logo

Terapkan AKB, Pemkot Bogor Waspadai Konser Dan Pernikahan

Terapkan AKB, Pemkot Bogor Waspadai Konser Dan Pernikahan

04 Juli 2020 20:50 WIB
Penulis : Gungde Ariwangsa SH

SuaraKarya.id - JAKARTA: Wali Kota Bogor Bima Arya diminta untuk berhati-hati dalam membuka acara pernikahan di wilayah kota Bogor. Pemerintah Kota Bogor harus melihat pengalaman yang terjadi di Semarang. 

Permintaan itu diungkapkan oleh Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Doni Monardo ketika menerima kunjungan Wali Kota Bogor Bima Arya di Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jumat (3/7/2020). Dalam pertemuan itu, Doni mendengar kiat-kiat yang dilakukan Pemerintah Kota Bogor dalam melakukan penanganan Covid-19 pada fase Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB).

Merespon dari penjelasan Wali Kota Bima Arya, Ketua Gugus Tugas Nasional Doni Monardo menyambut baik upaya-upaya yang telah dilakukan Pemkot Bogor dalam rangka menangani dan menanggulangi pandemi Covid-19.

Kota Bogor sebagai salah satu wilayah penyangga Ibu Kota DKI Jakarta memang perlu menerapkan protokol kesehatan secara ketat, mengingat warga Kota Bogor juga sebagian besar merupakan para pelaju atau commuter dan mencari nafkah di Jakarta.

Dalam hal ini, Doni menyoroti beberapa hal. Pertama, Balitbang Kementerian Perhubungan (Kemenhub) masih melakukan penelitian terhadap permasalah yang masih terlihat, khususnya bagi aktivitas sehari-hari warga Kota Bogor ke Jakarta. Menurut Doni, masih adanya penumpukan warga seperti di stasiun KRL bukan karena kesalahan sistem shift kerja, melainkan kebijakan pemerintahnya. “Kesalahan itu bukan di shift, tapi kebijakan di tingkat pemerintah,” ujar Doni.

Dalam hal ini Gugus Tugas Nasional juga telah meminta agar Pemkot Bogor membicarakan mengenai hal tersebut dengan Kementerian PANRB dengan adanya perubahan pencatatan jam kerja. Kemudian untuk swasta, Doni menyarankan agar himbauan mengenai aturan protokol kesehatan terus dilakukan.

Kemudian yang kedua, Doni juga menganjurkan untuk kegiatan wisata alam dan taman nasional dengan risiko rendah Covid-19 dapat dibuka dengan aturan yang ketat. Tak terkecuali dengan kegiatan perhotelan, konser dan pernikahan dengan pesta.

Akan tetapi, menyinggung mengenai pernikahan, Doni meminta agar Pemkot Bogor harus berhati-hati dan melihat dari munculnya kasus Covid-19 "klaster pernikahan” seperti yang terjadi di Semarang. Oleh sebab itu, kegiatan yang sifatnya berkumpul harus diperketat. “Menjaga jarak adalah hal yang paling sulit dilaksanakan,” ungkap Doni.

Selain itu, Doni juga meminta agar Pemkot Bogor apat melihat keadaan wilayah tertentu dari zonasi warnanya, yang dalam hal ini dibagi menjadi 3 kriteria kesehatan dan diharapkan menjadi standar sesuai warna kebencanaan.

Dalam upaya pemulihan ekonomi dan kesehatan, Doni juga meminta agar hal itu dapat diatasi bersama-sama dan seimbang. Apabila dalam kegiatan ekonomi kemudian memunculkan kasus baru, maka supaya dihentikan kegiatannya.

“Gas dan  rem harus seimbang, antara ekonomi dan kesehatan,” ujar Doni.

Doni juga meyakinkan Wali Kota Bogor untuk lebih meningkatkan konsep kreatif seperti pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui sektor kuliner dan paduan dengan potensi alam, sehingga dapat menumbuhkan pundi-pundi pemasukan warga di daerah pinggiran. ***