logo

Jor-joran Promosi Medsos Di Musim Pandemi, Wishnutama Dianggap Hamburkan Anggaran Sia-sia

Jor-joran Promosi Medsos Di Musim Pandemi, Wishnutama Dianggap Hamburkan Anggaran Sia-sia

06 Juli 2020 23:01 WIB
Penulis : Syamsudin Walad

SuaraKarya.id - JAKARTA: Tak terdengar dan tak terlihat kinerjanya, ternyata Menparekraf Wishnutama asyik sendiri berselancar di media sosial (medsos). Berdalih untuk kegiatan promosi pariwisata, menteri yang mengawali karirnya dari televisi ini justru menghabiskan anggaran hingga puluhan  milyar untuk sekadar promosi yang tidak terlalu signifikan di musim pandemi. Terlebih dengan memakai jasa buzzer asing pula.

Seperti diketahui di tengah wabah covid-19 ini, sebagian besar negara membatasi warganya untuk berpergian ke luar negeri. Tak banyak pula orang berpikir wisata ke luar negaranya di tengah covid-19 yang masih mewabah. Jadi kegiatan promosi pariwisata besar-besaran tak terlalu berdampak pada kunjungan wisman.

Tapi, Wishnutama malah jor-joran promosi di tengah pandemi, lihat saja anggaran fantastisnya untuk promosi:

https://lpse.kemenpar.go.id/eproc4

Kemenparekraf harusnya mampu menempatkan besar anggaran dari setiap program kegiatannya secara proporsional.

"Anggaran untuk publikasi sosial media yang mencapai hingga puluhan milyard rupiah sangatlah tidak efektif, cenderung mubazir,  yang menunjukkan kurang pekanya Menparekraf Wishnutama di dalam melihat kondisi sesungguhnya dilapangan dari sektor pariwisata saat ini," kata Taufan Rahmadi, aktifis pariwisata yang juga pendiri Temannya Wisatawan.

"Harusnya budget Kemanparekraf bisa dititikberatkan pada memberikan bantuan yang lebih banyak kepada para pelaku parekraf yang terkena dampak serta  program pembenahan dan penguatan destinasi. Bukan tidak boleh untuk promosi , tapi harus diukur efektifitasnya dan seberapa jauh output yang dihasilkan," tegas Taufan.

Lebih jauh Taufan berharap Presiden Jokowi  dapat mengevaluasi kebijakan-kebijakan dari Menparekraf yang tidak menunjukan sense of crisis di tengah suasana pendemic ini. "saya yakin anggaran dari publikasi sosmed yang mencapai puluhan milyard ini bukanlah contoh kebijakan yg extraordinary seperti yang diharapkan Presiden," ujarnya.

"Sekali lagi harusnya kemenparekraf lebih fokus untuk membantu pelaku usaha pariwisata, UMKM pariwisata, pekerja pariwisata agar mereka bisa survive di tengah pandemi covid-19 ini. Jangan sampai usaha mereka terpuruk dan tak bisa bangkit," kata Taufan.

Selain itu ketimbang anggarannya untuk kegiatan promosi yang tidak terlalu manfaat di tengah wabah ini, Taufan menyarankan agar anggaran dimanfaatkan untuk kesiapan destinasi. Mengembalikan destinasi, membangun kembali destinasi sesuai standar protokol kesehatan dari WHO. Agar saat wisman datang destinasi sudah siap.

"Jadi ada dua fokus yang harus dilakukan Kemenparekraf. Pertama membantu pelaku usaha, UMKM pariwisata dengan stimulus ekonomi agar bisa bangkit. Kedua membangun kesiapan destinasi. Ini sebenarnya fokus yang utama, jangan dulu anggaran dikucurkan besar-besaran untuk promosi di medsos. Sebanyak-banyaknya promosi kalau negara-negara di dunia masih membatasi warganya untuk keluar karena wabah, maka usaha promosi tetap akan sia-sia," kata Taufan.

Sementara itu pelaku pariwisata lainnya dari APSI Medan Wiki Syafril mengatakan selama ini untuk promosi pariwisata memang banyak menggunakan buzzer. Tapi di tengah pandemi ini ia berharap anggaran itu bisa ditujukan untuk insan pariwisata dalam negeri.

 "Kalau medsosnya dari pelaku usaha pariwisata di dalam negeri, buat saya tidak apa. Itu dibagi-bagi. Itukan stimulus mereka juga di tengah covid-19. Tapi kalau anggarannya untuk perusahaan besar, apalagi perusahaan luar negeri, buzzer internasional, tentu kami tidak setuju. Kan seperti pak Jokowi bilang, anggaran itu harus dimanfaatkan di dalam negeri dulu sebagai dampak covid-19," ujar Wiki.

Wiki juga menyesalkan kalau memang ada anggaran yang cukup besar itu untuk media asing. Padahal di dalam negeri sendiri masih banyak yang membutuhkan. "Kalau dilakukan saat belum ada pandemi, seperti yang lalu-lalu, itu ga masalah. Malah kita dukung. Tapi kalau saat pandemi seperti ini, nanti dulu lah,' kata Wiki.

Dalam laporan pengeluaran di Kemenparekraf per tanggal 6 Juli 2020, memang ada item yang cukup besar untuk belanja promosi media asing. Seperti publikasi untuk media elektronik internasional sebesar Rp 10 M, publikasi media cetak internasional paket II Rp 995 juta, media cetak Internasional Paket I Rp 1,5 M, publikasi pada mesin pencari internasional Rp8 M dan banyak lagi. Hal ini tentu sangat di sayangkan. Semoga ini jadi perhatian Presiden Joko Widodo.

Editor : Gungde Ariwangsa SH