logo

Jual BB Narkotika, Tiga Oknum Aparat BNN Dituntut 18 Tahun Penjara

Jual BB Narkotika, Tiga Oknum Aparat BNN Dituntut 18 Tahun Penjara

JPU Theodora Marpaung SH MH saat bacakan tuntutan
07 Juli 2020 20:36 WIB
Penulis : Wilmar Pasaribu

SuaraKarya.id - JAKARTA: Tiga oknum aparat Badan Narkotika Nasional (BNN),  di antaranya dua okum polisi dan satunya lagi Aparat Sipil Negara (ASN) yang diduga terlibat penjualan barang bukti (BB) narkotika dituntut masing-masing 18 tahun penjara oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Theodora Marpaung SH MH, Selasa (7/6/2020) di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Utara.

Ketiga terdakwa masing-masing Abdul Muin, Sumanto dan Marco dinyatakan terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana menjual barang bukti narkotika hasil sitaan BNN ke pasar gelap barang haram ibukota Jakarta, terutama ke tempat-tempat hiburan.

Selain pidana penjara yang cukup berat itu, ketiga terdakwa juga diwajibkan membayar denda masing-masing Rp1 miliar atau menjalani kurungan selama satu tahun. Hal-hal yang memberatkan ketiga terdakwa,  mereka paham betul narkotika tersebut barang terlarang untuk dijual, dan mereka paham pula akan ketentuan perundang-undangan yang melarangnya. Tidak itu saja, ketiga terdakwa pula yang mengurusi barang haram tersebut agar jangan sampai disalahgunakan orang lain, namun kenyataannya justru ketiga terdakwa memasoknya ke pasar gelap.

Padahal, ketiga terdakwa juga tahu akibat yang terjadi jika narkotika jenis shabu seberat 3,7 kilogram itu sampai dikonsumsi, termasuk oleh generasi muda. Akibatnya bisa saja over dosis atau menjadi ketergantungan hingga hancur masa depan para pengguna tersebut.

“Ketiga terdakwa terbukti melanggar pasal 114 ayat 2 UU tentang Narkotika,” demikian JPU Theodora Marpaung dalam tuntutannya yang dibacakan di hadapan majelis hakim PN Jakarta Utara pimpinan Dodong Iman Rusdani SH MH.

JPU dalam requisitornya menyebutkan bahwa shabu barang bukti yang ditransaksikan ketiga oknum itu tidak kurang dari 3,7 Kg senilai miliaran rupiah atau ditawarkan dengan harga Rp 1.250.000/garamnya.

Terbongkarnya aksi kejahatan trio tersebut setelah Satuan Narkoba Polda Metro Jaya mendapat informasi dari masyarakat. Antara lain Budi Hutapea, dia menyebutkan bahwa terdakwa Marko duluan ditangkap di wilayah Sunter, Jakarta Utara, sekitar September 2019.

Setelah kasus Marko dilakukan penyelidikan dan  penyidikan selanjutnya dilakukan pengembangan kasus, lalu pihak BNN yang diwakili Kombes Pol Widodo menyerahkan terdakwa Abdul Muim dan Sumanto ke penyidik Satnarkoba Polda Metro Jaya.  Aparat Polda Metro Jaya tidak menangkap terdakwa Abdul Muim dan terdakwa Sumanto, tapi diserahkan satuan intern BNN, dimana keterlibatan kedua terdakwa dengan Marko adalah adanya beberapa  pembicaraan lewat chat terkait narkotika, dan bukti transferan uang dari tetdakwa Marko ke Abdul Muim dan ke Sumanto. 

Menanggapi tuntutan JPU yang cukup berat itu, salah seorang penasihat hukum terdakwa Fery Juan SH mengatakan tuntutan tersebut belum final. “Kami masih akan melakukan pembelaan pada persidangan berikutnya, semoga majelis hakim memutuskan lain dari tuntutan jaksa,” ujar Fery.

 

 

Editor : Gungde Ariwangsa SH