logo

Kamtibmas Kondusif Masyarakat Semakin Produktif : Renungan Di Hari Bhayangkara Ke 74

Kamtibmas Kondusif Masyarakat Semakin Produktif : Renungan Di Hari Bhayangkara Ke 74

29 Juni 2020 19:42 WIB

SuaraKarya.id - Oleh : Chrysnanda Dwi Laksana*

Pada masa pandemi Covid 19 situasi kehidupan sulit dalam jangka waktu yang tidak menentu. Kehidupan warga masyarakat di berbagai lini terdampak, produktifitas dari yang menurun sampai yang minus pun ada. Tatkala produktivitas terhambat maka kehidupan semakin sulit. Berbagai sektor usaha menengah ke bawah tak sedikit yang harus gulung tikar terutama pada kawasan pariwisata maupun berbagai jasa yang manual. Kondisi yg sulit ini akan berdampak pada munculnya berbagai potensi konflik.

Isu isu provokatif yang kontra produktif pun berhembus. Tatkala daya nalar tergerus dan emosi tak terkendali, design perusakkan sosial akan lebih mudah dilakukan. Apa yg menjadi isu di dalam masyarakat seolah diaspora yang muncul di mana mana dan sarat dengan primordialisme.

Kekuatan pada komunitas menjaga keteraturan sosial adalah mampu mengatasi provokasi dan menangkal hembusan kebencian. Yang dpt dibangun melalui solidaritas sosial. Untuk saling menjaga saling mengawasi saling menguatkan saling berbagi dan berbela rasa. Hidup dan kehidupan di masa new normal memerlukan spirit bangkit sebagai upaya recovary. Hadirnya kekuatan kekuatan sosial dalam kemitraan dan berbagai langkah solusi menjaga keteraturan sosial adalah menemukam apa yang menjadi solusi mengatasi pain point atau kesaktian/ kesulitan hidup warga masyarakat. Solusi cerdas di era new normal selain membiasakan hidup dengan standar protokol kesehatan adalah juga hidup dalam berbagai cara yang dapat dijalankan secara virtual.

Keteraturan sosial atau kamtibmas di era new normal dapat dibangun dalam komunitas maupun lalu lintas. Pada komunitas ini berbasis kepentingan untuk menghasilkan produksi sedangkan lalu lintas merupakan urat nadi pendukung aktivitas yang menghasilkan produksi. Suatu masyarakat dapat bertahan hidup tumbuh dan berkembang bila ada produktifitas yg dihasilkan dari aktivitas yang mobilitasnya melalui lalu lintas. Dengan demikian keamanan dan rasa aman merupakan bagian penting dibangun pada komunitas. Dan mewujudkan lalu lintas yang aman selamat tertib dan lancar.

Pada proses produktifitas tersebut ada ancaman hambatan gangguan yang menghambat bahkan mematikan produktifitas tersebut. Maka peran dan fungsi polisi melalui pemolisiannya adalah bagaimana mewujudkan dan memelihara keteraturan sosial di dalam komunitas maupun lintas. Pewujudan dan pemeliharan keteratuan sosial bukan semata mata secara aktual namun juga virtual. Model community policing atau polmas dapat menjadi strategi dan filosofi pemolisiannya untuk di lakukan secara proaktif dan problem solving. Membangun kemitraan dan mengutamakan pada pencegahan serta upaya upaya meningkatkan kualitas hidup masyarakat dengan terjaminnya keteraturan sosial pada lalu lintas maupun komunitas. Selain itu polisi dapat menjadi ikon cepat dekat dan bersahat dengan warga yang dilayani.

Di era new normal yg merupakan masa digital / era revolusi industri 4.0 model pemolisiannya adalah juga berbasis pada IT atau elektronik yang dibangun dalam sistem sistem sinergis yang saling terhubung (on line). Prinsip prinsip sistem online adalah adanya back office yang dapat berfungsi sebagai operation room atau control room sbg pusat k3i ( komunikasi koordinasi komando pengendalian dan informasi ). Yang juga berfungsi sebagai call and comand centre.

Di samping itu juga dilengkapi sistem sistem aplikasi yg berbasi artificial intellegent maupun net work yang berbasis internet of things. Sistem sistem tersebut dalam pemolisiannya dapat dikatakan sebagai Electronic policing sebagai model pemolisian di era digital.

Model penjagaan keteraturan sosial dlm komunitas maupun lalu lintas secara elektronik pada prinsipnya merupakan sistem sistem back office aplication maupun network yang salin terhubung yang dapat memonitor memantau berkomunikasi dan informasi serta solusi sebagai pelayanan kepada publik. Pelayanan kepolisian kepada publik mencakup : pelayanan keamanan, pelayanan keselamatan, pelayanan hukum, pelayanan administrasi, pelayanan informasi dan pelayanan kemanusiaan. Pada pelayanan pelayanan tersebut pada komunitas maupun lalu lintas di era pandemi  adalah untuk menyatukan dan mensinergikan seluruh stake holder sebagai soft power dlm solidaritas sosial.

Pelayanan kpd publik di era new normal dituntut adanya pelayanan yg prima ( cepat tepat akurat transparan akuntabel informatif dan mudah diakses). Melalui e poling pd komunitas maupun lalu lintas diharapkan segala sesuatu terpantau bahkan mampu menjebatani membantu proses recovery dan penjagaan keteraturan sosial. Era new normal jg banyak issue yg provokatif atau hoax di dlm era poat truth  yg berpotensi mwmbodoh2i mengaduk aduk emosi provokasi dan memicu konflik sosial. Melalui e policing sbg jembatan solidaritas sosial akan dpt dikihat dlm algoritmanya yg berupa info grafis, info statistik, info virtual yg real time dan dpt diakses scr on time maupun any time. Prediksi antisipasi dan solusinya dpt dilakukan scr holistik atau sistemik. Melalui siatem2 on line yg berbasis pd big data dan pelayanan prima maka tingkat profesional, kecerdasan, moralitas dan modernitas dpt scr simultan dibangun untuk adanya kepercayaan kpd publik. Keberhasilan polisi dalam pemolisiannya bukan semata mata pd pengungkapan kasus atau perkara melainkan juga mana kala keteraturan sosial / kamtibmas dapat terwujud dan terpelihara. Krn apapun alasan maupun pembenarannya segala sesuatu yg kontraproduktif itu social costnya sangat mahal dan dpt berdampak luas. Keamanan keselamatan ketertiban kelancaran semua demi kemanusiaan krn sumber daya manusia adalah aset utama bangsa yg hrs dijaga dicerdaskan dan trs ditingkatkan kualitas hidupnya.

Selamat hari Bhayangkara ke 74
Kamtibmas Kondusif Masyarakat Semakin Produktif.

*Brigjen Pol Chrysnanda Dwi Laksana PhD, Direktur Keamanan dan Keselamatan Korlantas Polri.

Editor : Dwi Putro Agus Asianto