logo

GAPKI Sebut Permintaan Domestik Tutupi Lesunya Pasar CPO Global

GAPKI Sebut Permintaan Domestik Tutupi Lesunya Pasar CPO Global

10 Juli 2020 16:24 WIB
Penulis : Laksito Adi Darmono

SuaraKarya.id - JAKARTA: Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), mengatakan, dibandingkan dengan bulan April 2020, produksi CPO pada bulan Mei sebesar 3.616 ribu ton atau turun 1,9%, konsumsi dalam negeri turun 1,6% menjadi 1.380 ribu ton, ekspor turun  8,3% menjadi 2.428 ribu ton.

Harga CPO juga masih menunjukkan penurunan dari rata-rata USD 564 pada bulan April  menjadi USD 526 per ton-Cif Rotterdam pada bulan Mei.

Demikian juga dengan nilai ekspornya, turun USD 165 juta dari USD 1,64 miliar menjadi USD 1,47 miliar.   

Apabila dibandingkan Januari-Mei 2019, produksi CPO dan PKO Januari-Mei 2020 adalah 19.001 ribu ton atau 14% lebih rendah, konsumsi dalam negeri adalah 7.334 ribu ton atau naik  3,6 %, volume ekspor adalah 12.736 ribu ton atau turun 13,7% tetapi nilai ekspornya  naik dari USD 7.995 juta USD menjadi USD 8.437 juta. 

“Produksi bulan Mei yang lebih rendah dari bulan April 2020 diduga masih disebabkan efek kemarau panjang 2019 dan pengaruh musiman,” ujar Mukti Sardjono, Direktur Eksekutif GAPKI dalam keterangan tertulis, Jumat (10/7/2020).

Konsumsi Domestik Naik

Mukti menyebutkan, konsumsi dalam negeri secara total masih positif di tengah berlakunya PSBB. 

Salah satu peningkat konsumsi  adalah oleokimia yang naik 31,4% . Konsumsi biodiesel juga meningkat sebesar 23,2%.  Hal ini didukung oleh kebijakan pemerintah yang konsisten dalam implementasi program B30.

Penurunan ekspor terutama terjadi pada refined palm oil yang secara umum disebabkan oleh selisih harga minyak sawit dengan minyak kedelai yang kecil. 

Penurunan ekspor bulan Mei terbesar  terjadi dengan tujuan China sebesar 87,7 ribu ton (-21%), ke EU sebesar 81,5 ribu ton (-16,62%), ke Pakistan sebesar 47 ribu ton (-23,4%) dan ke India sebesar 38,6 ribu ton (-9,2%). 

Penurunan ekspor ke China mungkin juga disebabkan meningkatnya crushing oilseed (khususnya kedelai) yang cukup besar sehingga pasokan minyak nabati China tinggi.

Meskipun terjadi penurunan ekspor ke beberapa negara, ada beberapa negara tujuan ekspor yang menunjukkan kenaikan seperti Mesir dengan 42 ribu ton atau naik 81% dari ekspor April 2020, Ukraina dengan 31 ribu ton (+99%), Filipina dengan 29 ribu ton (+73%), Jepang dengan 19 ribu ton (+35%) dan ke Oman engan 15 ribu ton (+85%).

Seiring dengan pulihnya kegiatan ekonomi China, India dan banyak negara lain, Mukti berharap permintaan minyak nabati untuk kebutuhan domestiknya juga mulai naik.

"Kegiatan ekonomi Indonesia juga sudah mulai pulih sehingga kedepan permintaan minyak sawit untuk pangan juga akan naik mengikuti permintaan oleokimia dan biodiesel," ujarnya. ***

Editor : Laksito Adi Darmono