logo

Kredit 218.179 Debitur Di Solo Raya Direstrukturisasi

Kredit 218.179 Debitur Di Solo Raya Direstrukturisasi

OJK Solo catat Kredit 218.179 debitur Di Solo Raya telah direstrukturisasi
30 Juni 2020 11:00 WIB
Penulis : Endang Kusumastuti

SuaraKarya.id - SOLO: Restrukturisasi debitur yang terkena dampak pandemi Covid-19 masih terus dilakukan Industri Jasa Keuangan (IJK). Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Solo mencatat hingga posisi tanggal 24 Juni, total debitur IJK di Solo Raya yang telah direstrukturisasi sebanyak 218.179 debitur dengan outstanding kredit sebesar Rp16,28 triliun.

"Jumlah debitur yang direstrukturisasi mengalami peningkatan sebesar 8,19 persen  dibandingkan posisi 10 Juni 2020," jelas Ketua OJK Solo, Eko Yunianto, Selasa (30/6/2020).

Kredit usaha mikro masih mendominasi jenis usaha debitur yang direstrukturisasi. Yakni sebesar 53 persen dari bank umum dan 49 persen dari BPR. Sedangkan untuk kredit usaha kecil debitur bank umum sebesar 32 persen, BPR sebesar 18 persen. Sisanya merupakan kredit menengah dan non UMKM.

"Dari total debitur yang direstrukturisasi itu, sebanyak 166.514 merupakan debitur perbankan dengan outstanding kredit sebesar Rp14,67 triliun. Jumlah ini mengalami peningkatan debitur sebesar 5,71 persen dan outstanding kredit sebesar 10,74 persen," jelasnya lagi.

Berdasarkan jumlah nominal kredit yang direstrukturisasi, perbankan di Kota Solo masih mendominasi yakni sebesar Rp6,40 triliun dengan jumlah debitur 29.791. Diikuti perbankan di Kabupaten Klaten sebesar Rp1,58 triliun dari 25.615 debitur dan Kabupaten Sukoharjo sebesar Rp1,54 triliun dari 22.691 debitur.

Restrukturisasi yang dilakukan IJK itu untuk menindaklanjuti kebijakan stimulus perekonomian seperti yang tertuang dalam POJK No. 11/POJK.03/2020 dan POJK No. 14/POJK.05/2020 dengan melakukan restrukturisasi terhadap debitur yang terdampak langsung atau tidak langsung penyebaran Covid-19.

Pada kesempatan yang sama Eko juga mengatakan sampai saat ini belum ada perbankan baik bank umum atau BPR di wilahah Solo Raya dalam pengawasan khusus bahkan kolaps.

"Belum ada, tapi kalau batuk-batuk sih ada, tapi itu saya anggap wajar, apalagi dalam situasi pandemi Corona seperti sekarang ini," katanya. ***

Editor : Markon Piliang