logo

Indonesia Bergoyang, Gempa Berkali-kali Mengguncang Dari Jepara, Banten Hingga Bengkulu

Indonesia Bergoyang, Gempa Berkali-kali Mengguncang Dari Jepara, Banten Hingga Bengkulu

07 Juli 2020 15:55 WIB
Penulis : Gungde Ariwangsa SH

SuaraKarya.id - JAKARTA: Gempa berkali-kali mengguncang Indonesia, Selasa (7/7/2020), dari lokasi yang berbeda. Dua di Pulau Jawa dan satu di Sumatera. Salah satu getaran gempa sampai wilayah Jabodetabek sehingga membuar riuh warga. 

Gempa berkekuatan magnitudo di atas lima  mengguncang tanah air. Gempa dengan magnitudo 5,2 mengguncang wilayah Enggano, Bengkulu. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan, gempa Bengkulu terjadi pada Selasa (7/7/2020) pukul 13:16:22 WIB.

Pusat gempa berada di 250 km tenggara Enggano, Bengkulu atau pada koordinat 7.47 lintang selatan (LS) dan 103.02 bujur timur (BT).

BMKG memastikan, gempa dengan kedalaman 10 km ini tidak berpotensi tsunami. Kendati, belum ada laporan resmi terkait dampak yang ditimbulkan dari gempa tersebut. "Hati-hati terhadap gempa susulan yang mungkin terjadi," tulis BMKG di situs resminya. 

Seperti dilaporkan liputan6.com, dalam waktu yang berbeda, gempa bumi berturut-turut mengguncang Pulau Jawa, Selasa (7/7/2020). Wilayah Pangandaran, Jawa Barat diguncang gempa dengan kekuatan magnitudo 5. BMKG melaporkan, gempa Pangandaran terjadi pada pukul 12:17:52 WIB. 

Pusat gempa berada di 234 km barat daya Kabupaten Pangandaran atau koordinat 9.42 lintang selatan (LS) dan 107.27 bujur timur (BT). BMKG memastikan, gempa dengan kedalaman 10 km itu tidak berpotensi tsunami. Namun hingga berita ini ditulis, belum ada laporan terkait dampak yang ditimbulkan dari gempa Pangandaran.

Sebelumnya, mengguncang wilayah Rangkasbitung, Banten dengan kekuatan magnitudo 5,4. Gempa pada pukul 11:44:14 WIB ini juga terasa hingga Jakarta, Depok dan sekitarnya. BMKG menyatakan getaran itu disebabkan gempa berkekuatan Magnitudo 5,4

"Pusat gempa berada di 18 km barat daya Rangkas Bitung, Banten, 95 km barat daya Jakarta,
dengan kedalaman 82 Km,” tulis BMKG. "Gempa tidak berpotensi tsunami,” ucap BMKG.

Pagi hari, gempa berkekuatan magnitudo 6,1 mengguncang wilayah Jepara, Jawa Tengah pada Selasa pukul 05.54.44 WIB. Berdasarkan analisis BMKG, gempa tektonik dengan magnitudo 6,1 yang terjadi di wilayah Laut Jawa pada Selasa pukul 05.54.44 WIB tidak berpotensi tsunami.

"Episenter gempa bumi terletak pada koordinat 5,77 LS dan 110,64 BT atau tepatnya berlokasi di laut pada jarak 85 km arah utara Mlonggo, Jepara, Jawa Tengah pada kedalaman 539 km," kata Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono dalam keterangan pers yang diterima di Jakarta, Selasa (7/7/2020) dilansir Antara.

Berdasarkan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, menurut dia, gempa bumi tersebut termasuk jenis gempa dalam. Gempa ini terjadi akibat adanya deformasi atau penyesaran pada lempeng yang tersubduksi di bawah Laut Jawa.

Rahmat mengatakan, hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi itu memiliki mekanisme pergerakan turun (normal fault).

Menurut dia, getaran gempa tersebut dirasakan di daerah Karangkates, Nganjuk, Yogyakarta, Purworejo, Kuta, dan Mataram pada skala III MMI, dirasakan nyata dalam rumah dan terasa seperti ada truk berlalu.

Getaran akibat gempa juga dirasakan di Denpasar, Malang, Lumajang, Tulungagung, Blitar, Ponorogo, Pacitan, Surabaya, Wonogiri, dan Kebumen pada skala II-III MMI.

Selain itu, gempa tersebut getarannya dirasakan di Banjarnegara, Pangandaran, Karangasem, Lombok Barat , Garut, Boyolali, Krui, Sekincau, Semaka, Pekalongan, Banyumas, wonosobo, Magelang, Purbalingga, dan Gianyar pada skala II MMI getaran yang dirasakan oleh beberapa orang dan membuat benda-benda ringan yang digantung bergoyang.

Menurut Rahmat, hingga saat ini belum ada laporan mengenai kerusakan yang terjadi akibat gempa bumi tersebut. Hasil monitoring BMKG menunjukkan hingga pukul 06.50 WIB belum menunjukkan ada aktivitas gempa bumi susulan.

Rahmat mengimbau warga tetap tenang serta memeriksa bangunan tempat tinggal untuk mengetahui dampak gempa dan menghindar dari bangunan yang retak atau rusak akibat gempa. ***

Editor : Gungde Ariwangsa SH