logo

Tersangka Kasus BOII Sedang Pertimbangkan Upaya Hukum

Tersangka Kasus BOII Sedang Pertimbangkan Upaya Hukum

Bank BOII
06 Juni 2020 19:54 WIB
Penulis : Wilmar Pasaribu

SuaraKarya.id - JAKARTA: Salah seorang dari 21 tersangka dalam kasus perbankan yang membelit Bank of India Indonesia (BOII), Ferry Koswara (eks pimpinan KPO atau direktur operasional Bank Swadesi yang berganti nama menjadi BOII, mengaku sedang memikirkan langkah hukum terkait kasus yang menjeratnya. Namun sampai saat ini belum diputuskan apakah langkah hukumnya itu berupa praperadilan atau upaya hukum lainnya.

“Saya sedang koordinasi dengan tim legal. Kami para tersangka pun baru akan dipanggil untuk dimintai keterangan oleh penyidik Mabes Polri sekitar dua minggu mendatang,” ujar Ferry Koswara melalui telepon, Sabtu (6/6/2020).

Dia menyebutkan mereka yang sudah ditetapkan sebagai tersangka selalu kooperatif dan tidak lalai atas panggilan kepolisian. Dia berharap bisa diselesaikan kasusnya sebagaimana yang mereka inginkan dan harapkan.

Mantan Dirut BOII, R Sinbad Riyadi (tidak termasuk tersangka), menyebutkan bahwa permasalahan yang menjerat teman-temannya di bank itu berawal dari macet kredit nasabah pada tahun 2011. Bank pun akhirnya melakukan eksekusi lelang. “Kredit nasabah yang macet, tetapi 21 orang ditetapkan sebagai tersangka berkait permasalahan tersebut.” ujarnya.

Ketika ditanya bagaimana kalau dijerat juga korporasi atau perusahaan yang menaungi BOII, R Sinbad Riyadi enggan menjawabnya.  Dia mempersilakan menghubungi tim hukum BOII.

Ke-21 pengelola BOII mulai  dari eks direktur utama, direktur, komisaris  dan bekas pejabat kredit PT BOII telah ditetapkan jadi tersangka oleh Dit Tipideksus  Bareskrim Mabes Polri. Mereka diduga telah melakukan persekongkolan jahat yang mengakibatkan nasabah atau  saksi pelapor/korban Rita Kishore Kumar Pridhnani diduga mengalami kerugian akibat agunan pinjamannya dilelang tak sepengetahuannya dan harganya jauh sekali di bawah (harga) pasar.

Para pengelola BOII yang menjadi tersangka tersebut masing-masing atas nama 1. Prima Sura Pandu Dwipanata (eks AO/Direktur Kepatuhan Bank Swadesi/BOII), 2. Sri Budiarti (bekas Ka Legal), 3. Ny Lisawati (eks Dirut), 4. Prakas R  Chugani (bekas komisaris/pemilik Bank Swadesi), 5. Ny Olga Istandia (eks komisaris), 6. Ny Aminah (bekas Ka unit kredit), 7.Wikan Aryono (eks Direktur Operasional), 8.PK Bhiswas (bekas Wadirut), 9. LG Rompas (eks komisaris), 10. Gopal Krisna (eks Kaunit Kredit Korporasi), 11. Anil Bala (bekas Wadirut), 12. Rakesh Sinha (eks Dirut), 13. Lim Wardiman (bekas Direktur), 14. Banavar Anantharamajah (eks Komut), 15. Muhamad Yunan HE ( mantan AO), 16. Gatot Setiabudi (eks PJS pimpinan KPO), 17. Sunardi (bekas Admin Kredit), 18.  Sis Douantoro (eks Analis Kredit), 19. Siswantoro (bekas Kagrup Marketing), 20. Feri Koswara (bekas pimpinan KPO atau direktur operasional Bank Swadesi/BOII) dan 21. Ningsih Suciati SE.

Berdasarkan cacatan, yang terakhir ini Ningsih Suciati telah divonis pula lima (5) tahun penjara lantaran terbukti membobol Bank Yudha Bhakti. Saat ini, residivis kejahatan perbankan kelahiran Pekalongan Jawa Tengah itu telah didudukkan di kursi pesakitan  Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat.

Dalam dakwaannya, JPU Maylany Wuwung dan Sinta Dewi Hutapea, yang dibacakan Jaksa Ola dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Jakarta Pusat menyebutkan bahwa terdakwa Ningsih Suciati selaku Direktur Kredit dan Dirut BOII  telah melanggar ketentuan bank atas lelang objek jaminan yang merugikan PT Ratu Kharisma selaku debitur. "Perbuatan terdakwa Ningsih Suciati merupakan tindak pidana perbankan sebagaimana diatur dalam dan diancam dalam Pasal 49 ayat (2) huruf b UU RI No.7 Tahun 1992 tentang Perbankan sebagaiamana diubah dengan UU RI No.10 Tahun 1998 jo Pasal 64 ayat (1) KUHP," demikian Ola saat membacakan surat dakwaan.

Sidang akan kembali dilanjutkan pada Selasa (9/6/2020) mendatang dengan agenda mendengarkan keterangan saksi yang diajukan JPU. Hal itu dilakukan karena terdakwa maupun pembela tidak mengajukan eksepsi atau nota keberatan. "Kita berharap melalui persidangan akan terungkap semua fakta kejahatan terdakwa Ningsih Suciati dkk sehingga terbongkar semua para pelaku di BOII," kata kuasa hukum korban Rita, Dr Tommy S Bhail SH MH.

Menurut Tommy, adanya perkara ini jelas merusak dunia perbankan yang menurunkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap lembaga perbankan. "Ini  kejahatan korporasi. Bayangkan 9 tahun klien kami berjuang untuk mencari keadilan, perkara ini harus menjadi pembelajaran sehingga berharap tidak ada korban-korban lain ke depannya," katanya.

Editor : Gungde Ariwangsa SH