logo

New Normal

New Normal

06 Juli 2020 00:01 WIB

SuaraKarya.id -  

Oleh: Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi

Tahapan new normal memberikan prospek terhadap geliat ekonomi pasca tiga bulan lalu sempat terseok akibat pandemi virus corona (Covid-19). Meski demikian di satu sisi new normal masih menyisakan tantangan terutama dikaitkan dengan ancaman klaster baru dan di sisi lain tidak ada pengeculian terhadap kemungkinan PSBB yang ada di sejumlah daerah. 

Oleh karena itu, pemberlakuan new normal memang memberikan dua kemungkinan, terlepas dari ancaman yang juga mengerikan. Setidaknya rentang waktu 3 bulan terakhir selaras dengan pemberlakuan lockdown, WFH, social distance, larangan mudik menjadi realita dibalik danpak sistemik terkait pandemi covid-19. Kasus ini tidak hanya terjadi di pusat tetapi juga di daerah, tidak hanya di perkotaan tapi juga di perdesaan sehingga berantai.

Kebijakan yang ditempuh pemerintah dengan melonggarkan melalui new normal terasa tidak mudah karena berimplikasi terhadap banyak aspek, meski di sisi lain pemerintah juga tidak bisa mengelak dari tuntutan untuk menggerakan roda perekonomian. Terkait hal ini maka perlahan tapi pasti dengan kebijakan new normal memang diharapkan bisa memacu geliat sektor riil secara perlahan. Setidaknya hal ini akan mereduksi terjadinya peningkatan pengangguran akibat himpitan berantai pasca pandemi covid-19. Padahal, implikasi dari akumulasi pengangguran juga tidak dapat terlepas dari ancaman kondisi kemiskinan, baik itu kemiskinan relatif ataupun kemiskinan absolut. Jadi bantuan sosial tunai yang digelontorkan pemerintah hanyalah bersifat sementara untuk mereduksi dari dampak sistemik pandemi covid-19.

Pertaruhan dibalik pelonggaran melalui new normal menjadi rancu jika kemudian yang terlihat adalah kemarahan Presiden kepada para menteri pembantunya. Setidaknya fakta yang ada menyiratkan betapa Presiden geram kepada sejumlah pembantunya di jajaran kementerian karena masih dianggap tidak serius mengatasi pandemi covid-19. Bahkan, kemarahan Presiden juga diisyaratkan dengan adanya ancaman reshuffle kabinet. Andai ini benar terjadi maka tentu menjadi cambuk untuk lebih memacu kinerja kabinet yang belum genap menuntaskan semua pekerjaannya. Padahal, belum lama kemarin Presiden juga direcoki dengan kiprah staf khusus yang sebelumnya dibanggakan karena dominan anak-anak muda dengan visi masa depan. Realitas yang terjadi justru sebaliknya karena ada dugaan memanfaatkan jabatan dan kemudian ketika kritik muncul dibarengi dengan aksi mundur dari jabatan.

Pelonggaran pasca pandemi covid-19 ini dengan kebijakan new normal tentu disambut positif masyarakat karena memungkinkan adanya interaksi positif dan sosialisasi yang lebih komprehensif melalui berbagai kegiatan produktif. Oleh karena itu, harapan nyata dari new normal adalah kebangkitan sektor riil yang kemudian berpengaruh kepada laju ekonomi sosial. Mata rantai yang diharapkan adalah geliat sektor riil bangkit, ekonomi mampu bergerak lebih cepat, prospek ekonomi menjadi respontif dan tentu daya tarik investasi meningkat sehingga pertumbuhan ekonomi tidak lagi negatif. ***

* Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi - Dosen Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Solo

Editor : Gungde Ariwangsa SH