logo

Peta Pilkada Di Indramayu Dinamis, Nama Hj Ami Menguat

Peta Pilkada Di Indramayu Dinamis, Nama Hj Ami Menguat

Toto Izul Fatah (istimewa)
10 Juli 2020 12:40 WIB
Penulis : B Sadono Priyo

SuaraKarya.id - INDRAMAYU:Bakal calon Bupati Indramayu, Hj Ami Anggraeni sangat potensial bisa menyalip kandidat terunggul sementara, Daniel Mutaqin Syaifudin (DMS) pada kontestasi pemilihan kepala daerah (Pilkada) Indramayu Desember 2020 mendatang.  Peluang itu terjadi jika Ami yang juga kader Golkar itu maju sebagai calon yang diusung sejumlah parpol diluar Golkar yang tergabung dalam koalisi perubahan.

Demikian disampaikan peneliti LSI Network Denny JA, Muhammad Khotib kepada pers usai acara Konferensi Pers bertema “Peta Preferensi Pemilih Jelang Pilkada Indramayu 2020” di Indramayu.

Dalam siaran persnya, Jumat(10/7/2020), kegiatan tersebut dihadiri sejumlah pimpinan parpol di Indramayu, antara lain, PKB, PSI, PKS, dan Hanura.

“Dari temuan data survei LSI, Daniel yang kemungkinan akan diusung Golkar itu memang masih memimpin elektabilitas dalam berbagai simulasi jumlah calon. Namun, Daniel belum masuk dalam kategori matahari tunggal, sehingga masih sangat terbuka peluang buat calon lain untuk menyalip dan mengalahkannya,” jelas Khotib.

Menurut Khotib, salah satu figur yang punya potensi menyalip Daniel itu adalah Ami Anggraeni, calon yang juga sama-sama kader Golkar. Meskipun, posisi elektabilitas Ami masih dalam kategori  4 besar bersama Taufik Hidayat, Plt Bupati saat ini dan Toto Sucartono dari independen. Hanya, “PR” besar Ami itu masih rendahnya tingkat pengenalan sebagai salah satu hukum besi untuk menang.

Namun begitu, kata Khotib, Ami punya tingkat kesukaan yang cukup tinggi, yaitu sekitar 60%. Dengan kata lain, publik yang kenal Ami rata-rata suka. Ini biasanya menjadi modal penting seorang calon untuk menang. Lebih baik calon yang pengenalannya rendah, tapi kesukaannya tinggi. Ketimbang calon yang pengenalannya tinggi, tapi kesukaannya rendah. Ini biasanya gambaran buruk seorang calon karena orang yang mengenalnya tidak otomatis suka.

“Buat calon yang seperti Ami, tinggal bagaimana memassifkan pengenalan, karena bahan disukainya tinggi. Sehingga, jika Ami sudah memiliki tingkat pengenalan yang sama dengan Daniel, apalagi kalau lebih, posisi elektabilitasnya sangat potensial bisa menyalip Daniel. Sekarang Daniel masih unggul karena pengenalannya masih diatas Ami,” jelasnya.

Survei dilakukan pada 25 – 30 Juni 2020 dengan menggunakan metode standar; multistage random sampling, wawancara dilakukan dengan tatap muka dan jumlah responden 440, dengan margin of error4,8%.

Dalam berbagai simulasi jumlah kandidat, mulai dari 39 calon, 19 calon, 17 calon, 13 calon, 10 calon dan 6 calon,  belum ada kandidat yang memiliki elektabilitas moncer. Semua dukungan pemilih masih relative merata ke sejumlah figur. Kecuali, salah satu calon yang potensial didukung Golkar, Daniel Mutaqin Syafiudin (DMS), yang elektabilitasnya selalu diatas figure lain.

Pada simulasi 19 calon, misalnya, Daniel unggul dengan 19,3%, untuk 17 calon  unggul 22%  dan dikerucutkan ke 6 calon naik ke 26,6%. Sementara, lima besar dibawah Daniel untuk simulasi 17 calon, ada Taufik Hidayat (12,5%), KH. Syatori (10,9%), H. Ami Anggraeni (9,1%), H. Syaefuddin (4,1%).

Pada simulasi 6 calon, sejumlah figure dibawah Daniel  mengalami kenaikan meski tidak signifikan. Taufik Hidayat (17,3%), Hj. Ami Anggraeni (11,6%), H. Syaefuddin (7,0%), Nina Agustina Bachtiar (5,5%) dan Muhammad Sholihin (1,4%). Ada sekitar 30,6% mengaku tidak tahu dan tidak jawab (swing voter).

Dari simulasi diatas, sejumlah figure yang masuk dalam kategori lima besar, sangat potensial bisa menyalip dan mengalahkan Daniel. Meskipun, dari lima calon tersebut kemungkinan ada juga yang akan digaet Daniel sebagai calon wakilnya. Apalagi, Daniel dari parpol besar pemegang jumlah kursi terbanyak, 22 kursi DPRD.

