungkin.

Suatu “daerah aliran sungai” atau DAS adalah sebidang lahan yang menampung air hujan dan mengalirkannya menuju parit, sungai dan akhirnya bermuara ke danau atau laut. Istilah yang juga umum
digunakan untuk DAS adalah daerah tangkapan air (DTA) atau catchment atau watershed.

Karena air mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang lebih rendah sepanjang lereng maka garis batas sebuah DAS adalah punggung bukit sekeliling sebuah sungai. Garis batas DAS tersebut merupakan garis khayal yang tidak bisa dilihat, tetapi dapat digambarkan pada peta.

 Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut salah satu faktor penyebab tanah longsor dan banjir bandang di kota Sorong. Antara lain, maraknya penambangan galian C di pegunungan belakang kota ini.

Galian  C

Lokasi galian C di belakang Kota Sorong,   cukup besar  memberikan sumbangan bagi  munculnya banjir  di kawasan  kota ini. Sejumlah pejabat di daerah ini  mengakui tidak memiliki pemetaan, khususnya lokasi – Galian C itu. Pemerintah  kota Sorong tak dapat berbuat banyak karena  berdasarkan UU Nomor 23 tahun 2014  tentang Pemerintahan Daerah disebutkan soal pertambangan sudah dikembalikan urusannya ke pusat.

Hal itu berakibat, pada munculnya  usaha-usaha  Galian C yang belakangan ini cukup meresahkan  warga  Kota Sorong dan sekitarnya. Pasaalnya, ketika musim panas  bertebaran debu di kota ini. Begitu sebaliknya ketika  hujan tiba  masalahnya adalah banjir yang memakan korban jiwa  dan  harta benda

Kepala  Dinas Lingkungan Hidup Kota Sorong, Kelly Kambu, ST.,M.Si, sebelumnya membenarkan  bahwa salah satu penyebab banjir di daerah ini karena  Galian C di belakang Kota Sorong. “Benar belakangan ini tumbuh usaha galian C di  pegunungan di belakang  Kota Sorong. Akibatnya, ketika  datang hujan tak ada lagi resapan  menyebabkan  air dari pegunungan sekitar  tumpah  membanjiri   kota ini,”kata Kelly.

Laporan dari warga  juga membenarkan  penyebab utama selain hujan lebat di hulu tapi juga karena  penebangan  hutan untuk perkebunan warga. Dan munculnya  tambang  Galian C, yang makin marak di Kota Sorong, belakangan ini.

Tambang  pasir dan batu di belakang  kota Sorong itu mendapat izin dari provinsi bukan  kewenangan  Pemerintah  Kota Sorong. “Ini yang menjadi masalah kenapa usaha  galian C itu seperti sulit  dihentikan oleh  Pemerintah Kota Sorong. Pasalnya, seperti itu terkait kewenangan yang   sudah dikembalikan ke pusat membuat daerah sulit mengontrol  sumber persoalan bajir ini

Banjir menyapu daerah-daerah yang   bertahun-tahun luput,  kini  air menggenangi hampir seluruh kota ini. Pasalnya,  banjir  mengakibatkan tumpahan air  mengalir ke mana-mana tanpa  ada penghalang. Atau, drainase  yang dapat menampung derasnya air dari pegungan setempat, sebelum  berakhir di laut.

Banjir  di kota ini juga  mendatangkan banyak potensi penyakit. Laman Direktorat Jendral Pengendalian Perubahan Iklim dari Kementerian Lingkungan Hidup memaparkan, banjir adalah momen di mana serangga penyebar penyakit marak bereproduksi.

Dengan kondisi seperti ini, kasus penyakit seperti malaria dan demam berdarah dengue  bisa menjadi ancaman  bagi masyarakat kota Sorong dan sekitarnya. Apalagi ditambah dengan  serangan Covid-19 yang menjadikan  kota Sorong daerah merah, di Papua Barat.

Sementara kondisi ekstrim lingkungan mempengaruhi daya  tahan tubuh manusia sehingga mudah sekali menjadi sakit. Buktinya, banjir  pada Sabtu (25/7/2020 menyebabkan  seorang anak meninggal  tersebut karena kedinginan.

Kesimpulan  di akhir tulisan ini. Sumber  banjir di Kota Sorong tanggung   jawab  seluruh warga.  Sampah yang tidak terkelola , selain   mencemari lingkungan  besar kemungkinan  akan masuk ke badan air termasuk drainase  bahkan sungai. Hal ini membuat  kapasitas daya tampung air menurun dan  menyebabkan banjir.  (Sumber bacaan dari berbagai media massa dan observasi lapangan).

Terima kasih. ***

* Yacob Nauly - Wartawan Suara Karya Pemegang Kartu UKW Dewan Pers

Editor : Gungde Ariwangsa SH