Terbukanya peluang buat calon lain, khususnya Ami untuk mengalahkan Daniel juga tergambar dalam beberapa variabel penting yang terpotret dalam survei. Salah satu isu negatif para calon yang dipersepsi publik. Ini juga yang potensial terjadi pada Daniel yang sangat rawan ter-downgrade,alias potensial merosot elektabilitasnya dengan beberapa catatan, misalnya, menguatnya secara massif persepsi negatif atau buruk terhadap Daniel.

Hal itu terungkap dari temuan survei pada pertanyaan tentang isu negatif para calon. Dari sejumlah figur, Daniel termasuk salah satu yang punya potensi rawan dipersepsi negative oleh public di Indramayu. Dan dari temuan survei, isu-isu negative yang terpotret itu punya pengaruh cukup besar yang bisa merontokan elektabilitasnya. Tentu dengan catatan, jika isu-isu negative tersebut diketahui mayoritas public dan dipercaya public. Sebab, bisa saja, isu negative itu beredar tapi public tak mempercayainya.

Money Politic dan Tsunami Politik

Sementara itu, Toto Izul Fatah, Direktur Eksekutid Citra Komunikasi LSi Network Denny Ja mengatakan, dari pengalaman LSI melakukan ratusan kali survei di seluruh Indonesia, ada dua hal yang biasanya punya daya rusak pilihan public terhadap calon, sehingga hasil survei pun meleset.  Pertama, money politic dan kedua, tsunami politik. Salah satunya, tiba-tiba calon tertentu terlibat kasus moral yang heboh seperti asusila, narkoba atau terjerat kasus korupsi dan lain-lain. Tentu, jika mayoritas  public tahu dan percaya terhadap isu-isu negative tersebut.

Begitu juga dengan money politic. Dalam temuan survei LSI, ada kecendrungan pragmatis prilaku pemilih di Indramayu yang menganggap money politic itu sangat wajar (6,8%) dan cukup wajar (50,0%). Jika digabung lebih dari 50% public di Indramayu menganggap wajar money politic. Dengan kata lain, mayortas warga di Indramayu senang dan suka jika ada wakil yang melakukan money politic.

“Ini juga tergambar dari pengakuan public atas pengaruh money politic tersebut. Sangat berpengaruh (14,8%) dan cukup berpengaruh (38,0%). Biasanya, ini menjadi goodnews buat calon dengan kapital besar dan badnews buat calon yang bermodal pas pasan. Diluar kontek bahwa cara-cara kotor seperti itu akan merusak tatanam demokrasi yang sehat dan kuat,” ujar Toto Izul Fatah.

Dengan terjadinya dua hal tadi, money politic dan tsunami politik, kata Totot, bisa terjadi calon yang sekarang diunggulkan, pada saatnya rontok dikalahkan calon lain. Dan pada Pilkada Indramayu 2020 ini, potensi terjadinya dinamika dukungan masih sangat terbuka. Apalagi, dalam sisa waktu yang masih kurang lebih 5 bulan. Berbagai kemungkinan bisa terjadi.

Terutama, dalam kontek masih rendahnya rata-rata tingkat pengenalan para calon yang masih dibawah 70%. Padahal, untuk bisa menang itu, setiap calon harus memiliki tingkat pengenalan diatas 80%. Ini juga termasuk bagian dari salah satu hukum besi untuk menang. Secara teoritis, makin dikenal, makin punya potensi untuk dipilih. Begitu juga sebaliknya.

Variabel lain yang juga membuka peluang calon lain bisa kalahkan Daniel adalah Masih terbukanya kemungkinan para calon lain bisa kalahkan Daniel adalah jumlah pemilih yang masih 70,6% mengambang dan belum bertuan. Ini artinya, lahan luas pemilih yang masih bisa diperebutkan siapa saja. Begitu juga dengan elektabilitas pada strong supporternya (pemilih militant) rata-rata calon yang masih dibawah 10%.

Daniel sebagai calon dengan elektabilitas tertinggi, misalnya, baru mengantongi pemilih militant sekitar 7,3%, KH. Syatori 4,1%, Juhadi Muhammad 3,9%, Taufik  Hidayat 3,2%, Toto Sucartono 2,7%, Ami Anggraeni 2,5%, Kiai Abas 1,6%. Selebihnya dibawah 1%. Biasanya, calon yang aman melenggang untuk menang itu strong supporter nya harus 25% ke atas.

“Yang harus diwaspadai Daniel, jika terjadi aliansi dukungan mayoritas parpol yang sepakat mengusung pasangan calon dengan isu Perubahan. Apalagi, Daniel dipersepsi sebagai figur yang merepresentasikan dinasti dan incumbent karena sosok ayahnya, Irianto Syaifudin (Yance) dan Ibunya (Anna). Sehingga, potensial memunculkan common enemydengan constrasting figure status quo versus perubahan,” pungkas Tot

Editor : Dwi Putro Agus Asianto